Demokrasi di Pasar Malam Den haag

KBRI Den Haag kembali tahun ini mengorganisir Pasam Malam Indonesia di lapangan Malieveld Den haag 20 s.d 24 maret 2013. Tidak ketinggalan, tema politik selalu ada dimana-mana, tak terkecuali di Pasar Malam Den haag. PPI Belanda bekerja sama dengan KBRI dan Kemkominfo menyelenggarakan seminar dengan tema “Lingkar inspirasi: Demokrasi Berkualitas” di arena pasar malam Den haag, 23 maret 2013 mendatang. Wow…diskusi demokrasi sambil menikmati  dahsyatnya“kuliner Indonesia ” pasti seru.

Kayanya akan berbagai jenis bumbu, bukan hanya manusianya yang unik beragam, namun makanannya pun juga plural. Bukan hanya manusia yang berdemokrasi, namun bumbu makanan juga berdemokrasi sehingga menghasilkan produk resep makanan yang khas satu sama lain. Lombok mesti mau bersama-sama dengan terasi, garam, bawang dst sehingga menjadi sambal yang enak tenan. Ikan tengiri harus mau bercampur dengan tapioca, bawang putih dst sehingga menjadi pempek yang mantep…J (maaf kalau resepnya kurang lengkap).

Bak bumbu, kombinasi parpol, ormas, atau apapun harus menghasilkan resep produk kesejahteraan yang bisa dinikmati oleh rakyat, dan bukan sebaliknya menghasil racun-racun kebijakan yang membunuh keadilan.

Pemilihan ketua RW/RT

Demokrasi  juga bisa belajar dari pemilihan ketua RT dan RW. Budaya timur secara aklamasi menunjuk ketua RT/RW tanpa ragu. Itupun yang ditunjuk seringkali mengelak. Mengapa warga bisa aklamasi dalam  pemilihan RT/RW? Ada 2 (dua) jawaban. Pertama karena tidak “basah”. Yang kedua warga mengenal dengan baik sosok pak RT/RW yang sehari-hari bergaul dengan warga. Tidak eksklusif.

Mengapa pemilihan kades sampai presiden tidak bisa aklamasi? Jawabannya juga 2 (dua). Karena posisinya basah. Yang kedua karena rakyat tidak mengenal baik masing-masing calon. Seorang calon kepala desa biasanya muncul ke masyarakat ketika mendekati pemilihan saja. akibatnya rakyat menjadi galau. Ditambah lagi simpang siur perang informasi yang tidak mencerahkan dari masing-masing kandidat.

Media Massa

Industri Media massa sama persis halnya industri-industri lainnya. ia akan berusaha sungguh-sungguh untuk mendapatkan laba sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Akibatnya bukan hanya parpol dan ormas yang kehilangan khittah. Media massapun tak kalah dahsyatnya dalam membikin kebisingan dan kebingungan rakyat banyak.

Yang penting berita banyak yang klik (baca), kagak peduli apa isi beritanya. Entah baik atau buruk adalah nomor yang keseratus. 99 tujuannya harus menghasilkan laba sebesar-besarnya.

Media massa cendrung menjadi corong masing-masing kandidat (calon) dan menebarkan informasi propaganda memasuki rumah-rumah, memasuki ruang-ruang kosong setiap 250 juta lebih jiwa manusia Indonesia.

Saya tidak bilang semua media massa seperti itu, namun saya meyakini sebagian besar (1000:1) adalah berita-berita yang tidak mencerahkan. hanya 1 saja yang  mencerahkan. Olehnya karenanya dibutuhkan filter dan penetralisir,  sebelum sebuah informasi masuk kedalam jiwa dan menjadi sebuah keyakinan.

Sudah semestinya media massa sebagai salah satu pilar demokrasi segera kembali ke  khittah, yaitu menjadi nomor satu mencerahkan, bukan mengaburkan.

Tidak berhenti disitu, tipu muslihat survey pun gentayangan. Masing-masing kandidat pemimpin gencar membikin survey propaganda tandingan. Kalau dulu kita mengecam propaganda belanda yang getol mempertahankan hegemoni mereka di nusantara. Saat ini kita terjebak sendiri saling menebar propaganda untuk memenuhi hasrat nafsu masing-masing kelompok, dan mengesampingkan kepentingan kelompok lain atau kepentingan bersama.

Generasi Sosial Media

Bukan kebetulan muncul sosial media. Tidak ada daun yang jatuh diluar perencanaan Tuhan. Media massa tidak bisa lagi monopoli menebarkan informasi. Lewat social media rakyat bisa mencounter informasi-informasi yang menyesatkan. Lembaga-lembag survey tidak bisa lagi menebarkan tipu daya informasi menyesatkan, karena rakyat juga bisa membikin survey tandingan yang independen, objektif dan mencerahkan.

Kabar gembira juga datang ketika tokoh-tokoh nasional, para orang tua sudah mulai turun gunung untuk membantu secara langsung mengurai kesemrawutan demokrasi Indonesia. Bila selama ini mereka memantau dengan seksama, menghadapi pemilu 2014 saya yakin mereka akan turun gunung untuk bersama-sama mendamaikan parpol-parpol yang senantiasa bertikai.

Saya teringat ketika Nabi Muhammad SAW mendamaikan kabilah-kabilah qurays yang berebutan dan merasa berhak menempatkan hajar aswad ketempatnya pada waktu pemugaran ka’bah saat itu.

Secara fisik memang kita tidak bisa mengharap kedatangan Nabi Muhammad lagi, namun tetesan nur cahaya Muhammad SAW bisa menjelma kembali kepada siapapun yang Tuhan kehendaki, karena kesungguhannya membebaskan manusia dari kesewenang-wenangan di muka bumi.

Blusu’an para Nabi

Sesungguhnya pemimpin itu tidak membutuhkan kampanye. Segala gerak gerik perilakunya merupakan kampanye. Cerita para Nabi sesungguhnya tidak bisa lepas dari blusu’an menyambangi ummatnya.

Dalam siroh Nabawiyah, Nabi terkenal sering blusu’an, terutama ketempat-tempat fakir miskin, alias kawasan kumuh. Cerita yang juga ngetop adalah ketika Umar bin Khattab blusu’an ke sebuah kampung. Disana beliau mengintip sebuah rumah reok. Dan melihat seorang ibu yang menggodok batu, sampai anaknya ketiduran. Umar kemudian bergegas menuju ke gudang pangan dan membawakannya makanan untuk si Ibu dhuafa ini.

 

Indonesia Baru

Saat ini sesungguhnya kita telah memasuki era Indonesia baru. Era horizontal, tidak vertical lagi. Era blusu’an, bukan hanya mendengar laporan bawahan. Era ainul yaqin dan haqqul yaqin, bukan hanya ilmul yaqin.

Mengkaji sebuah masalah tidak hanya berdasarkan ilmu teori, namun mesti datang ke lapangan. Melihat dengan mata kepala sendiri. Sehingga ada triger untuk membangkitkan emosi  yang pada akhirnya akan menghasilkan getaran ke dalam relung hati lebih dalam. Setelah itu akan muncul pantulan keputusan (kebijakan) yang berasal dari hati, bukan dari nafsu tamak dengki.

Saya yakin bahwa diskusi lingkar inspirasi untuk demokrasi berkualitas yang akan diadakan sabtu ini di arena Pasar Malam Den Haag akan menghasilkan kesadaran baru berdemokrasi menyongsong lahirnya INDONESIA BARU.

Iklan

Refleksi (perawat), 17 maret 2013

Sejak lulus Akademi Keperawatan Depkes Malang tahun 2001, kini sudah 9 kali saya berpindah tempat kerja. Rata-rata hanya 1 tahun saja bisa bertahan ditempat kerja yang sama. Belum bisa mendapatkan jawaban yang pasti, namun yang mengemuka hanya alasan “bosenan”.   Sempat mencoba menimba ilmu di 3 (tiga) Universitas yang berbeda di Belanda, namun juga terkena penyakit yang sama “bosan”, alias drop out …he..he..he…

Beberapa organisasi professional dan juga ormas saya singgahi. Namun belum menemukan seuatu yang memberi “kepuasan”. “Bosan” disini bermakna konotatif yang berarti konflik batin. Ada pertentangan kemerdekaan batin dengan lingkungan sekitar termasuk tempat kerja, sekolah, serta organisasi yang seringkali membatasi kebebasan jiwa berekspresi baik langsung maupun tidak langsung.

Aturan produk manusia seringkali bertentangan dengan kemerdekaan berfikir (fitrah). Seringkali ada perasaan dikungkung oleh “ilmu-ilmu” yang belum tentu benar secara ilmul yakin, ainul yakin apalagi haqqul yakin. Pergolakan batin ini yang membuat saya “memutuskan” untuk nekad (baca: mandiri).  Nekad dalam arti sebenar-benarnya. Nekad dalam berfikir, bersikap dan bertindak. Tuhanpun memberikan kebebasan memilih kepada manusia, tentu dengan pertanggungjawaban.

Sharing perawat dari 5 “benua”

Saya senang membaca ide fikiran rekan-rekan perawat dari 5 benua yang baru-baru ini berhasil dibukukan oleh Pak Syaifoel Hardi dkk. Isi fikirannya merdeka tak ada intervensi apapun. Sangat tulus dan jujur. Bisa mengemukakan argumentasinya masing-masing serta bercerita berbagi pengalaman dengan begitu merdekanya.

Sempat saya terbawa diskusi yang cukup panjang tentang adab model training yang akhir-akhir ini cukup mengemuka dalam dunia kompetensi keperawatan. Bukan untuk bantah-bantahan namun itu sebuah dialektika tanya jawab sehingga akan menemukan ilmu baru untuk mamahami struktur anatomi nilai dengan baik, yang berakar dan buah dari kemerdekaan berfikir.

Beberapa tahun terakhir ini banyak sekali beraneka ragam jenis pelatihan bermunculan, dengan dimensinya masing-masing. Mulai dari pelatihan spiritual, leadership, sholat khusyuk, marketing, termasuk pelatihan keperawatan tidak ketinggalan.

Filosofinya adalah ilmu bisa didapat dimana saja dan kapan saja. Tidak mesti harus di hotel mewah dan investasi yang mahal. Masalah ilmu dianggap sekunder, yang terpenting adalah mengantongi gelar dan sertifikat yang diakui oleh fihak otoritas. Semakin banyak sertifikat semakin baiklah prestise-nya. Semakin keren gelarnya semakin besarlah gaungnya. Tidak puas dengan nama perawat, dibikinlah nama ners. Begitulah kira-kira kesesatan fikir yang masih menggelinding kencang dalam dunia keperawatan ditanah air. Legitimasi sertifikat ijazah sudah menjadi salah satu lahan bisnis di negeri ini.

Idealisme-nya adalah bahwa keilmuan termasuk keperawatan tidak semestinya jatuh ke lapak bisnis. Apalagi kesehatan adalah hak setiap manusia. Hajat hidup orang banyak. Pengembangan keilmuwan harus diatur dan dikelola Negara dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat sebagaimana kekayaan sumber daya alam yang juga menguasai hajat hidup orang banyak. Namun sayang pemerintahan saat ini malah sebaliknya telah sempurna mengantarkan Rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang pasar bebas tanpa proteksi yang memadai terhadap hak-hak rakyat lemah, tidak terkecuali dunia pelayanan kesehatan.

“Kabar baik” sesunguhnya datang dari barat. Runtuhnya ekonomi negara-negara maju  sebagai pengusung utama faham materalisme adalah pertanda bahwa telah dan akan terus ada perubahan mandasar paradigma kesadaran manusia dalam mengelola kekayaan di muka bumi. Kapitalisme yang dirintis sejak pertengkaran habil dan qabil, telah mengantarkan peradaban manusia ke jurang kehancuran secara berjamaah berulang kali. Jutaan jiwa manusia melayang sia-sia akibat perang perebutan kekuasaan (ekonomi). Contoh terbaru adalah perang perebutan ladang-ladang minyak di negeri-negeri ditimur tengah. Juga kegaduhan politik tanah air adalah kegaduhan karena perebutan kapital, bukan perjuangan kepentingan rakyat seperti yang seringkali keluar dari mulut para politisi itu.

Saya tidak bilang semua barang dan jasa akan gratis. Namun yang menjadi diskusi adalah mendudukan kembali struktur nilai (akhlaq) dalam bermuamalah (berdagang). Banyak kegiatan sosial yang berwajah bisnis, dan kegiatan bisnis memasang wajah sosial. Tak jelas jenis kelaminnya. Dan bahkan berkelamin ganda (hermaprodit) sesuai kebutuhan.

RUU Keperawatan

Berulangkali perawat turun kejalan berorasi menyuarakan pengesahan RUU keperawatan. Namun sepertinya aspirasi itu tidak mampu menusuk kalbu Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang terhormat. Kita tahu bahwa proses pembuatan UU sesungguhnya adalah proses tender bukan proses untuk menciptakan keadilan. Bila pengesahan RUU keperawatan ingin cepat selesai mungkin cara yang paling realistis bukan teriak-teriak lagi, namun mengumpulkan koin bersama. Sehingga anggota dewan yang terhormat bisa segera mengesahkan RUU, dengan berbekal dana pengumpulan koin tersebut.

Saya tidak tertarik berdebat penting tidaknya UU keperawatan. Saya tidak mau berdebat tentang berbobot tidaknya RUU keperawatan. Namun saya meyakini bahwa rekan-rekan perawat bisa melakukan tindakan keperawatan dengan bertanggung jawab, tanpa harus bergantung kepada aturan manusia. Apalagi aturan produk DPR saat ini yang menjunjung prinsip-prinsip kecurangan bukan kepada prinsip-prinsip keadilan.

“Aturan” dalam diri manusia lebih tinggi kedudukannya ketimbang sebuah undang-undang. Untuk tidak mencuri manusia tidak butuh KUHP, untuk tidak malpraktik perawat tak membutuhkan UU keperawatan. Bukan berarti UU atau aturan tidak penting. Namun harus ada kesadaran dan usaha sungguh-sungguh menempatkan diri diatas undang-undang atau aturan manusia tersebut. Karena manusia bukan hewan yang hanya mempunyai nafsu syahwat, namun juga mempunyai ruh ciptaan-Nya, sebagai sumber kebenaran dalam diri.

Permasalahan ketidakadilan di negeri ini bukan hanya dalam dunia pelayanan kesehatan, namun mencakup setiap aspek kehidupan berbangsa dan bernegera. Mengutip pendapat Emha Ainun Nadjib, bahwa negara dibentuk untuk meng-AMAN-kan 3 hal. Yaitu (1) keamanan jiwa, (2) keamanan martabat serta (3) keamanan harta benda warga negaranya.

Adakah pemerintah saat ini telah mengamankan 3 hal diatas dengan baik? Coba Tanya pada rumput yang bergoyang kata Ebiet.

Semua fakta keadaan diatas tidak serta merta membunuh semangat Rakyat Indonesia. Namun malah sebaliknya, hal tersebut akan merangsang terbentuknya anti bodi, anti penderitaan. Seberat apapun ujian cobaan penderitaan bangsa Indonesia, maka tidak akan membuat mereka berkeluh kesah apalagi menjadi lemah. Namun malah sebaliknya akan membuat kuat dan tahan banting dalam setiap keadaan. Termasuk kekuatan dan tahan bantingnya rekan-rekan perawat. Dalam keadaan seperti itu UU keperawatan bukan diatas kertas lagi, namun ruhnya telah menyatu dalam kepribadian Perawat Indonesia yang merdeka.

#Selamat ulang tahun PPNI  (17 maret, 1974- 2013)

Nakes di DKI mulai mengeluh

Seluruh jajaran SKPD tidak terkecuali Dinas Kesehatan juga harus mengikuti gerbong Jokowi Ahok (baca: kerja keras). Kartu Jakarta Sehat adalah berita gembira bagi rakyat belum mampu, namun bagi tenaga kesehatan artinya harus bekerja lebih keras lagi. Lonjakan kunjungan puskesmas dan rumah sakit menambah beban kerja, dari sebelumnya.

Bagi nakes yang telah biasa mengabdi bekerja keras tentu sudah biasa, namun bagi nakes (pns) yang terbiasa bekerja lamban, ini akan menjadi kabar buruk.

KJS mutlak diperlukan rakyat. Disana sini pasti ada kekurangan, namun tentu bisa diperbaiki sambil jalan. Sebagai nakes apalagi dengan status pns abdi negara, sudah semestinya mendukung penuh yankes yang baik. Sebagai abdi negara pns (nakes), wajib mempunyai etos kerja diatas rata-rata, dan yang lebih penting harus mempunyai kebijaksanaan yang berlapis. Artinya mesti bisa menjadi tempat rakyat mengadukan permasalahan dan menemukan solusi bersama-sama. Sebagaimana telah dicontohkan oleh bos mereka Jokowi Ahok.

Barisan sakit hati (baca: nakes pemalas) sudah mulai bikin status-satus di facebook, menyerang kebijakan KJS. Konon katanya banyak kekurangan. Mungkin maksudnya kekurangan duit, dan mesti lebih banyak bekerja. Karakter manusia kebanyakan murahan, bukan?

Sekali lagi KJS mutlak diperlukan oleh rakyat. Tadi pagi saya sempat membaca artikel seorang penulis senior yang sedang sakit. Beliau tidak bisa menggunakan askes lagi karena satu alasan. Biaya semakin menipis dan dengan terpaksa beliau memutuskan untuk pindah dari depok ke DKI. Saat ini beliau sedang mengurus KTP DKI itu. Semoga beliau tabah dan yang paling penting bisa melihat Tuhan lebih dekat lagi.

Sebagai bagian dari komunitas nakes, saya merasa perlu  untuk saling mendukung dan memberi motivasi kepada sesama nakes untuk bersama-sama mensukseskan program jaminan kesehatan bagi seluruh rakyat yang belum mampu, dimana DKI telah mempelopori untuk menciptakan system yang baik, dan lebih-lebih DKI telah mempelopori adanya itikad yang baik sebagai penguasa/pemerintah.

Salam kompak sukseskan KJS!

Selain Ibu Iriana, ini Dia isteri-isteri Pak Jokowi!

Jokowi tidak hanya mempunyai isteri Ibu Iriana. Namun mempunyai banyak isteri, alias poligami. Lantas siapa saja isteri-isteri Jokowi?

Mengutip filosofi Cak Nun bahwa dalam semesta ada 4 jenis pengantenan (perkawinan). Pertama, pengantenan antara Tuhan dan seluruh makhluqnya. Kalau Tuhan berperan sebagai suami, maka makhluq adalah isteri.

Perkawinan kedua adalah ummat manusia dengan alam. Kalau manusia adalah suami, maka alam adalah isteri. Ketiga adalah perkawinan antara pemerintah dan rakyat. Pemerintah sebagai suami, rakyat sebagai isteri. Dan terakhir adalah perkawinan lanang-wedhok (laki-laki dan perempuan).

Lantas apa hubungannya dengan poligami Jokowi? Dalam kontek perkawinan nomor 3 berarti Jokowi mempunyai banyak isteri. Dari segi suku, betawi adalah isteri pertama jokowi, kemudian jawa, sunda, madura, batak dst adalah isteri-isteri muda jokowi yang juga butuh perlakuan yang adil.

Dari segi agama, islam adalah isteri pertama Jokowi, kemudian disusul kristen, hindu, budha, konghucu dst yang juga memerlukan kebijksanaan berlapis Jokowi sehingga tidak muncul kecumburuan.

Belum lagi ormas-ormas sosial kemasyarakan dan termasuk partai politik (pdip) juga merupakan isteri-isteri jokowi yang juga mesti mendapatkan perhatian secara adil. Alangkah repotnya Jokowi untuk melayani isteri-isterinya satu persatu.

Saya melihat bahwa jokowi tidak begitu berhasrat untuk poligami, namun gadis-gadis dan janda-janda dki-lah yang mengangkatnya sebagai suami. Jokowi bukan memperistri, namun dki mempersuami.

Tak berhenti disitu bahkan seluruh rakyat NKRI berdasarkan survey, ridho dan ikhlas dipersunting oleh jokowi di 2014 nanti. Wah..memang jokowi pria idaman. Bukan hanya milik ibu Iriana, namun saat ini milik seluruh rakyat Indonesia.

Jokowi presiden 2014? siapa takut….

Ada dua (2) mazab masyarakat berkembang menyikapi dua (2) hasil survey terakhir (PDB dan LSJ) yang mengkonfirmasi bahwa jokowi adalah calon presiden yang diinginkan Rakyat Indonesia, dan bukan capres lainnya.

Mazab pertama mendukung pencapresan 2019.  Yang kedua mazab pencapresan 2014. Masing-masing dengan narasi argumentasi dan logikanya yang menarik untuk bersama-sama dikaji lebih mendalam.

Mazab pertama berkeyakinan bahwa Jokowi harus melunasi utang janji kampanyenya sebelum ia melompat ke jabatan lain. Bahkan sebelumnya, ia sebagai walikota solo meninggalkan tugas sebelum usai. Sungguh tidak elok. Sungguh tidak etis. Biarkan Jokowi menyelesaikan masa tugasnya sebagai gubernur jakarta selama 5 tahun, baru kemudian boleh berfikir nyapres. Dan nantinya semua orang akan melihat, mendengar dan merasakan hasil kerjanya selama 5 tahun.

Bila hasilnya memuaskan atau bahkan sangat memuaskan tentu tidak akan mengalami hambatan berarti untuk nyapres 2019 nanti. Walau harus berhadapan dengan incumbent sekalipun.

Mazab kedua adalah kelompok masyarakat yang menginginkan Jokowi untuk segera nyapres 2014. Momentumnya adalah saat ini. Bukan menunggu 5 tahun lagi.  Kelamaan! Mazab ini sudah yakin betul dengan ketokohan, etos kerja serta kemampuan Jokowi dalam memimpin. Hasil dan cara kerja di solo selama 2 periode ditambah 4 bulan di Jakarta, sudah cukup bagi kelompok ini untuk menilai komitmen Jokowi terhadap visi misinya membangun Indonesia Baru. Tuduhan tidak etis, kutu loncat, dan mengkhianati pemilih jakarta bisa ditepis.

Ibarat sebuah perusahaan, jakarta adalah anak perusahaan NKRI. Sebagai presiden tentu Jokowi bisa “menekan” kepala daerah termasuk gubernur jakarta untuk melaksakan program kerja sesuai visi misi Indonesia Baru. Tidak hanya itu, sebagai presiden, ia bisa mengerahkan seluruh kekuatan kabinet sebagai busur dan APBN sebagai panahnya, untuk mempercepat penyelesaian target permasalahan di setiap daerah termasuk permasalahan ibu kota jakarta.

Kita semua tahu kebenaran filosofi yang seringkali diucapkan Ahok: Bila kepalanya lurus maka ekornya akan lurus. Bila presidennya lurus, maka seluruh kepala daerah niscaya juga akan lurus.

Pencapresan Jokowi tahun 2014, bukan mengkhianati rakyat Jakarta, akan tetapi justru Jokowi harus pasang badan lebih dahsyat lagi untuk mengawal APBN 2014-2019 yang akan mencapai 10.000 trilyun. Kita semua tahu, perputaran uang di Jakarta mencapai 70% total perputaran uang secara nasional. Rakyat Jakarta harus realistis dan bangga ketika jokowi harus menjadi presiden, sebagaimana rakyat solo dan seluruh daerah juga pasti akan lebih gembira, ketimbang hanya menjadi  gubernur jakarta.

Logika kekhawatiran kemampuan Jokowi dalam memimpin NKRI telah patah. Karena Jokowi telah membuktikan kemampuannya membikin gebrakan perubahan yang cukup mendasar di Jakarta, setelah banyak orang ragu akan kemampuannya,  karena ia datang dari kota solo yang dianggap kecil itu.

Kita akan terus menyimak dengan seksama perkembangan persaingan elektabilitas capres ini. Bila kecepatan dan akurasi kerja Jokowi terus naik perlahan tapi pasti, sampai mendekati 100% pada akhir tahun ini, maka elektabilitasnya tentu akan semakin muncer tak terkejar. Jauh meninggalkan elektabilitas capres lainnya. Ini artinya bahwa pencapresan jokowi adalah sebuah keniscayaan. Kita akan simak dan saksikan bersama-sama!

 

 

Buat Oma Megawati dan Rakyat DKI

Yang signifikan dari hasil reformasi adalah transparansi

Rakyat bisa menyimak perilaku presiden dan para mentri

 

15 tahun ini adalah masa transformasi seleksi

Memisahkan antara yang palsu dan yang asli

Yang otentik dan pencitraan penuh basa basi

Siapapun yang bohong dusta dan mencuri

Akan terkuak dan ditangkapi

 

Tidak peduli menteri ataupun ketua umum par-tai

Bilamana benar korupsi, mencuri sapi dan mendapat mobil gratifikasi

Pasti ditindak dan di bui, kecuali century hi..hi..hi….

 

Media massa mempunyai peran ganda dan penuh sensasi

Mencerahkan namun juga seringkali mengaburkan informasi

Untungnya rakyat bisa menggunakan sosial media menjadi senjata api

Untuk menembaki politisi yang hobi korupsi dan kolusi

 

2012 adalah kemenangan rakyat atas paganisme politisi

Bak Proklamasi 45 momentum kemerdekaan RI

Reformasi telah mencapai titik kulminasi

2014 rakyat akan selebrasi atas kemenangan yang membumi

 

Bilamana Jokowi menjadi presiden RI

Rakyat DKI tak perlu khawatir dan kecil hati

Karena menteri dan provinsi akan sinergi

Untuk mengatasi macet banjir serta birokrasi

 

Ini puisi kutulis 24 februari

Buat Oma Megawati Soekarno Puteri dan rakyat dki

Kiranya sudi mendukung Jokowi

Menjadi presiden RI di 2014 nanti hi..hi..hi…….

Semoga Tuhan meridhoi

 

(24 Februari 2013, (sk)

 

Masyarakat madani: Jakarta telah dan akan memberi contohnya (doaku)

Pilkada Jakarta 2012 telah usai dan jokowi ahok akan dilantik hari ini sebagai gubernur DKI . Pilkada Jakarta berlangsung begitu seru. Bahkan menyedot pehatian nasional. Menarik karena Jakarta adalah provinsi dengan APBD terbesar dari seluruh provinsi ditanah air (>180 T selama 5 thn).

Bukan hanya itu, menarik juga karena isu sara menjadi isu “seksi”. Banyak sekali statement yang menyudutkan kelompok lain, bak panah-panah beracun yang siap marasupi jiwa-jiwa kosong pemilih. Namun terbukti jakarta berhasil membaca arah panah-panah beracun itu dengan baik. Sebuah pelajaran berharga untuk menghalau tipu daya pilpres 2014.

Sejak reformasi bergulir tema SARA begulir begitu dinamisnya. Setiap kelompok golongan berlomba-lomba ingin menunjukkan eksistensi masing-masing. Bukan hanya parpol, namun setiap suku, agama  dan ras semakin cerdas menuntut  hak-haknya masing-masing sesuai jaminan konstitusi.

Sebagai sesama warga Indonesia, siapapun mempunyai hak yang sama. Dan ini benar-benar harus dikawal pelaksanaanya. Bukan hanya orang jawa, sunda, batak, madura, bugis, dll, namun etnis arab, etnis tionghoa dan etnis yahudi sekalipun juga wajib mendapat perlakuan yang sama ketika bersama-sama bermukim di nusantara.

Bukan hanya karena dijamin konstitusi NKRI, namun lebih-lebih karena jaminan hak dari sang Pemilik Nusantara, Pencipta dan pemilik langit dan bumi. Hukum alam semesta rujukan tertinggi bagi manusia untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bola salju reformasi yg bergulir sejak 1998 harus terus dan tetap on the track, walaupun tentu sedikit belak belok. Siapapun yang berusaha menahan arus keterbukaan dan kebebasan ini pasti tergilas, pasti tergilas, pasti tergilas. Perseteruan fenomen kpk-polri salah satu bukti bahwa proses reformasi terus berjalan secara dinamis.  Sektarianisme primordial sebagai imbas dari perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme perlahan-perlahan namun pasti akan lenyap. Dan tergantikan dengan prinsip-prinsip keterbukaan, keadilan dan kejujuran, tergantikan dengan prinsip universalisme atau bahasa arabnya prinsip rahmatan lil alamin.

Tuhan menciptakan manusia bermacam suku bangsa untuk saling mengenal  mencintai dan bukan sebaliknya. Sejarah peradaban manusia memang naik turun. Ada kutub materialisme, ada kutub spritualisme. Materialisme mendorong sifat kebinatangan dan spritualisme menyalakan cinta. Cinta tak mengenal batasan suku, agama, dan ras. Ia terbebas dari batasan ruang dan waktu karena ia bersumber dari Sang Pencipta yang tidak terikat dengan materi, ruang dan waktu pula.

Perbedaan adalah ujian nyata bagi manusia, karena adanya sifat kecendrungan mementingkan kelompoknya dan semena-mena terhadap golongan yang lain. Yang membedakan hanyalah perilaku baik atau akhlaq. Seberapa besar kemanfaatan seseorang, itulah parameternya. Dan bukan sesuatu yg abstrak yang hanya menjadi tanggung jawab manusia dengan tuhannya (baca: agama misalnya).

Era reformasi adalah era keterbukaan dan kebebasan berekpresi bagi siapapun. Era reformasi membuka ruang yang begitu luas kepada setiap individu untuk mencipta karya dan karsa. Termasuk dalam ranah kepemimpinan. Masing-masing  menemukan dan mengisi perannya, dengan tujuan terciptanya masyarakat harmoni.

Harmoni bukan lagi karena kesamaan suku, agama dan ras. Namun karena penggunaan akal sehat. Dan Jakarta telah dan akan memberi contoh untuk itu. Bismillah. Sukses kepada jokowi ahok!