Agama adalah komunikasi

kiiaat di rotterdam

kiiaat di rotterdam

Meneladani Rasulullah saw itulah tema kiiaat 2008/2009 yang diadakan oleh pip pks belanda di Rotterdam. Salah satu pembicara yang hadir adalah Pak John Koeman. Dia pernah di didik dibesarkan dalam budaya katolik dan sekarang terus mencoba mendalami islam. Dalam kesempatan tersebut Pak John membahas tentang komunikasi.


Beliau pernah tinggal di Indonesia dan selama berada di indonesia Pak Jhon banyak melihat dan merasakan budaya islam yang sangat bertentangan dengan budaya di kampungnya. John mengatakan bahwa secara teori islam adalah sesuatu yang ideal seperti halnya idealisme komunis, namun prakteknya berbeda.

Dalam paparanya Pak Jhon banyak menyindir dagelan budaya indonesia dimana ini diamini oleh peserta kiiaat. Pak John sering membikin dagelan kelucuan budaya indonesia yang membikin peserta kiiat tertawa terpingkal-pingkal.
Kritikan menukik Pak John adalah kepada Arab Saudi yang konon masih dianggap pusat peradaban islam yang mempunyai tingkat kerapatan budaya yang nyaris sangat padat.

Istilah kepadatan dan kelonggaran budaya ini diambil dari sebuah teori guru besar seorang yahudi yang berusaha memetakan kebudayaan di muka bumi.(lupa namanya)Dari teori tersebut, perbedaan yang kontras adalah bahwa budaya negera berkembang identik dengan budaya padat, artinya penuh dogma dan aturan. Sedangkan budaya negara maju identik dengan budaya longgar penuh dengan kebebasan.

Adapun persamaannya adalah masing-masing kutub ini mempunyai pendirian yang sama bahwa budaya merekalah yang paling benar. Tidak ada yang lebih menonjol dari segi peradaban, saya kira. Perbedaan budaya yang begitu besar tidak mungkin untuk disatukan, begitu seolah-olah kesimpulan dalam diskusi kiiaat kemarin. Kesimpulan ini sebenarnya juga mengamini faham materialisme atau hukum rimba bahwa siapa kuat dia dapat.

Benarkah tujuan manusia di ciptakan seperti itu? Atau hanya karena manusia tidak mampu memahami komunikasi Tuhan kepada dirinya? Sebuah pertanyaan yang patut menjadi renungan bersama baik orang timur maupun orang barat.

Berdasarkan peneliatian (lupa namanya) sesuai paparan Pak John 55% komunikasi adalah bahasa tubuh, 38% apa yang didengar, 7% apa yang dikatakan. Saya kira kita semua percaya bahwa Sang Maestro komunikator Dialah Allah Tuhan semesta alam. Kesalahan pasti berada pada penerima informasi (recipient/manusia) bukan pada sang pemberi informasi (Tuhan). Dan dengan kasih sayang Tuhan yang begitu besar, Dia juga mengangkat seorang Rasul untuk membantu menyampaikan pesan-Nya kepada manusia. Toh itu tidak ada jaminan pesan itu sampai kepada manusia. Lagi-lagi ini adalah masalah reseptor-nya yang rusak bukan konduktornya.

Kalau kita merujuk hasil penelitian diatas berarti Tuhan juga menggunakan bahasa tubuh-Nya untuk menyampaikan pesan-Nya, disamping Dia mengangkat Rasul untuk menceritakan keagungan Nya kepada manusia dan menurunkan perkataan atau firman-Nya langsung (Zabur, Taurat, Injil dan Al-quran).

Sekarang pertanyaanya adalah apa sikap recipient supaya pesan sampai kepadanya?Saya kira recepient juga harus memperhatikan bahasa tubuh Tuhan,  apa itu? Salah satunya mungkin dengan banyak merenung, melihat dan memperhatikan kebesaran ciptaan-Nya. Anda bisa bayangkan begitu dahsyatnya penciptaan alam semesta.

Setelah itu manusia harus banyak mendengar informasi dari orang orang baik atau saleh sebagai penerus Nabi, baru setelah itu manusia bisa memverifikasi informasi dengan perkataan Nya, yaitu Alquran.

Fakta sejarah para nabi membuktikan bahwa mereka diutus untuk menyampaikan pesan pesan perdamaian ke muka bumi, karena manusia telah dikuasai angkara murka hasad dan dengki diantara sesama. Karena cinta saling menyayangi sebagai buah iman telah hilang dari hati manusia.

Akhir kata saya akan mengutip pernyataan Pak John yang dikutip dari bible bahwa cinta kasih sayang adalah isyarat sebuah kebenaran. Saya mengamini pernyataan ini karena hal ini telah dibuktikan oleh Nabi Muhammad SAW dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman. Dakwah adalah cinta, dengan cinta tak mengenal lelah dan lesu, terus bergerak menyampaikan pesan-pesan perdamaian.

Tuhan selalu menemani, menggerakkan kaki, tangan, pendengaran dan penglihatannya. Sungguh inilah puncak kemerdekaan manusia, mereka membentuk lingkungan bukan lingkungan membentuk mereka wajar kalau mereka ini tak masuk dalam teori pemetaan budaya seorang yahudi diatas. karena memang belum ada, atau sudah ada?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s