Krisis adalah peluang

Judul ini saya ambil setelah saya membaca artikel Prof.Paul de Blot guru besar Nyenrode University, the Netherlands tentang ” crisis biedt nieuwe kansen” (krisis adalah peluang), artikelnya bisa dibaca dalam bahasa belanda di: http://pauldeblot.nl/2009/01/01/de-crisis-biedt-nieuwe-kansen/

Dengan peringatan 17 Agustus yang baru-baru ini kita rayakan bersama, mengingatkan saya tentang multidimensi krisis di tanah air. 65 tahun merdeka dari penjajahan fisik. Namun dari sisi kejiwaan dan nurani masih kelam. Banyak  yang masih mempunyai harapan, namun juga tak sedikit yang dilanda keputusasaan hebat melihat perkembangan peradaban ditanah air. Berita-berita ketidakadilan kedzoliman penguasa beserta titah-titahnya menjadi menu sehari-hari. Bukan hanya krisis biasa yang sedang melanda namun sebuah kegelapan dalam kegelapan.

Belajar dari pengalaman bangsa-bangsa lain bahwa mereka juga melalui proses-proses masa sulit untuk menemukan potensi besar yang mereka miliki untuk membangun kembali peradaban bangsanya. Belajar dari berita-berita kitab suci, bahwa Tuhan akan mengirimkan pertolongan ruh baru bila manusia telah mengalami kehancuran dan kehinaan yang luar biasa.  Belajar dari alam akan ada proses kreatif destruktif untuk memperoleh keseimbangan baru. Siklus-siklus ini pasti terus berjalan dan tak hanya terjadi dalam dunia flora dan fauna namun juga terjadi dalam peradaban kejiwaan manusia.

Siklus kejiwaan manusia hanya dua hal yaitu antara materialisme dan spritualisme, antara angkuh sesat dan berserah diri  di dalam struktur kerajaan Sang Raja Pencipta.

Mulai dari adam hingga saat ini, siklus inilah yang terus berjalan. Dan saat ini sepertinya kita sedang berada dalam titik kulminasi materialisme. Tak heran bila peperangan konflik dimana-mana, karena manusia sesungguhnya sedang berebut materi. Namun setelah ini akan ada proses pembersihan, pensucian, pemurnian kembali. Sampah dan riak-riak materialisme akan di daur ulang, disaring dan dimurnikan kembali.

Menarik untuk di cermati bahwa peradaban materialisme terkesima dengan  Indonesia. Logik karena mulai dari kolam susu hingga gunung emas berdiri megah. Logik bila pemilik hak kekayaan ini dibikin blo’on tak berdaya inferioritas. Sehingga mereka bisa merampok seenaknya. Sebuah model perampokan dahsyat akhir zaman yang tak kasat mata, namun kasat hati.

Menarik dicermati juga bahwa disana juga Tuhan menabur benih spritualisme. Benih cinta yang akan mengubur kerakusan dan kesemena-menaan manusia. Rasa kasih sayang kepada sesama dan alam semesta seperti yang diteladankan oleh Baginda Nabi 14 abad yang lalu.

Benih-benih persahabatan lintas suku,  dan “agama” mulai ngetrend di negeri ini. Materi menjadi alat penyambung kemanusiaan bukan sebaliknya. Manusia-manusia yang masih sedikit ini tak lagi mempermasalahkan perbedaan, namun fokus kepada kontribusi perdamaian dan kesejahteraan bagi sesama sebagai perwujudan cinta kepada Tuhan dan Nabi Muhammad SAW.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s