Emigrasi (Hijrah)

Emigrasi (hijrah)

Tahun 2003 yang lalu dengan penuh kesadaran dan dibarengi keberanian luar biasa saya bersama-sama rekan-rekan se-profesi hijrah ke Negeri Belanda, dengan satu tujuan “merubah nasib”

Datang ke negeri orang dengan perbedaan budaya yang luar biasa tajam bukanlah hal yang mudah.  Membutuhkan ketahanan tidak hanya jiwa, namun juga fisik. Dari negeri yang setiap tahun panas terus-menerus menuju iklim panas dingin. Dari negeri siang dan malamnya sama, menuju negeri yang fluktuatif antara masa siang dan malam. Dari negeri yang sering banjir menuju negeri yang penuh sungai-kanal indah dan terkendali. Dari negeri yang mempunyai ikatan kekeluargaan menuju masyarakat individualis, dari negeri yang “kaku” ke negeri yang “bebas”nya minta ampun. Dari masyarakat dengan kesenjangan ekonomi, menuju masyarakat yang “cukup adil” menikmati hasil-hasil pembangunan. Dari negeri yang kaya akan sumber daya alam menuju negeri yang antusias mengolah sumber daya alam negeri lain, dari negeri yang mengagungkan spritual (SQ) menuju negeri yang mengagungkan kecerdasan intelektual dan emosi (IQ,EQ), dari negara demokrasi menuju negara “kerajaan”,  dan masih banyak lagi perbedaan kontras yang bisa dideret lebih panjang lagi yang mungkin akan melebihi panjangnya jarak jakarta-amsterdam. Perbedaan tersebut campur aduk, dan bahkan tak mudah memilah dan memilih mana yang baik mana yang jelek, termasuk jiwa saya juga mengalami getaran-getaran dahsyat menuju proses penyeimbangan sehingga bisa melihat permasahan tersebut dengan lebih sederhana dan gamblang.

Puji syukur Tuhan, Saya menjadi saksi dan merasakan peradaban di timur dan dibarat. Saya menjadi saksi kebingungan orang di timur dan dibarat, saya menjadi saksi ketamakan orang ditimur dan dibarat, saya menjadi saksi korupsi, kolusi dan nepotisme ala timur dan barat, saya menjadi saksi keangkaramurkaan di timur dan dibarat. Perang media massa manambah dahsyatnya kegoncangan jiwa manusia. Ribuan dan bahkan jutaan jiwa melayang sia-sia tak bermakna apa-apa. Sebuah fenomena luar biasa.

Saya meyakini bahwa jiwa senantiasa ber-revolusi baik individu, keluarga, masyarakat, dan seluruh penduduk bumi. Bak alam semesta ada revolusi bulan, revolusi bumi, revolusi matahari dan revolusi galaksi mengelilingi inti galaksi. Semua tunduk berevolusi sesuai garis orbit. Dan saya juga menyadari bahwa proses hijrah ke negeri lain bukanlah sebuah kebetulan, namun merupakan bumbu-bumbu untuk pemantapan revolusi jiwa yang tak boleh keluar garis orbit jiwa (baca: fitrah).

Terjadi perbedaan masa yang cukup jauh dari masing-masing revolusi tersebut. bulan membutuhkan waktu kurang lebih 29-30, bumi butuh 365 hari, matahari sekian hari dan apalagi galaksi pasti butuh masa lebih lama. Dalam alam semesta berlaku sistem keseimbangan sebagaimana keseimbangan “semesta jiwa” manusia. Adalah Ary Ginanjar Agustian yang telah berhasil menjelaskan konsepsi ini  dalam bentuk training ESQ dengan sangat cerdas sehingga mudah dan gamblang untuk difahami oleh setiap orang, dan saya termasuk salah satu “korban” yang harus mengakui konsepsi revolusi jiwa tersebut sebagai bukti eksistensi sang Pencipta.

Dalam alam semesta sudah lazim terjadi tabrakan antar bintang untuk melahirkan bintang  baru yang stabil dan seimbang. Kalau kita analogkan dengan teori lahirnya bintang baru, mungkin yang saat ini terjadi di bumi bukanlah sekedar penyeimbangan sebuah bangsa, namun penyeimbangan seluruh jiwa dimuka bumi. Dibarat, ditimur, diutara, diselatan terjadi benturan-benturan dasyat jiwa-jiwa manusia. Terjadi proses secara massif dan simultan untuk penyeimbangan kembali “jiwa-jiwa” di muka bumi. Bencana alam gempa, sunami, gunung meletus, banjir terjadi hampir diseluruh permukaan bumi. Hal ini untuk mengimbangi dan bahkan untuk menghentikan gempa dan sunami jiwa manusia yang telah memusnahkan cahaya dimuka bumi, meluluhlantakkan peradaban di muka bumi. Lihatlah rentetan perang yang terjadi, lihatlah mulai ambruknya ekonomi negeri-negeri superpower, lihatlah runtuhnya regim-regim di timur tengah secara beruntun. Lihatlah kelaparan terjadi dimana-mana, lihatlah berbagai macam penyakit aneh merajalela, lihatlah kebohongan-kebohongan dajjal dan pengikut-pengikutnya yang nampak kasat mata.  Ini semua menunjukkan bahwa saat ini sedang terjadi proses massif kelahiran “bintang baru” seperti halnya dialam semesta, yang hanya tunduk dan patuh kepada kerajaan alam semesta, dengan kata lain kembali ke fitrah garis orbit.

Dan sepertinya bintang baru yang akan terbentuk ini “intisel”-nya akan berada di negeri khatulistiwa Nusantara seperti  petunjuk-petunjuk yang ditulis oleh Prof.Santos dalam bukunya yang berjudul “Atlantis”. Atlantis akan bangkit kembali memimpin peradaban sesuai hukum-hukum asmaul husna, nama-nama baik Raja Alam Semesta,  Dialah Al-Haq yang telah menampakkan eksistensi dirinya lewat Al-qur’an, Mukijizat Nabi Muhammad SAW.

Perjalanan hijrah dari timur ke barat bukanlah perjalanan fisik semata, namun esensinya adalah perjalanan untuk memantapkan perjalanan jiwa sesuai garis orbit. Inilah hikmah yang bisa saya ambil dari perjalanan hijrah dari timur ke barat  dan saya akan kembali hijrah ke timur dengan tujuan sama untuk “merubah nasib”, namun bukan dari segi materi lagi, tapi  “penyucian jiwa”. Saya telah bersumpah “Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil alamin”.

Allahu akbar-Allahuakbar-Allahuakbar Walillahilham.

Syafiih Kamil

Amstelveen, Jumat 6 Rabiul Akhir 1432/11 Maret 2011


Iklan

Satu respons untuk “Emigrasi (Hijrah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s