Konsolidasi memakmurkan bumi kembali

Konsolidasi menuju fase perlawanan terbuka memakmurkan bumi kembali

Kepada: Saudara sebangsa setanah air
Perihal: Urun Rembug
Jumat 13 Rabiul akhir 1432/ 18 Maret 2011

Pancasila dan UUD sebangai hasil konsensus nasional pada tahun 1945 yang diperjuangkan selama berabad-abad oleh seluruh elemen bangsa dari sabang sampai merauke menjadi dasar terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konsensus yang diperjuangkan dengan tumpah darah seluruh Rakyat Indonesia ini merupakan cita-cita mulia yang pelan tapi pasti akan menemukan bentuk sempurnanya setelah melalui pelajaran dari regim-regim yang menghambat tercapainya cita-cita mulia tersebut.

Bila mundur ke belakang Bangsa Indonesia merupakan kelanjutan peradaban di masa lalu, diantaranya Majapahit, Sriwijaya dan bahkan Prof.Santos dari Brazil dalam bukunya tentang Atlantis menulis bahwa Zamrud Khatulistiwa ini pernah menjadi pusat perdaban terbesar pertama di muka bumi pada waktu zaman es, ribuan tahun jauh sebelum masehi. Juga banyak penemuan-penemuan purbakala baru-baru ini yang menjadi bukti penting kejayaan negeri ini dimasa lampau jauh sebelum masehi.

Pendek kata, perjalanan peradaban di bumi nusantara ini sudah sedemikian rupa begitu panjang, lebih “sepuh” dari bangsa-bangsa yang saat ini memegang kendali perekonomian bumi. Belum lagi SDA-nya menjadi fakta tak terbantahkan, menjadi produsen kekayaan alam yang tiada duanya, anugerah Tuhan kepada anak-anak yang mendiami negeri ini.

Perjuangan berdarah-darah baik pada masa orde lama dan apalagi pada masa orde baru yang membatasi hak-hak rakyatnya telah melukai dan menyelewengkan amanat konsensus nasional 1945. Dan terbukti regim-regim itu tumbang dan menyisakan pelajaran berharga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seperti halnya yang terjadi saat ini di timur tengah bahwa kekuasaan sebesar dan sekuat apapun juga akan runtuh cepat atau lambat. Keruntuhan regim-regim di timur tengah memperjelas isyarat akan runtuhnya peradaban di barat sebagai lokomotif materialisme.

Kini Bangsa Indonesia memasuki tahun ke-13 Era Reformasi. Namun demokrasi yang sedang berjalan tak memberikan tanda-tanda perbaikan, parpol-parpol instan bak pendekar kesiangan mengumbar syhawat-nya masing-masing mengejar kekuasan dan memperkaya diri sendiri. Ada sebuah kekuatan dahsyat yang menginginkan Indonesia dipegang oleh orang-orang yang mudah dikendalikan, bukti nyata bahwa imprealisme masih tetap berlanjut hingga detik ini.

Kasus-kasus besar seperti BLBI, Century, Lapindo, Mafia Pajak, Insiden kerukunan antar SARA, tak pernah ada ujung pangkal dalam penyelesaian. Belum lagi aset-aset nasional diantaranya freeport, minyak bumi, batu bara dan masih banyak lagi mejadi santapan orang asing. Masalah-masalah ini bisa di deret lebih panjang lagi dan mungkin akan melebihi panjangnya garis khatulistiwa dari sabang sampai merauke.

Pada masa perang kemerdekaan Bung Karno pernah mengatakan bahwa lonceng kematian imprealisme telah berbunyi. Kalau kita saksikan saat ini terjadi rentetan peristiwa runtuhnya regim-regim di timur tengah secara beruntun bisa menjadi isyarat jelas bahwa imprealisme akan segera menemui ajalnya. Kebangkitan rakyat-rakyat tertindas baik diarab maupun di belahan-belahan negara-negara berkembang lainnya akan membatasi pergerakan orang tamak pemilik modal.

Indonesia menjalani episode panjang berabad-abad hidup dalam cengkraman imprealisme dan akhirnya behasil memproklamirkan diri pada tahun 1945. Usia NKRI relatif masih muda, namun yang melahirkan NKRI adalah peradaban besar dimasa lalu (baca: Majapahit Sriwijaya). Ada bibit unggul yang terangkai dan tersembunyi dalam struktur gen “anak-anak Indonesia”. Saya berharap gen-gen unggul itu akan segera muncul dalam waktu yang tak lama lagi sehingga bisa membebaskan negeri ini dari segala bentuk penindasan. Imprealisme tak mengenal nilai-nilai Asmaul Husna, penguasaan emas freeport, minyak bumi, batu bara dan semua kekayaan zamrud khatulistiwa ini adalah tujuan akhir dari perjuangan kaum tamak ini.

Kedaan seperti ini tentu tak mungkin di biarkan begitu saja, selama ini ketidaksetujuan terhadap ketidakadilan hanya dipendam di dalam hati, saat reformasi tiba sudah bisa bersuara lantang, dan fase selanjutnya adalah mempersiapkan langkah konkrit penyelamatan bumi nusantara pada khususnya dan memberi inspirasi kepada dunia untuk menegakkan kerajaan Tuhan Semesta Alam yang sesungguhnya, memakmurkan bumi sesuai kaidah Asmaul Husna.

Tahun 2014 tinggal 3 tahun lagi, rasanya cukup mendesak untuk menyusun konsolidasi sehingga raja Indonesia selanjutnya adalah RAJA ADIL yang akan bertitah sesuai Asmaul Husna. Seluruh elemen bangsa yang masih punya rasa cinta tanah air, bersama-sama mempersiapkan langkah konkrit untuk masa peralihan dari fase materialisme menuju fase spritualisme, dari masa gelap gulita menuju cahaya terang benderang.

Pejuangan penegakan keadilan secara komprehensif telah memasuki fase perlawanan secara terbuka. Pembekalan-pembekalan diri yang dilakukan oleh insan-insan beriman di negeri ini sudah cukup matang. Kita sudah bergerak jauh kedepan lebih cepat, dibanding pada era orla-dan orba, hak-hak sebagai warna negara sudah mulai menemui titik terang. Siapapun dan dari golongan apapun bebas berbicara dan mengemukakan pendapatnya secara bertanggung jawab. Namun tentu sebagai generasi cerdas tidak hanyut dalam euforia kebebasan berbicara tanpa ilmu.

Tak lepas dari arus reformasi , TNI dan POLRI juga menampakkan banyak perubahan positif yang menandakan bahwa saat ini Indonesia sedang bergerak ke arah “sumbu” yang benar. Tak sedikit insan-insan TNI/POLRI yang menemukan jati dirinya untuk senantiasa tulus mengabdi kepada Kerajaan Semesta Alam. Tak sedikit dari mereka yang berfihak pada prinsip keadilan.

Disamping itu munculnya tokoh-tokoh muda cerdas emosi dan spritual juga semakin mengobarkan semangat untuk “hijrah”. Juga masih tersisanya para sesepuh bangsa yang senantiasa menyuarakan suara-suara hukum kerajaan Tuhan semesta alam, memberi energi positif dan tauladan tersendiri kepada Indonesia untuk bergerak lebih cepat.

Waktu sangat mendesak untuk menyusun sebuah konsolidasi nasional insan beriman. Kepada seluruh elemen bangsa dari sabang sampai merauke yang dengan tulus mencintai negeri ini apa adanya, kini saatnya melakukan langkah konkrit dalam rangka menyambung peralihan pemerintahan pada tahun 2014, sehingga berlangsung dengan tertib, aman dan damai, pendek kata REVOLUSI DAMAI.

Seluruh kekuatan pemuda , militer, sesepuh bangsa dan seluruh rakyat indoensia saatnya membebaskan diri dari cinta dunia dan takut mati, hanya mengabdi dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan bukan kepada materialisme.

Muhammad Ainun Nadjib memformulasikan ada 5 pilar bangsa yaitu Rakyat, Militer, Kaum Intelektual, kekuatan adat dan kekuatan keagamaan dan spiritual. Bila seluruh kekuatan bangsa ini bersinergi mengikuti fitrah, maka Bangsa Indonesia akan mencapai puncak kejayaannya, menjadi mercusuar dunia sebagai pancaran kerajaan Tuhan Semesta Alam. AllahuAkbar-Allahuakbar-Allahuakbar walillahilham.

”Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau lihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan memohon ampunan kepada-Nya, sungguh Dia Maha penerima taubat”

Syafiih Kamil
Amstelveen
The Netherlands
syafiih.kamil@gmail.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s