Kembali suci, menata pamekasan dg cinta

Saya beberapa kali bertemu silaturrahmi dengan taretan di pamekasan untuk sekedar sharing berbagi pendapat tentang pamekasan. Saya lihat di raut wajahnya kesedihan dan juga kecewa bahkan ada juga nuansa putus asa melihat tingkat permasalahan yang begitu berlapis-lapis dan begitu kompleksnya baik dari birokrasi maupun kekompakan manusianya dalam melakukan kecurangan-kecurangan dengan berbagai dimensinya mulai dari tingkat desa, kecamatan sampai kabupaten. Namun disisi lain saya melihat ketulusan yang luar biasa ingin memberi arti kepada tanah kelahirannya.

Keadaan “salbut acar kalacer” yang multimdimensional ini membuat gambaran masalah menjadi campur aduk bak benang kusut, tak tahu dari mana harus dimulai. Mungkin ada juga semangat untuk langsung ingin membakar kekusutan benang itu secara radikal, paling tidak disatu titik yang dikira paling kusut dan paling menentukan untuk mengurai kekusutan itu misalnya upaya menjatuhkan bupati, camat ataupun kepala desa yang dikira menjadi biangnya.

Saya mendengar bahwa upaya-upaya ini pernah disetting untuk menggulingkan sby dan bahkan sudah dibikin hitung-hitungan dan strategi yang cukup masuk akal. Namun rupanya saya setuju pendapat sahabat saya (kalau saya tidak boleh menyebut beliau dengan guru) bahwa Indonesia bukanlah negeri yang monoton, ada cara-cara kreatif dan menohok dalam proses kejatuhan pemimpinnya. Tengok aja kejatuhan presiden NKRI memiliki karakteristik yang berbeda. Soekarno jatuh karena kudeta militer, soeharto oleh kudeta raktyat, gusdur kudeta MPR-RI, dan sepertinya jatuhnya SBY tidak akan sama dengan cara-cara sebelumnya.

Dalam kontek kepemimpinan di pamekasan saya belum pernah mengalami ada kudeta bupati dan camat namun kalau dilevel kades sempat terjadi beberapa kali kudeta berdarah alias “carok”. Kalau dijaman silam sudah ada praktek-praktek kudeta yang dilakukan sesama raja-raja penguasa Madura.
Walaupun ada upaya-upaya menjatuhkan pemimpin baik bapati, camat maupun kades, namun saya tidak melihat ada hasil yang signifikan dan bahkan cendrung zero alias “angar”. Bisa jadi karena modusnya memang sama sekali tak ada ketulusan memperjuangkan sebuah kebanaran, namun penuh dengan nafsu syahwat pribadi ataupun kelompok golongan untuk menggantikan kekuasan, dimana dimata rakyat sama saja bak harimau dan buaya yang selalu bersyahwat menerkam mangsa-mangsa lemah tak berdaya.

Yang menyebabkan tingkat kebingungan yang begitu dahsyat ditingkat akar rumput adalah keterlibatan para kyai-nya dalam dunia politik praktis. Namun Alhamdulillah Tuhan langsung menelanjangi syahwat alias kemunafikan mereka selama ini. Nasehat “menjauhi hubbuddun-ya” (tak lebur ka dunyya) selama ini telah menjadi kedok untuk mengelabuhi ummat sebagaimana bangsa barat menggunakan kedok demokrasi untuk “ngerjain” negeri timur. Mungkin Tuhan tidak mebuka membuka aib mereka secara langsung, namun bisa jadi Tuhan hanya mengijikan untuk dibuka.

Kalau Tuhan sudah membuka sendiri maka kita sungguh berada dalam keadaan siaga 1 dalam proses pergantian kepeminpinan daerah maupun nasional dan bahkan dunia dimana seremoni langsung akan dipimpin-Nya. Namun kalau Tuhan hanya mengijinkan maka cara pergantian kepemimpinan akan tejadi dengan diplomasi alias damai, tidak dengan cara radikal bencana alam misalnya.

Alhamdulillah keadaan dzolim (baca: kkn), semua mengetahui ttg berita fakta kemunafikan ini sampai ke akar rumput. Kesejahateraan dan kehancuran adalah pilihan dan pilihan itu ada didepan batang hidung warga pamekasan. Mereka mempertahankan cara-cara suksesi kepemipinan dengan cara jahiliyah (baca: amaen pesse) atau menggunakan akal sehat dan hati nurani masing-masing. Saya yakin pamekasan akan memilih sejahtera dengan meninggalkan jalan menuju kebinasaan dimaksud.

Walaupun saya tak lama pulang ke Madura namun cukup banyak menyerap informasi sehingga ada keinginan yang tulus untk menemani “taretan e Madura” yang kebingungan bagaimana memulai untuk menciptakan ruh baru yang segar di pamekasan. Bukan berarti saya tidak bingung juga namun ibarat perkalian matetika bahwa negatif kali negatif maka akan menjadi positif. Kalau sendainya ada 2 orang atau lebih yang serius memikirkan kebingungannya dan ia tergerak untuk bersilaturrahmi dengan saudara-saudaranya yang sama-sama bingung demi untuk jalan keselamatan, saya haqqul yakin bahwa tak ada alasan bagi Tuhan untuk tidak memberikan sedikit demi sedikit ilmu yang akan bisa mengurai benang kusut dimaksud secara bertahap namun pasti. Tuhan adalah fihak pertama yang bertanggung jawab untuk membenahi pamekasan dengan cara-Nya yang bisa radikal, namun juga bisa dengan musyawarah atau diplomasi bila memang masih ada manusia-manusia di pamekasan yang sanggup dan berani untuk bernegoisiasi dengan-Nya.

Dalam pertemuan beberapa kali dengan seorang sahabat , saya sempat dieberondong dengan pertanyaan-pertanyaan dan bahkan semacam tuntutan dengan ide-ide konkrit ttg perbaikan pamekasan. Padahal saya pulang kampung keninginan saya hanya satu sekedar silaturrahami, menyambung tali kasih sayang yang sempat terputus karena jarak, baik dengan keluarga maupun sahabat-sahabat dan saudara-saudara saya dimana rasa rindu ini cukup dalam. Tidak ada hasrat untuk membikin proyek-proyek prestius ataupun seminar dengan mendatangkan pembicara pembicara ahli untuk ikut andil memperbaiki pamekasan yang hancur lebur seperti sekarang. Karena saya yakin kehancuran dibarat dan ditimur saat ini termasuk di pamekasan adalah karena satu kata hilangnya “silaturrahmi”.

Saya tidak tahu persis arti kata silaturrahmi namun arti yang menohok dihati saya adalah upaya menjalin kasih sayang sesama warga pemekasan atas dasar cinta Allah dan Nabi Muhammad, titik. Ruh ini telah lenyap sempurna tidak hanya di Indonesia (baca: pamekasan) namun juga di seluruh penjuru bumi, dan hal ini saya rasakan betul selama saya 8 tahun tinggal di eropa.

Hanya satu kata untuk merubah dunia (pamakesan) yang gelap ini: yaitu dengan “cinta”. Cinta akan bersemai kembali dengan menyambung tali kasih sayang diantara manusia. Selamat iedul fitri selamat ber hbh, bersama kita semai kembali cinta dimuka bumi.

Syafiih kamil

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s