Tak ada lawan, yang ada kawan sejati

Kita sering mendengar ungkapan “ tak kawan dan lawan sejati”, terutama dalam dunia politik kalimat ini telah menjadi kalimat suci yang “wajib” diamalkan. Kalimat ini tentu tak keluar serta merta jatuh dari langit. Tentu ini lahir dari  fakta empiris. Manusia bak srigala bagi manusia lainnya dan ini didukung oleh teori (baca: filsafat) Darwin bahwa manusia adalah makhluk materialisme, satu sama lain ada persaingan/pertarungan untuk mempertahankan kehidupan masing-masing bak hutan belantara.

Pemandangan ini tentu bisa dibuktikan dalam kehidupan kita sehari-hari, misalnya dikantor ada budaya saling sikut. Yang paling kontras ketika kita masuk kedalam dunia usaha lebih-lebih politik. Masing-masing mengeluarkan seluruh potensinya untuk memenangkan persaingan dengan cara tak beradab. Filsafat materialisme telah merasuki jiwa manusia. Perlombaan untuk berbuat kebaikan (fastabikul khoirat) berubah menjadi pertarungan syahwat materi. Tipu daya adalah senjata untuk memenangkan persaingan tersebut. Dalam politik, ilmu tipu daya dianggap sebuah keniscayaan, karena beranggapan pertarungan dalam dunia politik ibarat “perang”. Dalam situasi perang tipu daya adalah hal wajar untuk memenangkannya. Sebuah cara fikir linier yang membahayakan banyak orang.

Kita menyaksikan perlombaan tipu daya itu semakin terang benderang. Baik didalam negeri maupun dunia internasional. Jatuhnya pemimpin-pemimpin arab termasuk pemimpin libya yang harus jatuh dengan cara sangat mengenaskan. Jatuhnya pemimpin-pemimpin dictator arab tsb sesungguhnya bukanlah jaminan akan adanya kehidupan berbangsa dan bernegara lebih baik, karena sesungguhnya bangsa-bangsa besar khususnya barat mempunyai agenda tersembunyi untuk menguasai kekayaannya, persis seperti apa yang terjadi di tanah air.

Pemandangan ini terus berjalan hingga saat ini, namun semakin banyak manusia yang memahami dan sadar begitu buruknya karakter hipokrit/munafik ini.

Apakah memang manusia diciptakan untuk saling membantai? Saya kira ini pilihan. Karena sesungguhnya ketika Darwin membikin teori yang kemudian menjadi filsafat banyak orang, kemungkinan besar sahabat-sahabat dia adalah petarung-petarung dalam politik maupun bisnis, sehingga wajar ia mengeluarkan hipotesis dan akhirnya menjadi teori dan filsafat banyak orang bahwa manusia adalah lawan satu sama lain.

Seandainya pergaulan Darwin seimbang berjumpa dengan manusia-manusia baik, saya kira Darwin akan mengubah teorinya tersebut.

Sejak Nabi Adam AS sudah ada pertarungan hidup. Sebetulnya kurang pas dinamakan pertarungan hidup, karena sesungguhnya Habil sama sekali tak menempatkan Qabil sebagai lawan. Namun Qabil-lah dengan angkara murkanya dan sombong memaksakan kehendak untuk tetap menikah dengan saudaranya sendiri dimana Tuhan telah menetapkan bahwa saudara Qabil adalah haknya Habil. Dalam hal ini Qabil pada hakikatnya menentang Tuhan bukan Habil. Habil adalah sosok yang pasrah dan tunduk kepada ketentuan Tuhannya. Sama halya dengan orang-orang yang baik dan tulus, mereka tak menempatkan manusia-manusia “jahat” sebagai lawannya. Mereka senantiasa mencintai mereka sampai Tuhan memberikan keputusan diantara mereka.

Dalam kontek perpolitikan Indonesia sesungguhnya bukan tak ada orang baik di bumi pertiwi ini. Namun mereka bersabar bak Habil.  Tiap hari ditipu dan didzolimi hak-haknya oleh Qabil, namun respon habil tetap tegar, bekerja keras menyebarkan kebaikan hingga Tuhan memberikan keputusan kepada mereka berdua. Tuhan akan memberikan keputusan terbaik bagi pemimpin dan rakyat Indonesia. Bagi manusia Indonesia sejati tak ada lawan, yang ada hanyalah kawan sejati yaitu Tuhan semesta Alam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s