Jakarta berkumis

BERKUMIS: berantakan, kumuh dan miskin. Begitulah ejekan dan sekaligus bentuk perlawanan Rakyat Jakarta terhadap kepemimpinan di Jakarta yang tidak menunjukkan tanda-tanda kemajuan. Dan malah sebaliknya semakin berantakan (macet, banjir), kumuh  dan miskin.

 

Kalau saya tidak boleh menerjemahkan idiom ini sebagai ejekan, bisa juga diterjemahkan sebagai pesan atau kritikan yang juga ditujukan kepada calon pimpinan jakarta yang akan terpilih pada tanggal 11 juli 2012 mendatang. Pilkada jakarta 2012 adalah momentum bagi Rakyat Jakarta untuk melahirkan kepemimpinan yang benar-benar serius ingin membenahi jakarta secara komprehensif.

 

Saya tidak begitu mengikuti dengan serius tahapan-tahapan pilkada jakarta. Namun saya sempat menyaksikan debat cagub pada hari ahad tanggal 24 juni 2012 di salah satu tv swasta nasional. Saya juga baru tahu pada saat itu bahwa ketua kpu jakarta adalah seorang anak muda dan seorang perempuan. Saya senang dengan hal ini. Menandakan bahwa anak muda dan perempuan semakin mendapatkan tempat yang lebih luas untuk  berpartisipasi lebih besar dalam ikut membangun demokrasi yang bermartabat.

 

Saya menangkap kesan bahwa demokrasi berjalan semakin baik. Sebagai warga jakarta dan warga Indonesia saya cukup puas menyaksikan debat publik cagub pilkada jakarta 2012.  Mungkin lebih tepatnya bukan debat, namun lebih kepada uji kompetensi. KPU sebagai wasit memang sudah selayaknya berdiri diatas semua kandidat termasuk diatas imcumbent. Dan benar-benar mengkondisikan lapangan tanding yang rata atau adil.

 

3 panelis yang cukup kritis, tajam serta objektif menandakan bahwa kpu benar-benar berupaya untuk menjadi wasit yang baik serta membantu masyarakat melahirkan kepemimpinan yang benar-benar mempunyai kompetensi yang mumpuni. Tidak hanya pandai beretorika namun juga mampu dan serius serta sungguh-sungguh melaksanakan janji atau ucapannya.

 

 

Jakarta dusun dari desa Indonesia

 

Bagi saya jakarta adalah sebuah dusun dari desa yang bernama Indonesia.

Dengan perkembangan tekonologi informasi yang begitu masif, menghilangkan batas-batas provinsi atau daerah. Apa yang terjadi saat ini di jakarta dalam hitungan detik pula tersebar ke seluruh penjuru. Kehilangan batas-batas inilah yang menyebabkan dan memungkinkan warga di suatu dusun bisa menjadi kepala dusun ditempat lain. Warga di satu daerah bisa menjadi pemimpin di daerah lain.

 

Kalau saat ini terjadi dalam satu negara, maka kedepan juga memungkinkan bahwa orang Indonesia bisa menjadi presiden di negeri-negeri asean lainnya dan tentu sebaliknya.

Bahwa masyarakat dunia akan menjadi satu bukanlah isapan jempol. Hal ini akan terjadi ketika manusia dimuka bumi sudah tidak lagi menganggap penting suku, agama, ras dan golongannya, namun lebih melihat kepada moral akhlaq sebagai makhluq yang satu. Sesuai tujuan penciptaan.

 

 

Bukan hanya macet dan banjir

 

Sebagai kota megapolitan multi budaya, jakarta sebanding dengan kota-kota besar dunia lainnya. Semua suku, agama, ras dan golongan berkumpul di Jakarta. Bukan hanya ras dalam nusantara saja, namun juga ras dari berbagai suku bangsa di dunia. Pendek kata jakarta adalah peradaban yang begitu kompleks.

 

Multikultural ini bukanlah kue baru. Bahkan ini adalah fitrah. Tuhan dengan sengaja menciptakan manusia berlainan satu sama lain. Bahkan keragaman ini sekaligus menjadi ujian terbesar bagi manusia. Yaitu ujian akhlaq untuk ber-toleransi. Berbuat baik kepada sesama golongan atau kelompok adalah biasa, namun ketika kebaikan itu merata kepada semua golongan, ini baru akhlaq yang luar biasa.

 

Menurut ahli sejarah Aggi Tjetje (keturunan Tiongkok),  ketika Nabi Muhammad SAW memegang kendali pemerintahan di Jazirah Arab pernah mengirim 3 pucuk surat.  Pertama ke kota Roma, kedua ke Konstantinopel dan ke Tiongkok. Isi surat tersebut sama yaitu  permohonan izin untuk menyebarkan islam. Romawi menolak, Namun Raja Tiongkok pada waktu itu menyambut hangat tawaran hubungan bilateral tersebut.

 

Setelah Nabi Muhammad SAW mendapatkan laporan bahwa Tiongkok memberikan izin dan bahkan menyambut hangat utusannya, pada saat itulah beliau memberikan statement “belajarlah kalian walau sampai ke negeri Tiongkok”.

 

Keterbukaan Tiongkok, keterbukaan Madinah kepada dunia luar di masa lalu harus menjadi spirit pembangunan Jakarta.

 

Permasalahan jakarta bukanlah hanya permasalahan macet, banjir, kumuh dan miskin. Ini hanya getaran. Akibat bukan sebab. Harus dicari benar-benar dimana sumber penyebab getaran tersebut. Blueprint tentang penanganan banjir, macet, kumuh dan miskin dan lain sebagainya sudah ratusan jumlahnya. Namun masalahnya dimana?

 

 

Belajar ke masa lalu

 

Kalau dimasa lalu mungkin kita bisa belajar dari Bung Karno dalam membebaskan Indonesia dari cengkaraman voc.  VOC adalah simbol kesewenang-wenangan pemilik modal (kapitalis) di masa silam. Pada waktu itu voc begitu kuat dan sebagian besar Sultan pimpinan daerah berada dalam ketiak voc. Sesuatu yang tidak mungkin untuk mengusir voc dari Indonesia bila menggunakan logika sederhana pada waktu itu. Namun Bung Karno dkk ternyata berhasil melakukan itu dan bahkan membikin Belanda terbelalak pada saat itu. Sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.

 

Ketulusan memperjuangkan hak-hak asasi manusia telah melahirkan kecerdasan dan keberanian luar biasa kepada diri Bung Karno dkk. Tidak ada kepentingan apa-apa kecuali kembalinya kemerdekaan bagi Rakyat Indonesia.

 

Kompleksitas masalah jakarta yang melebihi klasik dan kronisnya sistem voc membutuhkan kepemimpinan yang bukan hanya bersih, namun cerdas serta berani mengeksekusi keputusan-keputusan yang eksklusif dan berisiko tinggi. Harus berani melawan tekanan birokrasi nasional dan juga cukong-cukong jahat.

 

Diatas semua golongan

 

Jakarta bukan hanya membutuhkan penbenahan fisik, namun lebih penting dan mendasar adalah keteladanan moral akhlaq. Akhlaq adalah perilaku pengabdian makhluq kepada Khaliq. Makhluq tidak boleh berperlaku Khaliq, lancang menghakimi kelompok atau golongan lain.

 

Di negeri kaya seperti Belanda misalnya, pembagunan fisik bisa dibilang sempurna. Tidak ada banjir dan lalu lintas tertata dengan baik. Tidak ada ruang kumuh dan kemiskinan. Namun apakah lantas itu semua memberikan jaminan kesejahteraan? Kalau pemenuhan kebutuhan dasar biologis tentu melimpah, namun sama sekali tidak ada jaminan terpenuhinya kesejahteraan batin dalam arti yang sebenar-benarnya. Saya tidak bilang tidak perlu kaya raya. Namun lagi-lagi ini membuktikan bahwa materi bukanlah segalanya. Walaupun retorika ini banyak digunakan oleh orang-orang yang tidak mampu dan putus asa dalam meraih mimpi bisnis atau usahanya untuk menjadi kaya.

 

Terus kemana pembangunan jakarta harus diarahkan? Tentu masalah macet, banjir kumuh dan kemiskinan wajib menjadi prioritas. Untuk mengatasi ini tentu bukanlah sederhana. Namun ketika kepentingan peribadi dan golongan disingkirkan, maka akan melahirkan ketulusan dan keberanian membikin gebrakan. Sekalipun harus berhadapan dengan penguasa diatasnya (baca: penguasa nasional) dan mafia.

 

Namun tentu tidak berhenti disitu. Pembanguna Jakarta mesti melihat manusia secara holistik. Artinya dimensi nilai-nilai kemanusiaan seperti gotong royong, 3A (asah asih asuh) adalah suatu keniscayaan. Paguyuban-paguyuban persaudaraan antar golongan perlu distimulasi lebih serius lagi. Sehingga akan melahirkan rasa saling percaya dan kasih sayang.

 

Filsafat mens sana in corpore sano haruslah dirubah menjadi corpore sano in mens sana. Bukan dalam kecukupan materi ada kesejahteraan, namun dalam kesejahteraan itu sendiri ada kecukupan materi. Dan itu bersumber statement Tuhan.

 

Perubahan filsafat ini akan menjadikan Jakarta tetap berkumis. Bukan berantakan, kumuh dan miskin. Akan tetapi:  Bersih, taat Hukum dan Agamis. Bismillah.

 

(28.06.2012)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s