Lonceng kematian partai politik

Saya meyakini bahwa memahami sejarah bangsa menjadi bagian bukti kecintaan kepada tanah air. Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca biografi Bung Karno yang ditulis oleh Cindy Adam. Saya merasakan dan mayakini bahwa pemahaman saya semakin baik bagaimana sejarah perjuangan kemerdekaan yang dipimpin oleh Bung Karno dkk benar-benar penuh pahit dan getir. Belanda benar-benar sekuat tenaga ingin mempertahankan kekuasaannya di Indonesia. Hal ini tidak lain karena selama belanda berada Indonesia telah berhasil mendirikan perusahaan-perusahaan raksasa (VOC) yang telah memberikan keuntungan berlipat ganda. Tidak bisa dipungkiri bahwa kaya rayanya belanda telah ditopang oleh perdagangan di verre oost.

 

Saya memahami betul bahwa abad 16 negeri-negeri eropa berlomba-lomba mencapai negeri-negeri timur jauh (asia tenggara) untuk melakukan perdagangan. Terutama rempah-rempah pada saat itu. Ekonomi (kekayaan harta benda) menjadi daya tarik setiap manusia untuk melakukan perjalanan yang sulit dan jauh sekalipun. Kedatangan bangsa-bangsa eropa tentu disambut baik oleh pedagang-pedagang nusantara. Namun dengan berjalannya waktu dan didukung oleh ilmu pengetahuan dibarat yang satu langkah lebih maju, akhirnya perdagangan di nusantara dikuasai oleh belanda. Sultan-sultan dan raja-raja nusantara satu persatu takluk kepada belanda. Bisa juga karena kecintaan mereka kepada harta dibanding membela kepentingan rakyatnya. Namun bisa juga takluk karena peralatan perang yang tidak seimbang.

 

Perlawanan terhadap ketidakadilan belanda sesungguhnya tak pernah kehilangan ruh. Kita mengenal tokoh sepeti Cut Nyak Din, Pangeran diponegoro, Imam Bonjol dan masih banyak lagi. Dan puncaknya adalah perlawanan oleh Bung Karno dkk.

 

Pada saat itu perlawanan rakyat Indonesia mendapatkan momentum yang baik yaitu meletusnya perang dunia kedua. Belanda dan sekutunya tunduk kepada aliansi jepang jerman dan itali. Belanda dengan terpaksa dan sangat menyakitkan harus hengkang dan lari terbirit-birit dikejar tentara jepang.

 

Saya bukan bermaksud membangun kebencian, namun lebih kepada memahami sejarah perjalanan sebuah bangsa dan mengambil hikmah untuk membangun Indonesia kearah yang lebih baik. NKRI memang dideklarasikan pada tahun 1945. Tapi sesungguhnya bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang baru. ia telah mengenyam pahit getirnya pengalaman sejarah yang muncul dan tenggelam. Dari Rahim Nusantara telah lahir kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit,  Sriwijaya dan tentu ratusan dan bahkan ribuan jenis kerajaan juga pernah lahir ditanah zamrud khatulistiwa ini. Dan bahkan jauh sebelum masehi telah ada kerajaan yang begitu besar dan kuat.

 

Bentuk peta Indonesia yang menyerupai perahu bukanlah sebuah kebetulan. Perahu nusantara ini adalah bekas perahunya Nabi Nuh A.S yang diselamatkan itu. Paling tidak ini keyakinanku. Dan anda boleh tidak meyakininya.

 

Seperti halnya bangsa-bangsa dipermukaan bumi lainnya peradaban nusantara juga timbul tenggelam. Dari kerajaan yang baik menjadi kerajaan yang buruk. Dari pemerintahan yang buruk menjadi pemerintahan yang baik dan seterusnya masing-masing mempunyai episode. Inilah siklus peradaban manusia. Cukup lama eropa amerika menguasai ilmu pengetahuan dan dunia. Kini saatnya dalam waktu yang tak lama lagi  asia afrika akan memimpin. Krisis ekonomi yang terus mendera amerika eropa adalah tanda besar bahwa peralihan atau perubahan besar benar-benar sedang berlangsung.

 

Tidak ada bangsa yang lebih unggul dari bangsa yang lain kecuali dalam hal kebaikan. Dengan Ilmu pengetahuan manusia akan menjadi unggul bilamana digunakan untuk menciptakan kesejahteraan seluruh umat manusia. Namun bila sebaliknya untuk membinasakan umat manusia seperti yang terjadi saat ini, maka bukanlah sebuah keunggulan. Namun kehinaan yang hanya mendatangkan kebinasaan.

 

Kembali ke tanah air. Bung Karno telah membawa Rakyat Indonesia kepada fase baru. Fase satu langkah lebih maju. Yaitu fase untuk menentukan nasib sendiri. Kemana negeri ini akan dibawa.

 

Namun sayang, rupanya belum tercipta upaya regenerasi yang baik. Sehingga setelah Bung Karno lengser, Soeharto dkk berhasil membengkokkan tujuan pendirian bangsa ini. Belanda memang sudah tidak ada. Namun soeharto melestarikan cara-cara diktator ala belanda dengan senantiasa membungkam suara rakyat sebagaimana belanda membungkam suara sukarno dan seluruh Rakyat Indonesia.

 

Soeharto tidak membawa langkah mundur, namun hanya menahan kran langkah maju Indonesia Raya. Pecahnya gelombang reformasi 1998, membuka kembali kran suara tuntutan keadilan rakyat. Gusdur dkk sempat memimpin meluruskan kembali cita-cita rakyat. Namun sayang dengan sikap Gusdur yang cukup radikal, membuat banyak orang geram dan menimbulkan keadaan politik yang labil. Dalam situasi labil tersebut muncul sosok domba-domba yang menyamar srigala genit. Saya bilang domba bak srigala genit, karena sesungguhnya mereka ini bukanlah kumpulan srigala yang gagah, ganas dan perkasa. Namun hanya gerombolan domba-domba tersesat yang bermimpi menjadi srigala. Kumpulan manusia-manusia jahat, namun tidak mempunyai kecerdasan yang mumpuni. Sehingga setiap gerak tipu dayanya bisa dibaca dengan gamblang. Dan menjadi bahan tertawaan banyak orang.

 

Setelah Gusdur dkk lengser, dua kali Rakyat Indonesia memberi kesempatan kepada domba-domba tersesat ini untuk memimpin. Namun yang ketiga kalinya tentu tidak akan main-main. Pemilihan umum 2014 benar-benar akan menjadi momentum bagi seluruh Rakyat Indonesia untuk melahirkan kepemimpinan yang akan meluruskan kembali cita-cita Bangsa Indonesia. Kepemimpinan yang sejati, bukan palsu.

 

Runtuhnya  kekuasaan partai politik pada pilkada dki 2012 adalah pertanda lonceng kematian partai politik pada pemilu 2014 sudah berbunyi. Dan Rakyat Indonesia akan membuktikan itu.

 

 

 

22.07.12. syafiih kamil

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s