Masyarakat madani: Jakarta telah dan akan memberi contohnya (doaku)

Pilkada Jakarta 2012 telah usai dan jokowi ahok akan dilantik hari ini sebagai gubernur DKI . Pilkada Jakarta berlangsung begitu seru. Bahkan menyedot pehatian nasional. Menarik karena Jakarta adalah provinsi dengan APBD terbesar dari seluruh provinsi ditanah air (>180 T selama 5 thn).

Bukan hanya itu, menarik juga karena isu sara menjadi isu “seksi”. Banyak sekali statement yang menyudutkan kelompok lain, bak panah-panah beracun yang siap marasupi jiwa-jiwa kosong pemilih. Namun terbukti jakarta berhasil membaca arah panah-panah beracun itu dengan baik. Sebuah pelajaran berharga untuk menghalau tipu daya pilpres 2014.

Sejak reformasi bergulir tema SARA begulir begitu dinamisnya. Setiap kelompok golongan berlomba-lomba ingin menunjukkan eksistensi masing-masing. Bukan hanya parpol, namun setiap suku, agama  dan ras semakin cerdas menuntut  hak-haknya masing-masing sesuai jaminan konstitusi.

Sebagai sesama warga Indonesia, siapapun mempunyai hak yang sama. Dan ini benar-benar harus dikawal pelaksanaanya. Bukan hanya orang jawa, sunda, batak, madura, bugis, dll, namun etnis arab, etnis tionghoa dan etnis yahudi sekalipun juga wajib mendapat perlakuan yang sama ketika bersama-sama bermukim di nusantara.

Bukan hanya karena dijamin konstitusi NKRI, namun lebih-lebih karena jaminan hak dari sang Pemilik Nusantara, Pencipta dan pemilik langit dan bumi. Hukum alam semesta rujukan tertinggi bagi manusia untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bola salju reformasi yg bergulir sejak 1998 harus terus dan tetap on the track, walaupun tentu sedikit belak belok. Siapapun yang berusaha menahan arus keterbukaan dan kebebasan ini pasti tergilas, pasti tergilas, pasti tergilas. Perseteruan fenomen kpk-polri salah satu bukti bahwa proses reformasi terus berjalan secara dinamis.  Sektarianisme primordial sebagai imbas dari perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme perlahan-perlahan namun pasti akan lenyap. Dan tergantikan dengan prinsip-prinsip keterbukaan, keadilan dan kejujuran, tergantikan dengan prinsip universalisme atau bahasa arabnya prinsip rahmatan lil alamin.

Tuhan menciptakan manusia bermacam suku bangsa untuk saling mengenal  mencintai dan bukan sebaliknya. Sejarah peradaban manusia memang naik turun. Ada kutub materialisme, ada kutub spritualisme. Materialisme mendorong sifat kebinatangan dan spritualisme menyalakan cinta. Cinta tak mengenal batasan suku, agama, dan ras. Ia terbebas dari batasan ruang dan waktu karena ia bersumber dari Sang Pencipta yang tidak terikat dengan materi, ruang dan waktu pula.

Perbedaan adalah ujian nyata bagi manusia, karena adanya sifat kecendrungan mementingkan kelompoknya dan semena-mena terhadap golongan yang lain. Yang membedakan hanyalah perilaku baik atau akhlaq. Seberapa besar kemanfaatan seseorang, itulah parameternya. Dan bukan sesuatu yg abstrak yang hanya menjadi tanggung jawab manusia dengan tuhannya (baca: agama misalnya).

Era reformasi adalah era keterbukaan dan kebebasan berekpresi bagi siapapun. Era reformasi membuka ruang yang begitu luas kepada setiap individu untuk mencipta karya dan karsa. Termasuk dalam ranah kepemimpinan. Masing-masing  menemukan dan mengisi perannya, dengan tujuan terciptanya masyarakat harmoni.

Harmoni bukan lagi karena kesamaan suku, agama dan ras. Namun karena penggunaan akal sehat. Dan Jakarta telah dan akan memberi contoh untuk itu. Bismillah. Sukses kepada jokowi ahok!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s