Pilkada pamekasan

Tak lama lagi pemekasan akan menggelar pemilihan m1 m2, masing-masing kelompok sudah membikin ancang-ancang baik dg samar-samar sampai terang-terangan. Semua sudah mempersiapkan strateginya masing-masing dengan teorinya masing-masing, bahkan tak mustahil menggunakan tim ahli pemenangan pilgub dan bahkan meng-copy paste strategi pemenangan pilpres demi suksesnya rencana besar masing-masing.

Dana milyaran rupiah sudah disiapkan untuk mempermulus prosesi kelanggengan tahta, dan yang tak kalah pentingnya hampir semua pondok pesantren telah latah dan ikutan membantu suksesnya pesta demokrasi tersebut. Alquran dan hadist telah terbukti gagal bagi mereka untuk menggiring kemajuan pondok pesantren. Dan saya kira penodok psantren dalam waktu yang tak lama lagi akan meninggalkan kitab-kitab kuningnya juga dan segera menjadi peondok pesantren modern demi belajar demokrasi sehingga bisa melanggengkan prosesi pesta demokrasi dengan baik, sesuai syahwatnya masing-masing.

Alquran sudah ketinggalan zaman, karena selama berpuluh-puluh tahun belajar alquran sama sekali tak mengahasilkan apa-apa dari segi materi. Keadaan pondok pesantren tetap kumuh dan lulusannya pun tak bisa bersaing dengan lulusan institusi pendidikan modern. Baru sejak ikutan panggung politik ada perubahan yang signifikan baik dari segi bagunan fisik maupun jumlah siswa, karena reward dari penguasa cukup signifikan pula sabagai bentuk terima kasih. Sepertinya Tuhan tak punya kemampuan apa-apa lagi bagi pesantren sehingga mereka merasa perlu berselingkuh dengan selain Tuhan alias penguasa/pemerintah.

Inilah sebetulnya saat yang ditunggu-tunggu oleh kaum kapitalis ketika pondok pesantren telah tergiur ikutan pesta demokrasi, bahkan mereka telah ikut terlibat langsung dalam pesta pemilihan pemimpin. Semua berbondong-bondong ikut berbeperan aktif dan bahkan tak segan-segan menjadi tim sukses masing-masing.

Dengan adanya lampu hijau dari pondok pesantren ini, maka pembangunan Madura menunjukkan tanda-tanda yang jelas, lihat pembangunan suramadu yang cukup prestisius telah megah kokoh membentang di selat Madura, pelabuhan besar juga sedang dibangun di pantai utara pulau Madura. PASTI PASTI PASTI ada agenda besar untuk membangun Madura (baca: penjajahan ekonomi), seperti halnya pembangunan papua lewat Freeport, NTT dg Newmont, dan masih banyak lagi contohnya dimana masyarakat akar rumput benar-benar merasakan efeknya dari pembangunan proyek-proyek tersebut.

Akankah Madura akan lantang melawan pembangunan prestisius dipulau garam ini? Apa gerangan agenda besar penguasa NKRI di Madura ini? Saya masih ingat ketika habibi sebagai utusan soeharto waktu itu langsung turun gunung ke Madura demi meyakinkan Madura akan pentingnya industrialisasi dan bahkan kabarnya akan disetting menjadi batam II. Namun rencana itu ditolak mentah-mentah entah karena alasan apa.

Kini rencana ekploitasi kekayaan alam Madura berada dalam babak baru dengan sinyal yang jelas pembagunan suramadu yang terbentang kokoh. Sinyal ini semakin menambah kecurigaan bahwa Madura memang banyak menyimpan kekayaan alam, dimana hanya sedikit orang yang mengetahui hal ini. Namun sesungguhnya kaum kapitalis masih getar getir juga dengan rakyat Madura yang terkenal “pengko”, walaupun sebagian besar pimpinan pondok pesantren sudah berada dalam ketiak para pemilik modal namun tidak semua rakyat Madura taqlid buta pada kiai, bahkan ada semacam gerakan pembaruan untuk kembali menggunakan akal sehat masing-masing, sehingga saya sendiri tak hawatir penjajajahan ala Freeport dkk tak akan terjadi di tanah kelaihiranku ini.

Kalaupun kaum kapitalis memaksakan kehendaknya dengan memperdaya bupati-bupati Madura (baca: pion-pion pemilik modal) untuk melakukan penetrasi kepada masyarakat saya kira saat ini bukanlah zaman soeharto lagi. Masyarakat Madura yang relatif tak mengenyam pendidikan formal, namun masih melek hatinya (odhi’ atena).

Inilah sesungguhnya modal utama perjuangan itu yaitu ketika jiwa telah melewati episode kegelapan (baca: hasad, hasut, iri dengki dkk) menuju jiwa yang hidup. Sebuah masyarakat dengan tingkat pendidikan yang tinggi sama sekali tak ada jaminan terlepas dari kejahiliyahan, bahkan dengan tingkat pendidikan formal yang tinggi itu bisa menjadi puncak kejahiliyahan itu sendiri. Jahiliyah tidak hanya berarti buta huruf, buta panca indera, namun yang paling berbahaya adalah buta hati alias kematian jiwa. Antara manusia berpendidikan tinggi dibanding manusia berpendidikan seadanya namun sama-sama buta hati, maka manusia “berpendidikan” lebih dangerous dampaknya, apalagi pejabat publik dan para kapitalis, ia akan lebih berbahaya dari buto sekalipun.

Analisis ini tak bermaksud membangun kebencian kepada sosok pribadi manusia namun lebih kepada identifikasi sifat-sifat iblis yang bisa melekat pada jiwa ini. Karena perjuangan berat sesungguhnya bukan peperangan terbuka melawan musuh secara fisik, namun melawan nafsu masing-masing. Dengan kesadaran penyucian jiwa, maka praktek-praktek jaihiliyah penindasan, pembohongan konstituen dan rakyat akan lenyap dengan sendirinya.

Selamat berjuang melawan nafsu syahwat dan raih kembali kesucian jiwa itu, niscaya kepemimpinan dajjal ini akan berakhir dengan sendirinya.Alfatihah.

syafiih kamil

Iklan

Kembali suci, menata pamekasan dg cinta

Saya beberapa kali bertemu silaturrahmi dengan taretan di pamekasan untuk sekedar sharing berbagi pendapat tentang pamekasan. Saya lihat di raut wajahnya kesedihan dan juga kecewa bahkan ada juga nuansa putus asa melihat tingkat permasalahan yang begitu berlapis-lapis dan begitu kompleksnya baik dari birokrasi maupun kekompakan manusianya dalam melakukan kecurangan-kecurangan dengan berbagai dimensinya mulai dari tingkat desa, kecamatan sampai kabupaten. Namun disisi lain saya melihat ketulusan yang luar biasa ingin memberi arti kepada tanah kelahirannya.

Keadaan “salbut acar kalacer” yang multimdimensional ini membuat gambaran masalah menjadi campur aduk bak benang kusut, tak tahu dari mana harus dimulai. Mungkin ada juga semangat untuk langsung ingin membakar kekusutan benang itu secara radikal, paling tidak disatu titik yang dikira paling kusut dan paling menentukan untuk mengurai kekusutan itu misalnya upaya menjatuhkan bupati, camat ataupun kepala desa yang dikira menjadi biangnya.

Saya mendengar bahwa upaya-upaya ini pernah disetting untuk menggulingkan sby dan bahkan sudah dibikin hitung-hitungan dan strategi yang cukup masuk akal. Namun rupanya saya setuju pendapat sahabat saya (kalau saya tidak boleh menyebut beliau dengan guru) bahwa Indonesia bukanlah negeri yang monoton, ada cara-cara kreatif dan menohok dalam proses kejatuhan pemimpinnya. Tengok aja kejatuhan presiden NKRI memiliki karakteristik yang berbeda. Soekarno jatuh karena kudeta militer, soeharto oleh kudeta raktyat, gusdur kudeta MPR-RI, dan sepertinya jatuhnya SBY tidak akan sama dengan cara-cara sebelumnya.

Dalam kontek kepemimpinan di pamekasan saya belum pernah mengalami ada kudeta bupati dan camat namun kalau dilevel kades sempat terjadi beberapa kali kudeta berdarah alias “carok”. Kalau dijaman silam sudah ada praktek-praktek kudeta yang dilakukan sesama raja-raja penguasa Madura.
Walaupun ada upaya-upaya menjatuhkan pemimpin baik bapati, camat maupun kades, namun saya tidak melihat ada hasil yang signifikan dan bahkan cendrung zero alias “angar”. Bisa jadi karena modusnya memang sama sekali tak ada ketulusan memperjuangkan sebuah kebanaran, namun penuh dengan nafsu syahwat pribadi ataupun kelompok golongan untuk menggantikan kekuasan, dimana dimata rakyat sama saja bak harimau dan buaya yang selalu bersyahwat menerkam mangsa-mangsa lemah tak berdaya.

Yang menyebabkan tingkat kebingungan yang begitu dahsyat ditingkat akar rumput adalah keterlibatan para kyai-nya dalam dunia politik praktis. Namun Alhamdulillah Tuhan langsung menelanjangi syahwat alias kemunafikan mereka selama ini. Nasehat “menjauhi hubbuddun-ya” (tak lebur ka dunyya) selama ini telah menjadi kedok untuk mengelabuhi ummat sebagaimana bangsa barat menggunakan kedok demokrasi untuk “ngerjain” negeri timur. Mungkin Tuhan tidak mebuka membuka aib mereka secara langsung, namun bisa jadi Tuhan hanya mengijikan untuk dibuka.

Kalau Tuhan sudah membuka sendiri maka kita sungguh berada dalam keadaan siaga 1 dalam proses pergantian kepeminpinan daerah maupun nasional dan bahkan dunia dimana seremoni langsung akan dipimpin-Nya. Namun kalau Tuhan hanya mengijinkan maka cara pergantian kepemimpinan akan tejadi dengan diplomasi alias damai, tidak dengan cara radikal bencana alam misalnya.

Alhamdulillah keadaan dzolim (baca: kkn), semua mengetahui ttg berita fakta kemunafikan ini sampai ke akar rumput. Kesejahateraan dan kehancuran adalah pilihan dan pilihan itu ada didepan batang hidung warga pamekasan. Mereka mempertahankan cara-cara suksesi kepemipinan dengan cara jahiliyah (baca: amaen pesse) atau menggunakan akal sehat dan hati nurani masing-masing. Saya yakin pamekasan akan memilih sejahtera dengan meninggalkan jalan menuju kebinasaan dimaksud.

Walaupun saya tak lama pulang ke Madura namun cukup banyak menyerap informasi sehingga ada keinginan yang tulus untk menemani “taretan e Madura” yang kebingungan bagaimana memulai untuk menciptakan ruh baru yang segar di pamekasan. Bukan berarti saya tidak bingung juga namun ibarat perkalian matetika bahwa negatif kali negatif maka akan menjadi positif. Kalau sendainya ada 2 orang atau lebih yang serius memikirkan kebingungannya dan ia tergerak untuk bersilaturrahmi dengan saudara-saudaranya yang sama-sama bingung demi untuk jalan keselamatan, saya haqqul yakin bahwa tak ada alasan bagi Tuhan untuk tidak memberikan sedikit demi sedikit ilmu yang akan bisa mengurai benang kusut dimaksud secara bertahap namun pasti. Tuhan adalah fihak pertama yang bertanggung jawab untuk membenahi pamekasan dengan cara-Nya yang bisa radikal, namun juga bisa dengan musyawarah atau diplomasi bila memang masih ada manusia-manusia di pamekasan yang sanggup dan berani untuk bernegoisiasi dengan-Nya.

Dalam pertemuan beberapa kali dengan seorang sahabat , saya sempat dieberondong dengan pertanyaan-pertanyaan dan bahkan semacam tuntutan dengan ide-ide konkrit ttg perbaikan pamekasan. Padahal saya pulang kampung keninginan saya hanya satu sekedar silaturrahami, menyambung tali kasih sayang yang sempat terputus karena jarak, baik dengan keluarga maupun sahabat-sahabat dan saudara-saudara saya dimana rasa rindu ini cukup dalam. Tidak ada hasrat untuk membikin proyek-proyek prestius ataupun seminar dengan mendatangkan pembicara pembicara ahli untuk ikut andil memperbaiki pamekasan yang hancur lebur seperti sekarang. Karena saya yakin kehancuran dibarat dan ditimur saat ini termasuk di pamekasan adalah karena satu kata hilangnya “silaturrahmi”.

Saya tidak tahu persis arti kata silaturrahmi namun arti yang menohok dihati saya adalah upaya menjalin kasih sayang sesama warga pemekasan atas dasar cinta Allah dan Nabi Muhammad, titik. Ruh ini telah lenyap sempurna tidak hanya di Indonesia (baca: pamekasan) namun juga di seluruh penjuru bumi, dan hal ini saya rasakan betul selama saya 8 tahun tinggal di eropa.

Hanya satu kata untuk merubah dunia (pamakesan) yang gelap ini: yaitu dengan “cinta”. Cinta akan bersemai kembali dengan menyambung tali kasih sayang diantara manusia. Selamat iedul fitri selamat ber hbh, bersama kita semai kembali cinta dimuka bumi.

Syafiih kamil

Kepada hamba Allah Kholilurrahman, Bupati Penguasa Pamekasan,

Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam
Allahumma sholli ala muhammad waala ali muhammad

Kepada hamba Allah Kholilurrahman, Bupati penguasa Pamekasan,

Pamekasan, 12 Agustus 2011

Assalamulaikum wr.wb,
Surat ini dari hamba Allah syafiih kamil kepada hamba Allah Kholilurrahman Penguasa pamekasan
Nama saya syafiih kamil lahir dipamekasan 5 juni 1978 33 tahun silam. Semoga keselamatan dan kedamaian kepada Anda sekeluarga dunia akhirat, alfatihah, Amin.

Setelah 8 tahun mengembara di negeri belahan bumi yang lain, baru-baru ini saya pulang kampung halaman pamekasan tercinta. Sedihnya bukan main bahwa tidak hanya ditingkat pusat, dikota kecilpun dimana saya lahir manusia telah terang-terang menentang hukum Allah, tidak hanya petingginya, namun hampir semua sudah sempurna manjadi manusia materalis. Semua diukur dengan materi dan materi telah menjadi Tuhan secara sempurna di negeri ini, termasuk di pamekasan.
Sungguh saya sedih dan marah karena Allah ketika saya menyaksikan bahwa bahwa praktek-praktek hukum jahiliyah telah berkembang pesat di kota kelahiran saya. Hukum jahiliyah dimaksud contoh konkritnya adalah ketidakadilan dalam proses masuk menjadi pns. Saya mendengar dan ini telah menjadi keyakinan dan kebenaran masyarakat pamekasan bahwa untuk menjadi seorang pns haruslah mempunyai uang sogokan puluhan dan bahkan sampe ratusan juta. Sungguh ini sangat menghawatirkan karena akan menjadi “kultur dzolim alias jahiliyah”. Ketika hal ini tidak ada yang berani membenahi maka anak cucu pamekasan yang terkenal alim dan wara akan mengalami kemunduran akhlaq yang dahsyat, dan bukan tidak mungkin akan berakhir dengan kebinasaan alias punah.

Untuk menjadi seorang pemimpin baik kades, camat, bupati sampai presiden-pun telah sempurna mengikuti sistem jahiliyah (baca: hukum rimba, yg kuat dapat). Prinsip-prinsip kejujuran dan keadilan yang bersumber dari asmaul husna telah di injak-injak dan bahkan dengan terang-terangan ditentang tidak hanya oleh petinggi penguasa namun oleh seluruh manusia penghuni negeri ini. Hasbiyallahu lailahaillahu alaihi tawakkaltu wahuwa rabbul arsyil adzim.
Dalam situasi pengingkaran dan kemunafikan yang sempurna kepada hukum-hukum Tuhan seperti saat ini terjadi di pemekasan, di tanah air dan bahkan seluruh belahan bumi lainnya, forum syurga menjadi air dan udara segar dalam mengobati kegersangan jiwa manusia . Forum syurga yang saya maksudkan adalah dimana manusia didalamnya terbuka dan saling menyayangi, dan yang paling penting “apa adanya” atau menjadi “diri sendiri”. Yang saya rasakan saat ini sebagai bagian dari warga pamekasan adalah risih dan tak nyaman didalamnya. Masih banyak formalitas dan banyak bunga-bunga imitasi, walaupun saya tak bilang bahwa tak ada bunga yang orisinil.

Disaat manusia sibuk dengan urusan dunia dan bahkan begitu ganas harus saling membunuh menganiaya jiwa raga satu sama lain, manusia syurga datang membawa cinta dan kasih sayang kabar gembira dari Tuhan-nya.
Keberanian saya mengirimkan surat ini adalah karena ada kesadaran bahwa diri ini sama-sama jelmaan dari ceceren-ceceren air mani yang terpilih yang kemudian membuahi sel telur dan menjadi ovum hingga beruwujud menjadi manusia saat ini. Sungguh tak ada kepantasan membusungkan dada apalagi semena-mena kepada sesama hamba yang sama-sama tercipta dari sperma. Langit bumi dan seluruh alam semesta bertasbih bersujud dan memuji kekuasaan-Nya, Allahuakbar.

Demi Allah ini tak terbantahkan! termasuk para “ulama”, dan “cendikiawan” sekalipun telah berselingkuh sempurna dengan materi dan secara terang-terangan menetang hukum Allah. Sungguh hal ini sangat menghawatirkan. Dikota sekecil pamekasan sudah bermain ratusan juta sabagai uang sogok dan semua orang mengamini “kultur dzolim” ini termasuk para kiai-pun tenggelam dalam eforia materialisme ini. Akibatnya hanya orang-orang yang mempunyai “kekuatan” sajalah yang menikmati kekayaan bumi Allah ini, dan orang lemah semakin tersingkir, semakin melarat, semakin kurus kering dan akhirnya mati mengenaskan. Laila hailla anta subhnaka inni kuntu minadzdzlolimin.

Tak mungkin kita masuk kedalam sistem dzolim ini, semua warga yang mencintai negeri ini karena Tuhan-nya, membutuhkan sistem baru dangan ruh baru yang bersumber dari ruh tiupan-Nya. Manusia-manusia kompatibel dengan Tuhan-nyalah yang mampu untuk mempelopori terbentuknya sistem baru ini, semoga hamba Allah kholilurrahman termasuk didalamnya, amin.

Tidak hanya madura, NKRI dan bahkan dunia akan “ tenggelam dan binasa”, karena secara terus menerus membohongi Tuhan mereka, kecuali ada kesadaran dan taubat bersama untuk kembali sujud kepada-Nya. Sujud tidak hanya dalam sholat namun tak ada lagi pencurian uang negara, penghentian pemerasan oleh petinggi-petingginya, taubat nasuha dari segala bentuk korupsi, kolusi dan nepotisme adalah bentuk “sujud yang sesungguhnya”.
Demi Allah, Tuhan mengutus Nabi Muhammad SAW untuk memperbaiki akhlaq manusia, dan bukan untuk mengajari manusia berbuat ritual sesat . 90 persen lebih penduduk indonesia adalah umat islam dan luar biasa mesjidnya-pun megah-megah dan bahkan jamaah hajipun terbesar di muka bumi, namun sayang ibadahnya tersesat jauh dari makna sebenarnya. Persis seperti keadaan pada waktu Nabi Muhammad SAW diutus, dimana manusia saat itu juga terjadi eforia ibadah haji yang katanya mengikuti millah Ibrahim namun sungguh mereka ingkar dan tersesat jauh dari makna sesungguhnya, pekerjaan sehari-harinya adalah penindasan penganiayaan satu sama lain dan bahkan menuduh Muhammad tersesat kerena beliau hendak menerapkan prinsip kejujuran keadilan bagi jazirah arab dan semesta. Sungguh penentang hukum-hukum Allah mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, namun Allah telah mengunci mati hati mereka, kecuali yang dikehendaki untuk diselamatkan.

Indonesia dan dunia berada pada masa kritis antara dibinasakan atau diselamatkan. Namun saya yakin bahwa Allah akan menyelamatkan, karena manusia-manusia syurga terus melebarkan forumnya masing-masing dan semoga hamba Allah kholilurrahman benar-benar akan menjadi hamba kesayangannya Allah Ar-Rahman seperti ibrahim kholilullah a.s, yang akan menjadi salah satu pionir meneruskan kembali perjuangan Manusia agung Nabi Muhammad SAW dibumi madura dan nusantara dan bahka seantero dunia.
Demi Allah madura adalah serambi madinah, sungguh tak kebetulan nama ini diberikan kepada madura. Saya meyakini bahwa benar bahwa madura akan menjadi simbol perjuangan melawan kedzoliman NKRI dan seluruh penguasa dzolim dimuka bumi. Saya telah ikut meyakini dan bersumpah dengan seluruh manusia syurga bahwa Allah akan menggoncang langit dan bumi dengan tauhid-Nya lewat tangan hamba-hamban-Nya yang terpilih. Kebenaran telah datang dan kebatilan akan hancur. Sungguh ini sesuatu yang pasti terjadi. Allahuakbar-Allahuakbar-Allahuakbar Walillahilham.

Salam juang, sampai jumpa di syurga-Nya kelak.
amiiin alfatihah.

Syafiih kamil

Plakpak Pamekasan
syafiih.kamil@yahoo.com