Demokrasi di Pasar Malam Den haag

KBRI Den Haag kembali tahun ini mengorganisir Pasam Malam Indonesia di lapangan Malieveld Den haag 20 s.d 24 maret 2013. Tidak ketinggalan, tema politik selalu ada dimana-mana, tak terkecuali di Pasar Malam Den haag. PPI Belanda bekerja sama dengan KBRI dan Kemkominfo menyelenggarakan seminar dengan tema “Lingkar inspirasi: Demokrasi Berkualitas” di arena pasar malam Den haag, 23 maret 2013 mendatang. Wow…diskusi demokrasi sambil menikmati  dahsyatnya“kuliner Indonesia ” pasti seru.

Kayanya akan berbagai jenis bumbu, bukan hanya manusianya yang unik beragam, namun makanannya pun juga plural. Bukan hanya manusia yang berdemokrasi, namun bumbu makanan juga berdemokrasi sehingga menghasilkan produk resep makanan yang khas satu sama lain. Lombok mesti mau bersama-sama dengan terasi, garam, bawang dst sehingga menjadi sambal yang enak tenan. Ikan tengiri harus mau bercampur dengan tapioca, bawang putih dst sehingga menjadi pempek yang mantep…J (maaf kalau resepnya kurang lengkap).

Bak bumbu, kombinasi parpol, ormas, atau apapun harus menghasilkan resep produk kesejahteraan yang bisa dinikmati oleh rakyat, dan bukan sebaliknya menghasil racun-racun kebijakan yang membunuh keadilan.

Pemilihan ketua RW/RT

Demokrasi  juga bisa belajar dari pemilihan ketua RT dan RW. Budaya timur secara aklamasi menunjuk ketua RT/RW tanpa ragu. Itupun yang ditunjuk seringkali mengelak. Mengapa warga bisa aklamasi dalam  pemilihan RT/RW? Ada 2 (dua) jawaban. Pertama karena tidak “basah”. Yang kedua warga mengenal dengan baik sosok pak RT/RW yang sehari-hari bergaul dengan warga. Tidak eksklusif.

Mengapa pemilihan kades sampai presiden tidak bisa aklamasi? Jawabannya juga 2 (dua). Karena posisinya basah. Yang kedua karena rakyat tidak mengenal baik masing-masing calon. Seorang calon kepala desa biasanya muncul ke masyarakat ketika mendekati pemilihan saja. akibatnya rakyat menjadi galau. Ditambah lagi simpang siur perang informasi yang tidak mencerahkan dari masing-masing kandidat.

Media Massa

Industri Media massa sama persis halnya industri-industri lainnya. ia akan berusaha sungguh-sungguh untuk mendapatkan laba sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Akibatnya bukan hanya parpol dan ormas yang kehilangan khittah. Media massapun tak kalah dahsyatnya dalam membikin kebisingan dan kebingungan rakyat banyak.

Yang penting berita banyak yang klik (baca), kagak peduli apa isi beritanya. Entah baik atau buruk adalah nomor yang keseratus. 99 tujuannya harus menghasilkan laba sebesar-besarnya.

Media massa cendrung menjadi corong masing-masing kandidat (calon) dan menebarkan informasi propaganda memasuki rumah-rumah, memasuki ruang-ruang kosong setiap 250 juta lebih jiwa manusia Indonesia.

Saya tidak bilang semua media massa seperti itu, namun saya meyakini sebagian besar (1000:1) adalah berita-berita yang tidak mencerahkan. hanya 1 saja yang  mencerahkan. Olehnya karenanya dibutuhkan filter dan penetralisir,  sebelum sebuah informasi masuk kedalam jiwa dan menjadi sebuah keyakinan.

Sudah semestinya media massa sebagai salah satu pilar demokrasi segera kembali ke  khittah, yaitu menjadi nomor satu mencerahkan, bukan mengaburkan.

Tidak berhenti disitu, tipu muslihat survey pun gentayangan. Masing-masing kandidat pemimpin gencar membikin survey propaganda tandingan. Kalau dulu kita mengecam propaganda belanda yang getol mempertahankan hegemoni mereka di nusantara. Saat ini kita terjebak sendiri saling menebar propaganda untuk memenuhi hasrat nafsu masing-masing kelompok, dan mengesampingkan kepentingan kelompok lain atau kepentingan bersama.

Generasi Sosial Media

Bukan kebetulan muncul sosial media. Tidak ada daun yang jatuh diluar perencanaan Tuhan. Media massa tidak bisa lagi monopoli menebarkan informasi. Lewat social media rakyat bisa mencounter informasi-informasi yang menyesatkan. Lembaga-lembag survey tidak bisa lagi menebarkan tipu daya informasi menyesatkan, karena rakyat juga bisa membikin survey tandingan yang independen, objektif dan mencerahkan.

Kabar gembira juga datang ketika tokoh-tokoh nasional, para orang tua sudah mulai turun gunung untuk membantu secara langsung mengurai kesemrawutan demokrasi Indonesia. Bila selama ini mereka memantau dengan seksama, menghadapi pemilu 2014 saya yakin mereka akan turun gunung untuk bersama-sama mendamaikan parpol-parpol yang senantiasa bertikai.

Saya teringat ketika Nabi Muhammad SAW mendamaikan kabilah-kabilah qurays yang berebutan dan merasa berhak menempatkan hajar aswad ketempatnya pada waktu pemugaran ka’bah saat itu.

Secara fisik memang kita tidak bisa mengharap kedatangan Nabi Muhammad lagi, namun tetesan nur cahaya Muhammad SAW bisa menjelma kembali kepada siapapun yang Tuhan kehendaki, karena kesungguhannya membebaskan manusia dari kesewenang-wenangan di muka bumi.

Blusu’an para Nabi

Sesungguhnya pemimpin itu tidak membutuhkan kampanye. Segala gerak gerik perilakunya merupakan kampanye. Cerita para Nabi sesungguhnya tidak bisa lepas dari blusu’an menyambangi ummatnya.

Dalam siroh Nabawiyah, Nabi terkenal sering blusu’an, terutama ketempat-tempat fakir miskin, alias kawasan kumuh. Cerita yang juga ngetop adalah ketika Umar bin Khattab blusu’an ke sebuah kampung. Disana beliau mengintip sebuah rumah reok. Dan melihat seorang ibu yang menggodok batu, sampai anaknya ketiduran. Umar kemudian bergegas menuju ke gudang pangan dan membawakannya makanan untuk si Ibu dhuafa ini.

 

Indonesia Baru

Saat ini sesungguhnya kita telah memasuki era Indonesia baru. Era horizontal, tidak vertical lagi. Era blusu’an, bukan hanya mendengar laporan bawahan. Era ainul yaqin dan haqqul yaqin, bukan hanya ilmul yaqin.

Mengkaji sebuah masalah tidak hanya berdasarkan ilmu teori, namun mesti datang ke lapangan. Melihat dengan mata kepala sendiri. Sehingga ada triger untuk membangkitkan emosi  yang pada akhirnya akan menghasilkan getaran ke dalam relung hati lebih dalam. Setelah itu akan muncul pantulan keputusan (kebijakan) yang berasal dari hati, bukan dari nafsu tamak dengki.

Saya yakin bahwa diskusi lingkar inspirasi untuk demokrasi berkualitas yang akan diadakan sabtu ini di arena Pasar Malam Den Haag akan menghasilkan kesadaran baru berdemokrasi menyongsong lahirnya INDONESIA BARU.

Iklan

Jokowi presiden 2014? siapa takut….

Ada dua (2) mazab masyarakat berkembang menyikapi dua (2) hasil survey terakhir (PDB dan LSJ) yang mengkonfirmasi bahwa jokowi adalah calon presiden yang diinginkan Rakyat Indonesia, dan bukan capres lainnya.

Mazab pertama mendukung pencapresan 2019.  Yang kedua mazab pencapresan 2014. Masing-masing dengan narasi argumentasi dan logikanya yang menarik untuk bersama-sama dikaji lebih mendalam.

Mazab pertama berkeyakinan bahwa Jokowi harus melunasi utang janji kampanyenya sebelum ia melompat ke jabatan lain. Bahkan sebelumnya, ia sebagai walikota solo meninggalkan tugas sebelum usai. Sungguh tidak elok. Sungguh tidak etis. Biarkan Jokowi menyelesaikan masa tugasnya sebagai gubernur jakarta selama 5 tahun, baru kemudian boleh berfikir nyapres. Dan nantinya semua orang akan melihat, mendengar dan merasakan hasil kerjanya selama 5 tahun.

Bila hasilnya memuaskan atau bahkan sangat memuaskan tentu tidak akan mengalami hambatan berarti untuk nyapres 2019 nanti. Walau harus berhadapan dengan incumbent sekalipun.

Mazab kedua adalah kelompok masyarakat yang menginginkan Jokowi untuk segera nyapres 2014. Momentumnya adalah saat ini. Bukan menunggu 5 tahun lagi.  Kelamaan! Mazab ini sudah yakin betul dengan ketokohan, etos kerja serta kemampuan Jokowi dalam memimpin. Hasil dan cara kerja di solo selama 2 periode ditambah 4 bulan di Jakarta, sudah cukup bagi kelompok ini untuk menilai komitmen Jokowi terhadap visi misinya membangun Indonesia Baru. Tuduhan tidak etis, kutu loncat, dan mengkhianati pemilih jakarta bisa ditepis.

Ibarat sebuah perusahaan, jakarta adalah anak perusahaan NKRI. Sebagai presiden tentu Jokowi bisa “menekan” kepala daerah termasuk gubernur jakarta untuk melaksakan program kerja sesuai visi misi Indonesia Baru. Tidak hanya itu, sebagai presiden, ia bisa mengerahkan seluruh kekuatan kabinet sebagai busur dan APBN sebagai panahnya, untuk mempercepat penyelesaian target permasalahan di setiap daerah termasuk permasalahan ibu kota jakarta.

Kita semua tahu kebenaran filosofi yang seringkali diucapkan Ahok: Bila kepalanya lurus maka ekornya akan lurus. Bila presidennya lurus, maka seluruh kepala daerah niscaya juga akan lurus.

Pencapresan Jokowi tahun 2014, bukan mengkhianati rakyat Jakarta, akan tetapi justru Jokowi harus pasang badan lebih dahsyat lagi untuk mengawal APBN 2014-2019 yang akan mencapai 10.000 trilyun. Kita semua tahu, perputaran uang di Jakarta mencapai 70% total perputaran uang secara nasional. Rakyat Jakarta harus realistis dan bangga ketika jokowi harus menjadi presiden, sebagaimana rakyat solo dan seluruh daerah juga pasti akan lebih gembira, ketimbang hanya menjadi  gubernur jakarta.

Logika kekhawatiran kemampuan Jokowi dalam memimpin NKRI telah patah. Karena Jokowi telah membuktikan kemampuannya membikin gebrakan perubahan yang cukup mendasar di Jakarta, setelah banyak orang ragu akan kemampuannya,  karena ia datang dari kota solo yang dianggap kecil itu.

Kita akan terus menyimak dengan seksama perkembangan persaingan elektabilitas capres ini. Bila kecepatan dan akurasi kerja Jokowi terus naik perlahan tapi pasti, sampai mendekati 100% pada akhir tahun ini, maka elektabilitasnya tentu akan semakin muncer tak terkejar. Jauh meninggalkan elektabilitas capres lainnya. Ini artinya bahwa pencapresan jokowi adalah sebuah keniscayaan. Kita akan simak dan saksikan bersama-sama!

 

 

Lonceng kematian partai politik

Saya meyakini bahwa memahami sejarah bangsa menjadi bagian bukti kecintaan kepada tanah air. Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca biografi Bung Karno yang ditulis oleh Cindy Adam. Saya merasakan dan mayakini bahwa pemahaman saya semakin baik bagaimana sejarah perjuangan kemerdekaan yang dipimpin oleh Bung Karno dkk benar-benar penuh pahit dan getir. Belanda benar-benar sekuat tenaga ingin mempertahankan kekuasaannya di Indonesia. Hal ini tidak lain karena selama belanda berada Indonesia telah berhasil mendirikan perusahaan-perusahaan raksasa (VOC) yang telah memberikan keuntungan berlipat ganda. Tidak bisa dipungkiri bahwa kaya rayanya belanda telah ditopang oleh perdagangan di verre oost.

 

Saya memahami betul bahwa abad 16 negeri-negeri eropa berlomba-lomba mencapai negeri-negeri timur jauh (asia tenggara) untuk melakukan perdagangan. Terutama rempah-rempah pada saat itu. Ekonomi (kekayaan harta benda) menjadi daya tarik setiap manusia untuk melakukan perjalanan yang sulit dan jauh sekalipun. Kedatangan bangsa-bangsa eropa tentu disambut baik oleh pedagang-pedagang nusantara. Namun dengan berjalannya waktu dan didukung oleh ilmu pengetahuan dibarat yang satu langkah lebih maju, akhirnya perdagangan di nusantara dikuasai oleh belanda. Sultan-sultan dan raja-raja nusantara satu persatu takluk kepada belanda. Bisa juga karena kecintaan mereka kepada harta dibanding membela kepentingan rakyatnya. Namun bisa juga takluk karena peralatan perang yang tidak seimbang.

 

Perlawanan terhadap ketidakadilan belanda sesungguhnya tak pernah kehilangan ruh. Kita mengenal tokoh sepeti Cut Nyak Din, Pangeran diponegoro, Imam Bonjol dan masih banyak lagi. Dan puncaknya adalah perlawanan oleh Bung Karno dkk.

 

Pada saat itu perlawanan rakyat Indonesia mendapatkan momentum yang baik yaitu meletusnya perang dunia kedua. Belanda dan sekutunya tunduk kepada aliansi jepang jerman dan itali. Belanda dengan terpaksa dan sangat menyakitkan harus hengkang dan lari terbirit-birit dikejar tentara jepang.

 

Saya bukan bermaksud membangun kebencian, namun lebih kepada memahami sejarah perjalanan sebuah bangsa dan mengambil hikmah untuk membangun Indonesia kearah yang lebih baik. NKRI memang dideklarasikan pada tahun 1945. Tapi sesungguhnya bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang baru. ia telah mengenyam pahit getirnya pengalaman sejarah yang muncul dan tenggelam. Dari Rahim Nusantara telah lahir kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit,  Sriwijaya dan tentu ratusan dan bahkan ribuan jenis kerajaan juga pernah lahir ditanah zamrud khatulistiwa ini. Dan bahkan jauh sebelum masehi telah ada kerajaan yang begitu besar dan kuat.

 

Bentuk peta Indonesia yang menyerupai perahu bukanlah sebuah kebetulan. Perahu nusantara ini adalah bekas perahunya Nabi Nuh A.S yang diselamatkan itu. Paling tidak ini keyakinanku. Dan anda boleh tidak meyakininya.

 

Seperti halnya bangsa-bangsa dipermukaan bumi lainnya peradaban nusantara juga timbul tenggelam. Dari kerajaan yang baik menjadi kerajaan yang buruk. Dari pemerintahan yang buruk menjadi pemerintahan yang baik dan seterusnya masing-masing mempunyai episode. Inilah siklus peradaban manusia. Cukup lama eropa amerika menguasai ilmu pengetahuan dan dunia. Kini saatnya dalam waktu yang tak lama lagi  asia afrika akan memimpin. Krisis ekonomi yang terus mendera amerika eropa adalah tanda besar bahwa peralihan atau perubahan besar benar-benar sedang berlangsung.

 

Tidak ada bangsa yang lebih unggul dari bangsa yang lain kecuali dalam hal kebaikan. Dengan Ilmu pengetahuan manusia akan menjadi unggul bilamana digunakan untuk menciptakan kesejahteraan seluruh umat manusia. Namun bila sebaliknya untuk membinasakan umat manusia seperti yang terjadi saat ini, maka bukanlah sebuah keunggulan. Namun kehinaan yang hanya mendatangkan kebinasaan.

 

Kembali ke tanah air. Bung Karno telah membawa Rakyat Indonesia kepada fase baru. Fase satu langkah lebih maju. Yaitu fase untuk menentukan nasib sendiri. Kemana negeri ini akan dibawa.

 

Namun sayang, rupanya belum tercipta upaya regenerasi yang baik. Sehingga setelah Bung Karno lengser, Soeharto dkk berhasil membengkokkan tujuan pendirian bangsa ini. Belanda memang sudah tidak ada. Namun soeharto melestarikan cara-cara diktator ala belanda dengan senantiasa membungkam suara rakyat sebagaimana belanda membungkam suara sukarno dan seluruh Rakyat Indonesia.

 

Soeharto tidak membawa langkah mundur, namun hanya menahan kran langkah maju Indonesia Raya. Pecahnya gelombang reformasi 1998, membuka kembali kran suara tuntutan keadilan rakyat. Gusdur dkk sempat memimpin meluruskan kembali cita-cita rakyat. Namun sayang dengan sikap Gusdur yang cukup radikal, membuat banyak orang geram dan menimbulkan keadaan politik yang labil. Dalam situasi labil tersebut muncul sosok domba-domba yang menyamar srigala genit. Saya bilang domba bak srigala genit, karena sesungguhnya mereka ini bukanlah kumpulan srigala yang gagah, ganas dan perkasa. Namun hanya gerombolan domba-domba tersesat yang bermimpi menjadi srigala. Kumpulan manusia-manusia jahat, namun tidak mempunyai kecerdasan yang mumpuni. Sehingga setiap gerak tipu dayanya bisa dibaca dengan gamblang. Dan menjadi bahan tertawaan banyak orang.

 

Setelah Gusdur dkk lengser, dua kali Rakyat Indonesia memberi kesempatan kepada domba-domba tersesat ini untuk memimpin. Namun yang ketiga kalinya tentu tidak akan main-main. Pemilihan umum 2014 benar-benar akan menjadi momentum bagi seluruh Rakyat Indonesia untuk melahirkan kepemimpinan yang akan meluruskan kembali cita-cita Bangsa Indonesia. Kepemimpinan yang sejati, bukan palsu.

 

Runtuhnya  kekuasaan partai politik pada pilkada dki 2012 adalah pertanda lonceng kematian partai politik pada pemilu 2014 sudah berbunyi. Dan Rakyat Indonesia akan membuktikan itu.

 

 

 

22.07.12. syafiih kamil

 

Jakarta berkumis

BERKUMIS: berantakan, kumuh dan miskin. Begitulah ejekan dan sekaligus bentuk perlawanan Rakyat Jakarta terhadap kepemimpinan di Jakarta yang tidak menunjukkan tanda-tanda kemajuan. Dan malah sebaliknya semakin berantakan (macet, banjir), kumuh  dan miskin.

 

Kalau saya tidak boleh menerjemahkan idiom ini sebagai ejekan, bisa juga diterjemahkan sebagai pesan atau kritikan yang juga ditujukan kepada calon pimpinan jakarta yang akan terpilih pada tanggal 11 juli 2012 mendatang. Pilkada jakarta 2012 adalah momentum bagi Rakyat Jakarta untuk melahirkan kepemimpinan yang benar-benar serius ingin membenahi jakarta secara komprehensif.

 

Saya tidak begitu mengikuti dengan serius tahapan-tahapan pilkada jakarta. Namun saya sempat menyaksikan debat cagub pada hari ahad tanggal 24 juni 2012 di salah satu tv swasta nasional. Saya juga baru tahu pada saat itu bahwa ketua kpu jakarta adalah seorang anak muda dan seorang perempuan. Saya senang dengan hal ini. Menandakan bahwa anak muda dan perempuan semakin mendapatkan tempat yang lebih luas untuk  berpartisipasi lebih besar dalam ikut membangun demokrasi yang bermartabat.

 

Saya menangkap kesan bahwa demokrasi berjalan semakin baik. Sebagai warga jakarta dan warga Indonesia saya cukup puas menyaksikan debat publik cagub pilkada jakarta 2012.  Mungkin lebih tepatnya bukan debat, namun lebih kepada uji kompetensi. KPU sebagai wasit memang sudah selayaknya berdiri diatas semua kandidat termasuk diatas imcumbent. Dan benar-benar mengkondisikan lapangan tanding yang rata atau adil.

 

3 panelis yang cukup kritis, tajam serta objektif menandakan bahwa kpu benar-benar berupaya untuk menjadi wasit yang baik serta membantu masyarakat melahirkan kepemimpinan yang benar-benar mempunyai kompetensi yang mumpuni. Tidak hanya pandai beretorika namun juga mampu dan serius serta sungguh-sungguh melaksanakan janji atau ucapannya.

 

 

Jakarta dusun dari desa Indonesia

 

Bagi saya jakarta adalah sebuah dusun dari desa yang bernama Indonesia.

Dengan perkembangan tekonologi informasi yang begitu masif, menghilangkan batas-batas provinsi atau daerah. Apa yang terjadi saat ini di jakarta dalam hitungan detik pula tersebar ke seluruh penjuru. Kehilangan batas-batas inilah yang menyebabkan dan memungkinkan warga di suatu dusun bisa menjadi kepala dusun ditempat lain. Warga di satu daerah bisa menjadi pemimpin di daerah lain.

 

Kalau saat ini terjadi dalam satu negara, maka kedepan juga memungkinkan bahwa orang Indonesia bisa menjadi presiden di negeri-negeri asean lainnya dan tentu sebaliknya.

Bahwa masyarakat dunia akan menjadi satu bukanlah isapan jempol. Hal ini akan terjadi ketika manusia dimuka bumi sudah tidak lagi menganggap penting suku, agama, ras dan golongannya, namun lebih melihat kepada moral akhlaq sebagai makhluq yang satu. Sesuai tujuan penciptaan.

 

 

Bukan hanya macet dan banjir

 

Sebagai kota megapolitan multi budaya, jakarta sebanding dengan kota-kota besar dunia lainnya. Semua suku, agama, ras dan golongan berkumpul di Jakarta. Bukan hanya ras dalam nusantara saja, namun juga ras dari berbagai suku bangsa di dunia. Pendek kata jakarta adalah peradaban yang begitu kompleks.

 

Multikultural ini bukanlah kue baru. Bahkan ini adalah fitrah. Tuhan dengan sengaja menciptakan manusia berlainan satu sama lain. Bahkan keragaman ini sekaligus menjadi ujian terbesar bagi manusia. Yaitu ujian akhlaq untuk ber-toleransi. Berbuat baik kepada sesama golongan atau kelompok adalah biasa, namun ketika kebaikan itu merata kepada semua golongan, ini baru akhlaq yang luar biasa.

 

Menurut ahli sejarah Aggi Tjetje (keturunan Tiongkok),  ketika Nabi Muhammad SAW memegang kendali pemerintahan di Jazirah Arab pernah mengirim 3 pucuk surat.  Pertama ke kota Roma, kedua ke Konstantinopel dan ke Tiongkok. Isi surat tersebut sama yaitu  permohonan izin untuk menyebarkan islam. Romawi menolak, Namun Raja Tiongkok pada waktu itu menyambut hangat tawaran hubungan bilateral tersebut.

 

Setelah Nabi Muhammad SAW mendapatkan laporan bahwa Tiongkok memberikan izin dan bahkan menyambut hangat utusannya, pada saat itulah beliau memberikan statement “belajarlah kalian walau sampai ke negeri Tiongkok”.

 

Keterbukaan Tiongkok, keterbukaan Madinah kepada dunia luar di masa lalu harus menjadi spirit pembangunan Jakarta.

 

Permasalahan jakarta bukanlah hanya permasalahan macet, banjir, kumuh dan miskin. Ini hanya getaran. Akibat bukan sebab. Harus dicari benar-benar dimana sumber penyebab getaran tersebut. Blueprint tentang penanganan banjir, macet, kumuh dan miskin dan lain sebagainya sudah ratusan jumlahnya. Namun masalahnya dimana?

 

 

Belajar ke masa lalu

 

Kalau dimasa lalu mungkin kita bisa belajar dari Bung Karno dalam membebaskan Indonesia dari cengkaraman voc.  VOC adalah simbol kesewenang-wenangan pemilik modal (kapitalis) di masa silam. Pada waktu itu voc begitu kuat dan sebagian besar Sultan pimpinan daerah berada dalam ketiak voc. Sesuatu yang tidak mungkin untuk mengusir voc dari Indonesia bila menggunakan logika sederhana pada waktu itu. Namun Bung Karno dkk ternyata berhasil melakukan itu dan bahkan membikin Belanda terbelalak pada saat itu. Sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.

 

Ketulusan memperjuangkan hak-hak asasi manusia telah melahirkan kecerdasan dan keberanian luar biasa kepada diri Bung Karno dkk. Tidak ada kepentingan apa-apa kecuali kembalinya kemerdekaan bagi Rakyat Indonesia.

 

Kompleksitas masalah jakarta yang melebihi klasik dan kronisnya sistem voc membutuhkan kepemimpinan yang bukan hanya bersih, namun cerdas serta berani mengeksekusi keputusan-keputusan yang eksklusif dan berisiko tinggi. Harus berani melawan tekanan birokrasi nasional dan juga cukong-cukong jahat.

 

Diatas semua golongan

 

Jakarta bukan hanya membutuhkan penbenahan fisik, namun lebih penting dan mendasar adalah keteladanan moral akhlaq. Akhlaq adalah perilaku pengabdian makhluq kepada Khaliq. Makhluq tidak boleh berperlaku Khaliq, lancang menghakimi kelompok atau golongan lain.

 

Di negeri kaya seperti Belanda misalnya, pembagunan fisik bisa dibilang sempurna. Tidak ada banjir dan lalu lintas tertata dengan baik. Tidak ada ruang kumuh dan kemiskinan. Namun apakah lantas itu semua memberikan jaminan kesejahteraan? Kalau pemenuhan kebutuhan dasar biologis tentu melimpah, namun sama sekali tidak ada jaminan terpenuhinya kesejahteraan batin dalam arti yang sebenar-benarnya. Saya tidak bilang tidak perlu kaya raya. Namun lagi-lagi ini membuktikan bahwa materi bukanlah segalanya. Walaupun retorika ini banyak digunakan oleh orang-orang yang tidak mampu dan putus asa dalam meraih mimpi bisnis atau usahanya untuk menjadi kaya.

 

Terus kemana pembangunan jakarta harus diarahkan? Tentu masalah macet, banjir kumuh dan kemiskinan wajib menjadi prioritas. Untuk mengatasi ini tentu bukanlah sederhana. Namun ketika kepentingan peribadi dan golongan disingkirkan, maka akan melahirkan ketulusan dan keberanian membikin gebrakan. Sekalipun harus berhadapan dengan penguasa diatasnya (baca: penguasa nasional) dan mafia.

 

Namun tentu tidak berhenti disitu. Pembanguna Jakarta mesti melihat manusia secara holistik. Artinya dimensi nilai-nilai kemanusiaan seperti gotong royong, 3A (asah asih asuh) adalah suatu keniscayaan. Paguyuban-paguyuban persaudaraan antar golongan perlu distimulasi lebih serius lagi. Sehingga akan melahirkan rasa saling percaya dan kasih sayang.

 

Filsafat mens sana in corpore sano haruslah dirubah menjadi corpore sano in mens sana. Bukan dalam kecukupan materi ada kesejahteraan, namun dalam kesejahteraan itu sendiri ada kecukupan materi. Dan itu bersumber statement Tuhan.

 

Perubahan filsafat ini akan menjadikan Jakarta tetap berkumis. Bukan berantakan, kumuh dan miskin. Akan tetapi:  Bersih, taat Hukum dan Agamis. Bismillah.

 

(28.06.2012)

 

2014 Pertarungan saudagar?

Menurut hitung-hitungan sederhana, Golkar cukup diatas angin, dan ini juga diperkuat oleh beberapa survey baru-baru ini, walaupun juga diragukan ke-valid-annya. Namun masyarakat masih trauma dengan Golkar apalagi dengan ikon Ical yang diragukan akan memenuhi harapan banyak orang. Ke-frustasi-an akan semakin memuncak bila model kepemimpinan saat ini (sby) ber-estafet ke golkar (Ical), apalagi ke PDIP (Mega), kecuali Tuhan berkenan memberika hidayah kepada “Golkar” atau “PDIP”.

Namun harapannya besar bahwa akan ada pemutusan mata rantai kepemimpinan jahiliyah ini. Optimisme untuk terus belajar tetap ada, tak mungkin rakyat (termasuk kompasianer) berpangku tangan membiarkan kebodohan ini, sehingga nasib Republik ini secara terus menerus akan jatuh kembali ke tangan-tangan kotor dan berdarah. Butuh keseriusan belajar membedakan antara warna-warna dalam kehidupan antara yang merah kuning hijau dan seterusnya. Karena sesungguhnya tipu daya gentanyangan setiap saat, dan siap mencaplok kepala-kepala yang jiwanya kosong.

Empat kali Indonesia melaksanakan suksesi kepemimpinan (ada pendapat bahwa Mega dan Habibi gak dihitung karena cuma melanjutkan), namun tak menampakkan tanda-tanda kearah perbaikan yang signifikan. Presiden pertama dari tehnokrat, kemudian disusul tentara, kyai dan tentara lagi, namun tetap tiada hasil yang bisa dibanggakan. Banyak yang berharap terhadap Gus Dur, namun ia dijegal oleh temen seperjuangan sendiri yaitu Amin rais dan Mega. Gus dur cukup menyumbangkan egaliterisme dalam transisi otoritarian ke demokrasi.

Kemudian menjadi penasaran sekaligus juga kekhwatiran oleh siapa Indonesia kedepan akan di nahkodai. Sby yang tentara ternyata menyisakan kekecewaan mendalam bagi masyarakat. Estafet selanjutnya entah dari mana, mungkin bisa jadi dari background entrepreneur. Mengapa?

Ingat profesi entrepreneur menarik untuk dicermati, saya teringat profesi Nabi Muhammad SAW yang juga seorang entrepreneur sejati. Adakah Tuhan kebetulan memilih dari background saudagar?

Saudagar berasal dari sanskerta, sau= seribu, dagar=akal. Ada daya fikir eskalatif dan kreatif. Ada tempaan tantangan berlapis yang membuat kepribadiannya matang. Tempaan itu membuat ia mamahami rumus, struktur dan sendi kehidupan dengan baik, sehingga lihai memainkan papan catur untuk memenangkan sebuah persaingan.

Tak terbantahkan bahwa pemilik modal adalah pemegang kendali dunia saat ini termasuk di Indonesia. Banyak yang menduga bahwa kapitalis terkuat saat ini dari bangsa yahudi kemudia disusul arab. Kita tahu sejak zaman dahulu bahwa yahudi begitu cekatan dalam berdagang. Dizaman materialisme sudah menjadi keniscayaan bahwa materi memegang kendali. Siapa yang memiliki materi berlebih, maka ia yang akan memainkan papan catur tsb. Baik mulai dari tingkat desa, kabupaten, provinsi, sampai tingkat nasional dan bahkan dunia para kapitalislah yang memegang kendali.

Saudagar yang saya maksud tentunya yang mempunyai track record yang mulia. Kenyataan saat ini tidak bisa  dipungkiri bahwa dunia usaha adalah dunia gelap dan bahkan berdarah-darah. Kita saksikan bersama bagaimana hegemoni barat memporak-porandakan tatanan masyarakat dunia dengan perang, karena motivasi minyak dan tambang-tambang lainnya. Hal ini tentu kita saksikan bagaimana persaingan bisnis tidak sehat menyelimuti negeri ini. Siapa kuat ia dapat, persis bak hukum rimba. Kehadiran pemerintah sebagai penyelenggara Negara juga selalu berfihak kepada pemilik modal, karena ada kepentingan untuk kelangsungan nasib kekuasaan dimana keyakinan filsafatnya bahwa harus ditunjang oleh modal yang cukup untuk melanggengkan tahtanya. Akibatnya rakyat lemah tak bisa berkutik apa-apa. Pemandangan ini begitu sangat memuakkan, semakin detil memahami segala bentuk penindasan, semakin tinggi adrenalin dalam tubuh.

Bicara pengusaha Indonesia tentu nama Bakrie merupakan bagian dari sederetan nama-nama pengusaha sukses, namun banyak orang meragukan track recordnya. Kemungkinan maju sebagai capres, Ical mempunyai cukup peluang karena ia juga ketua umum partai Golkar, namun perjalana ke RI 1, saya yakin tak akan mulus karena tak sedikit masyarakat yang begitu sinis dengan ikon Ical.

Dengan demikian mesti ada sosok alternatif. Saat ini semua mata memandang sosok Dahlan Iskan, menteri BUMN yang baru dilantik. Sebagai seorang pengusaha saya yakin ia tak kalah dari Ical, dan bahkan Dahlan banyak menorehkan tinta-tinta kebaikan dalam benak masyarakat. Kecakapan sang DI saya kira akan teruji dan terlihat setelah ia 1 tahun menakhkodai BUMN. Akankah ia juga berhasil membikin gebrakan besar seperti di PLN? Masyarakat semua menantikan. Bila berhasil maka secera otomatis popularitas dia akan semain meroket. Saat ini ia tak bediri dipartai manapun, namun tak menutup kemungkinan rakyat secara aklamasi mengusung DI sebagai capres utama dalam pemilu 2014, yang mau tidak mau parpol juga mesti ikut arus masif masyarakat.

Akankan DI vs Ical akan benar terjadi di 2014? Bila demikian saya yakin DI akan memenangkan pentandingan secara mutlak apalagi apabila ia didapuk dengan Mahfud MD, sebagai partner ahli hukum.

Salam kebangkitan INDONESIA RAYA.

2014 udah dekat….apa yang bisa kita lakukan?

Pemerintahan sby 2,5 tahun lagi akan berakhir. Parpol telah siap-siap dengan strateginya masing-masing. Dari sabang sampai merauke saya kira sudah cukup muak melihat perilaku partai politik yang hanya  mengeruk keuntungan bagi diri dan kelompoknya. Berteriak-teriak rasanya sudah cukup, karena sampai saat ini tak ada yang mendengarkan. Walaupun saya tetap curiga bahwa diam-diam rasanya Tuhan juga gak tega membiarkan rintihan jutaan rakyat Indonesia tersebut.

Reformasi sudah 13 tahun jalan, namun tak menunjukkan tanda-tanda perbaikan signifikan, bahkan kelihatan tambah mengerikan karena pemegang kekuasaan semakin terang-terangan membohongi rakyat, sebuah pemandangan yang sangat memuakkan. Namun syukur Alhamdulillah ditengah gelap gulita ini, Tuhan mengirimkan satu dua orang yang bisa sedikit mengurangi “putus harapan” rakyat. Keberanian dan kejujuran ala ketua MK, dan keberhasilan Pak Dahlan meminpin PLN bisa menjadi obat keputusasaan banyak orang. Ada juga sosok lain yang cukup berani walau belum sepenuhnya teruji.  Saya yakin banyak contoh-contoh keberanian menegakkan kebenaran namun tak terekpose media.

Diluar lingkaran kekuasaan sesungguhnya juga cukup banyak sosok hebat dan sangat mencintai negeri ini begitu tulusnya. Saya ambil contoh sosok Muhammad Ainun Nadjib. Perjuangan beliau jarang terekspose media, padahal akselerasinya untuk mengubah paradigma masyarakat bisa dibilang luar biasa dahsyat. Beliau berkeliling menemani masyarakat untuk berbagi ilmu nur pencerahan. Dan bahkan bila ada masalah-masalah besar dalam masyarakat beliau turun gunung menemani mereka. Banyak contohnya dan saya kira temen-temen kompasiana mengetahui hal tsb.

Sepertinya memang kita mesti mempunyai keberanian untuk mendapuk orang-orang yang mempunyai integritas tersebut untuk menjadi lokomotif Indonesia baru. Mereka adalah orang-orang tawadhu dan tak mungkin meminta jabatan atau kekuasaan apapun kecuali kita seluruh rakyat yang ingin perubahan membaiatnya untuk menjadi pemimpin. Pertolongan Tuhan tak akan jatuh dari langit, namun mesti ada usaha sungguh-sungguh dari segenap rakyat Indonesia paling tidak yang yakin akan adanya perubahan yang lebih baik.

Saya kira tak ada waktu untuk berpangku tangan, kita mesti benar-benar mempersiapkan dengan sungguh-sungguh lahirnya Indonesia baru.  Bila ada ide-ide segar monggo kita rembug bareng-bareng. Saya berharap dalam waktu yang tak lama lagi akan ada kongres rakyat Indonesia yang benar-benar lahir dari bawah , lahir dari sekumpulan oranf yang tulus bekerja untuk sebuah perubahan yang lebih baik.