Masyarakat madani: Jakarta telah dan akan memberi contohnya (doaku)

Pilkada Jakarta 2012 telah usai dan jokowi ahok akan dilantik hari ini sebagai gubernur DKI . Pilkada Jakarta berlangsung begitu seru. Bahkan menyedot pehatian nasional. Menarik karena Jakarta adalah provinsi dengan APBD terbesar dari seluruh provinsi ditanah air (>180 T selama 5 thn).

Bukan hanya itu, menarik juga karena isu sara menjadi isu “seksi”. Banyak sekali statement yang menyudutkan kelompok lain, bak panah-panah beracun yang siap marasupi jiwa-jiwa kosong pemilih. Namun terbukti jakarta berhasil membaca arah panah-panah beracun itu dengan baik. Sebuah pelajaran berharga untuk menghalau tipu daya pilpres 2014.

Sejak reformasi bergulir tema SARA begulir begitu dinamisnya. Setiap kelompok golongan berlomba-lomba ingin menunjukkan eksistensi masing-masing. Bukan hanya parpol, namun setiap suku, agama  dan ras semakin cerdas menuntut  hak-haknya masing-masing sesuai jaminan konstitusi.

Sebagai sesama warga Indonesia, siapapun mempunyai hak yang sama. Dan ini benar-benar harus dikawal pelaksanaanya. Bukan hanya orang jawa, sunda, batak, madura, bugis, dll, namun etnis arab, etnis tionghoa dan etnis yahudi sekalipun juga wajib mendapat perlakuan yang sama ketika bersama-sama bermukim di nusantara.

Bukan hanya karena dijamin konstitusi NKRI, namun lebih-lebih karena jaminan hak dari sang Pemilik Nusantara, Pencipta dan pemilik langit dan bumi. Hukum alam semesta rujukan tertinggi bagi manusia untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bola salju reformasi yg bergulir sejak 1998 harus terus dan tetap on the track, walaupun tentu sedikit belak belok. Siapapun yang berusaha menahan arus keterbukaan dan kebebasan ini pasti tergilas, pasti tergilas, pasti tergilas. Perseteruan fenomen kpk-polri salah satu bukti bahwa proses reformasi terus berjalan secara dinamis.  Sektarianisme primordial sebagai imbas dari perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme perlahan-perlahan namun pasti akan lenyap. Dan tergantikan dengan prinsip-prinsip keterbukaan, keadilan dan kejujuran, tergantikan dengan prinsip universalisme atau bahasa arabnya prinsip rahmatan lil alamin.

Tuhan menciptakan manusia bermacam suku bangsa untuk saling mengenal  mencintai dan bukan sebaliknya. Sejarah peradaban manusia memang naik turun. Ada kutub materialisme, ada kutub spritualisme. Materialisme mendorong sifat kebinatangan dan spritualisme menyalakan cinta. Cinta tak mengenal batasan suku, agama, dan ras. Ia terbebas dari batasan ruang dan waktu karena ia bersumber dari Sang Pencipta yang tidak terikat dengan materi, ruang dan waktu pula.

Perbedaan adalah ujian nyata bagi manusia, karena adanya sifat kecendrungan mementingkan kelompoknya dan semena-mena terhadap golongan yang lain. Yang membedakan hanyalah perilaku baik atau akhlaq. Seberapa besar kemanfaatan seseorang, itulah parameternya. Dan bukan sesuatu yg abstrak yang hanya menjadi tanggung jawab manusia dengan tuhannya (baca: agama misalnya).

Era reformasi adalah era keterbukaan dan kebebasan berekpresi bagi siapapun. Era reformasi membuka ruang yang begitu luas kepada setiap individu untuk mencipta karya dan karsa. Termasuk dalam ranah kepemimpinan. Masing-masing  menemukan dan mengisi perannya, dengan tujuan terciptanya masyarakat harmoni.

Harmoni bukan lagi karena kesamaan suku, agama dan ras. Namun karena penggunaan akal sehat. Dan Jakarta telah dan akan memberi contoh untuk itu. Bismillah. Sukses kepada jokowi ahok!

Iklan

Konsolidasi memakmurkan bumi kembali

Konsolidasi menuju fase perlawanan terbuka memakmurkan bumi kembali

Kepada: Saudara sebangsa setanah air
Perihal: Urun Rembug
Jumat 13 Rabiul akhir 1432/ 18 Maret 2011

Pancasila dan UUD sebangai hasil konsensus nasional pada tahun 1945 yang diperjuangkan selama berabad-abad oleh seluruh elemen bangsa dari sabang sampai merauke menjadi dasar terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konsensus yang diperjuangkan dengan tumpah darah seluruh Rakyat Indonesia ini merupakan cita-cita mulia yang pelan tapi pasti akan menemukan bentuk sempurnanya setelah melalui pelajaran dari regim-regim yang menghambat tercapainya cita-cita mulia tersebut.

Bila mundur ke belakang Bangsa Indonesia merupakan kelanjutan peradaban di masa lalu, diantaranya Majapahit, Sriwijaya dan bahkan Prof.Santos dari Brazil dalam bukunya tentang Atlantis menulis bahwa Zamrud Khatulistiwa ini pernah menjadi pusat perdaban terbesar pertama di muka bumi pada waktu zaman es, ribuan tahun jauh sebelum masehi. Juga banyak penemuan-penemuan purbakala baru-baru ini yang menjadi bukti penting kejayaan negeri ini dimasa lampau jauh sebelum masehi.

Pendek kata, perjalanan peradaban di bumi nusantara ini sudah sedemikian rupa begitu panjang, lebih “sepuh” dari bangsa-bangsa yang saat ini memegang kendali perekonomian bumi. Belum lagi SDA-nya menjadi fakta tak terbantahkan, menjadi produsen kekayaan alam yang tiada duanya, anugerah Tuhan kepada anak-anak yang mendiami negeri ini.

Perjuangan berdarah-darah baik pada masa orde lama dan apalagi pada masa orde baru yang membatasi hak-hak rakyatnya telah melukai dan menyelewengkan amanat konsensus nasional 1945. Dan terbukti regim-regim itu tumbang dan menyisakan pelajaran berharga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seperti halnya yang terjadi saat ini di timur tengah bahwa kekuasaan sebesar dan sekuat apapun juga akan runtuh cepat atau lambat. Keruntuhan regim-regim di timur tengah memperjelas isyarat akan runtuhnya peradaban di barat sebagai lokomotif materialisme.

Kini Bangsa Indonesia memasuki tahun ke-13 Era Reformasi. Namun demokrasi yang sedang berjalan tak memberikan tanda-tanda perbaikan, parpol-parpol instan bak pendekar kesiangan mengumbar syhawat-nya masing-masing mengejar kekuasan dan memperkaya diri sendiri. Ada sebuah kekuatan dahsyat yang menginginkan Indonesia dipegang oleh orang-orang yang mudah dikendalikan, bukti nyata bahwa imprealisme masih tetap berlanjut hingga detik ini.

Kasus-kasus besar seperti BLBI, Century, Lapindo, Mafia Pajak, Insiden kerukunan antar SARA, tak pernah ada ujung pangkal dalam penyelesaian. Belum lagi aset-aset nasional diantaranya freeport, minyak bumi, batu bara dan masih banyak lagi mejadi santapan orang asing. Masalah-masalah ini bisa di deret lebih panjang lagi dan mungkin akan melebihi panjangnya garis khatulistiwa dari sabang sampai merauke.

Pada masa perang kemerdekaan Bung Karno pernah mengatakan bahwa lonceng kematian imprealisme telah berbunyi. Kalau kita saksikan saat ini terjadi rentetan peristiwa runtuhnya regim-regim di timur tengah secara beruntun bisa menjadi isyarat jelas bahwa imprealisme akan segera menemui ajalnya. Kebangkitan rakyat-rakyat tertindas baik diarab maupun di belahan-belahan negara-negara berkembang lainnya akan membatasi pergerakan orang tamak pemilik modal.

Indonesia menjalani episode panjang berabad-abad hidup dalam cengkraman imprealisme dan akhirnya behasil memproklamirkan diri pada tahun 1945. Usia NKRI relatif masih muda, namun yang melahirkan NKRI adalah peradaban besar dimasa lalu (baca: Majapahit Sriwijaya). Ada bibit unggul yang terangkai dan tersembunyi dalam struktur gen “anak-anak Indonesia”. Saya berharap gen-gen unggul itu akan segera muncul dalam waktu yang tak lama lagi sehingga bisa membebaskan negeri ini dari segala bentuk penindasan. Imprealisme tak mengenal nilai-nilai Asmaul Husna, penguasaan emas freeport, minyak bumi, batu bara dan semua kekayaan zamrud khatulistiwa ini adalah tujuan akhir dari perjuangan kaum tamak ini.

Kedaan seperti ini tentu tak mungkin di biarkan begitu saja, selama ini ketidaksetujuan terhadap ketidakadilan hanya dipendam di dalam hati, saat reformasi tiba sudah bisa bersuara lantang, dan fase selanjutnya adalah mempersiapkan langkah konkrit penyelamatan bumi nusantara pada khususnya dan memberi inspirasi kepada dunia untuk menegakkan kerajaan Tuhan Semesta Alam yang sesungguhnya, memakmurkan bumi sesuai kaidah Asmaul Husna.

Tahun 2014 tinggal 3 tahun lagi, rasanya cukup mendesak untuk menyusun konsolidasi sehingga raja Indonesia selanjutnya adalah RAJA ADIL yang akan bertitah sesuai Asmaul Husna. Seluruh elemen bangsa yang masih punya rasa cinta tanah air, bersama-sama mempersiapkan langkah konkrit untuk masa peralihan dari fase materialisme menuju fase spritualisme, dari masa gelap gulita menuju cahaya terang benderang.

Pejuangan penegakan keadilan secara komprehensif telah memasuki fase perlawanan secara terbuka. Pembekalan-pembekalan diri yang dilakukan oleh insan-insan beriman di negeri ini sudah cukup matang. Kita sudah bergerak jauh kedepan lebih cepat, dibanding pada era orla-dan orba, hak-hak sebagai warna negara sudah mulai menemui titik terang. Siapapun dan dari golongan apapun bebas berbicara dan mengemukakan pendapatnya secara bertanggung jawab. Namun tentu sebagai generasi cerdas tidak hanyut dalam euforia kebebasan berbicara tanpa ilmu.

Tak lepas dari arus reformasi , TNI dan POLRI juga menampakkan banyak perubahan positif yang menandakan bahwa saat ini Indonesia sedang bergerak ke arah “sumbu” yang benar. Tak sedikit insan-insan TNI/POLRI yang menemukan jati dirinya untuk senantiasa tulus mengabdi kepada Kerajaan Semesta Alam. Tak sedikit dari mereka yang berfihak pada prinsip keadilan.

Disamping itu munculnya tokoh-tokoh muda cerdas emosi dan spritual juga semakin mengobarkan semangat untuk “hijrah”. Juga masih tersisanya para sesepuh bangsa yang senantiasa menyuarakan suara-suara hukum kerajaan Tuhan semesta alam, memberi energi positif dan tauladan tersendiri kepada Indonesia untuk bergerak lebih cepat.

Waktu sangat mendesak untuk menyusun sebuah konsolidasi nasional insan beriman. Kepada seluruh elemen bangsa dari sabang sampai merauke yang dengan tulus mencintai negeri ini apa adanya, kini saatnya melakukan langkah konkrit dalam rangka menyambung peralihan pemerintahan pada tahun 2014, sehingga berlangsung dengan tertib, aman dan damai, pendek kata REVOLUSI DAMAI.

Seluruh kekuatan pemuda , militer, sesepuh bangsa dan seluruh rakyat indoensia saatnya membebaskan diri dari cinta dunia dan takut mati, hanya mengabdi dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan bukan kepada materialisme.

Muhammad Ainun Nadjib memformulasikan ada 5 pilar bangsa yaitu Rakyat, Militer, Kaum Intelektual, kekuatan adat dan kekuatan keagamaan dan spiritual. Bila seluruh kekuatan bangsa ini bersinergi mengikuti fitrah, maka Bangsa Indonesia akan mencapai puncak kejayaannya, menjadi mercusuar dunia sebagai pancaran kerajaan Tuhan Semesta Alam. AllahuAkbar-Allahuakbar-Allahuakbar walillahilham.

”Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau lihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan memohon ampunan kepada-Nya, sungguh Dia Maha penerima taubat”

Syafiih Kamil
Amstelveen
The Netherlands
syafiih.kamil@gmail.com

Konsolidasi memakmurkan bumi kembali

Konsolidasi menuju fase perlawanan terbuka memakmurkan bumi kembali

 

Jumat 13 Rabiul akhir 1432/ 18 Maret 2011

 

Pancasila dan UUD sebangai hasil konsensus nasional pada tahun 1945 yang diperjuangkan selama berabad-abad oleh seluruh elemen bangsa dari sabang sampai merauke menjadi dasar terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konsensus yang diperjuangkan dengan tumpah darah seluruh Rakyat Indonesia ini merupakan cita-cita mulia yang pelan tapi pasti akan menemukan bentuk sempurnanya setelah melalui pelajaran dari regim-regim yang menghambat tercapainya cita-cita mulia tersebut.

 

Bila mundur ke belakang Bangsa Indonesia merupakan kelanjutan peradaban di masa lalu,  diantaranya Majapahit, Sriwijaya dan bahkan Prof.Santos dari Brazil dalam bukunya tentang Atlantis menulis bahwaZamrud Khatulistiwa ini pernah menjadi pusat perdaban terbesar pertama di muka bumi pada waktu zaman es, ribuan tahun jauh sebelum masehi. Juga banyak penemuan-penemuan purbakala baru-baru ini yang menjadi bukti penting kejayaan negeri ini dimasa lampau jauh sebelum masehi.

 

Pendek kata, perjalanan peradaban di bumi nusantara ini sudah sedemikian rupa begitu panjang, lebih “sepuh” dari bangsa-bangsa yang saat ini memegang kendali perekonomian bumi. Belum lagi SDA-nya menjadi fakta tak terbantahkan, menjadi produsen kekayaan alam yang tiada duanya, anugerah Tuhan kepada anak-anak yang mendiami negeri ini.

 

Perjuangan berdarah-darah baik pada masa orde lama dan apalagi pada masa orde baru yang membatasi hak-hak rakyatnya telah melukai dan menyelewengkan amanat konsensus nasional 1945. Dan terbukti regim-regim itu  tumbang dan menyisakan pelajaran berharga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seperti halnya yang terjadi saat ini di timur tengah bahwa  kekuasaan sebesar dan sekuat apapun juga akan runtuh cepat atau lambat. Keruntuhan regim-regim di timur tengah memperjelas isyarat akan runtuhnya peradaban di barat sebagai lokomotif materialisme.

 

Kini Bangsa Indonesia memasuki tahun ke-13 Era Reformasi. Namun demokrasi yang sedang berjalan tak memberikan tanda-tanda perbaikan, parpol-parpol instan bak pendekar kesiangan mengumbar syhawat-nya masing-masing  mengejar kekuasan dan memperkaya diri sendiri. Ada sebuah kekuatan dahsyat yang menginginkan Indonesia dipegang oleh orang-orang yang mudah dikendalikan, bukti nyata bahwa imprealisme masih tetap berlanjut hingga detik ini.

 

Kasus-kasus besar seperti BLBI, Century, Lapindo, Mafia Pajak, Insiden kerukunan antar SARA, tak pernah ada ujung pangkal dalam penyelesaian. Belum lagi aset-aset nasional diantaranya freeport, minyak bumi, batu bara dan masih banyak lagi mejadi santapan orang asing.  Masalah-masalah ini bisa di deret lebih panjang lagi dan mungkin akan melebihi panjangnya garis khatulistiwa dari sabang sampai merauke.

 

Pada masa perang kemerdekaan Bung Karno pernah mengatakan bahwa lonceng kematian imprealisme telah berbunyi. Kalau kita saksikan saat ini terjadi rentetan peristiwa runtuhnya regim-regim di timur tengah secara beruntun bisa menjadi isyarat jelas bahwa imprealisme akan segera menemui ajalnya. Kebangkitan rakyat-rakyat tertindas baik diarab maupun di belahan-belahan negara-negara berkembang lainnya akan membatasi pergerakan orang tamak pemilik modal.

 

Indonesia menjalani episode panjang berabad-abad hidup dalam cengkraman imprealisme dan akhirnya behasil memproklamirkan diri pada tahun 1945. Usia NKRI relatif masih muda, namun yang melahirkan NKRI adalah peradaban besar dimasa lalu (baca: Majapahit Sriwijaya). Ada bibit unggul yang terangkai dan tersembunyi dalam struktur gen “anak-anak Indonesia”. Saya berharap gen-gen unggul itu akan segera muncul dalam waktu yang tak lama lagi sehingga bisa membebaskan negeri ini dari segala bentuk penindasan. Imprealisme tak mengenal nilai-nilai Asmaul Husna, penguasaan emas freeport, minyak bumi, batu bara dan semua kekayaan zamrud khatulistiwa ini adalah tujuan akhir dari perjuangan kaum tamak ini. 

 

Kedaan seperti ini tentu tak mungkin di biarkan begitu saja, selama ini ketidaksetujuan terhadap ketidakadilan hanya dipendam di dalam hati, saat reformasi tiba sudah bisa bersuara lantang, dan fase selanjutnya adalah mempersiapkan langkah konkrit penyelamatan bumi nusantara pada khususnya dan memberi inspirasi kepada dunia untuk menegakkan kerajaan Tuhan Semesta Alam yang sesungguhnya, memakmurkan bumi sesuai kaidah Asmaul Husna.

 

Tahun 2014 tinggal 3 tahun lagi, rasanya cukup mendesak untuk menyusun konsolidasi sehingga raja Indonesia selanjutnya adalah RAJA ADIL yang akan bertitah sesuai Asmaul Husna. Seluruh elemen bangsa yang masih punya rasa cinta tanah air, bersama-sama mempersiapkan langkah konkrit untuk masa peralihan dari fase materialisme menuju fase spritualisme, dari masa gelap gulita menuju cahaya terang benderang.

 

Pejuangan penegakan keadilan secara komprehensif  telah memasuki fase perlawanan secara terbuka. Pembekalan-pembekalan diri yang dilakukan oleh insan-insan beriman di negeri ini sudah cukup matang. Kita sudah bergerak jauh kedepan lebih cepat, dibanding pada era orla-dan orba, hak-hak sebagai warna negara sudah mulai menemui titik terang. Siapapun dan dari golongan apapun bebas berbicara dan mengemukakan pendapatnya secara bertanggung jawab. Namun tentu sebagai generasi cerdas tidak hanyut dalam euforia kebebasan berbicara tanpa ilmu.

 

Tak lepas dari arus reformasi , TNI dan POLRI juga menampakkan banyak perubahan positif yang menandakan bahwa saat ini Indonesia sedang bergerak ke arah “sumbu” yang benar. Tak sedikit insan-insan TNI/POLRI yang menemukan jati dirinya untuk senantiasa tulus mengabdi kepada Kerajaan Semesta Alam. Tak sedikit dari mereka yang berfihak pada prinsip keadilan.

 

Disamping itu munculnya tokoh-tokoh muda cerdas emosi dan spritual juga semakin mengobarkan semangat untuk “hijrah”. Juga masih tersisanya  para sesepuh bangsa yang senantiasa menyuarakan suara-suara hukum kerajaan Tuhan semesta alam, memberi energi positif dan tauladan tersendiri  kepada Indonesia untuk bergerak lebih cepat.

 

Waktu sangat mendesak untuk menyusun sebuah konsolidasi nasional insan beriman. Kepada seluruh elemen bangsa dari sabang sampai merauke yang dengan tulus mencintai negeri ini apa adanya, kini saatnya melakukan langkah konkrit dalam rangka menyambung peralihan pemerintahan pada tahun 2014, sehingga berlangsung dengan tertib, aman dan damai, pendek kata REVOLUSI DAMAI.

 

 

Seluruh kekuatan  pemuda , militer, sesepuh bangsa dan seluruh rakyat indoensia saatnya membebaskan diri dari cinta dunia dan takut mati, hanya mengabdi dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan bukan kepada materialisme.

 

Muhammad Ainun Nadjib memformulasikan ada 5 pilar bangsa yaitu Rakyat, Militer, Kaum Intelektual, kekuatan adat dan kekuatan  keagamaan dan spiritual. Bila seluruh kekuatan bangsa ini bersinergi mengikuti fitrah, maka Bangsa Indonesia akan mencapai puncak kejayaannya, menjadi mercusuar dunia sebagai pancaran kerajaan Tuhan Semesta Alam. AllahuAkbar-Allahuakbar-Allahuakbar walillahilham.

 

”Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau lihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan memohon ampunan kepada-Nya, sungguh Dia Maha penerima taubat”

 

Syafiih Kamil

Amstelveen

The Netherlands

syafiih.kamil@gmail.com

 

Krisis adalah peluang

Judul ini saya ambil setelah saya membaca artikel Prof.Paul de Blot guru besar Nyenrode University, the Netherlands tentang ” crisis biedt nieuwe kansen” (krisis adalah peluang), artikelnya bisa dibaca dalam bahasa belanda di: http://pauldeblot.nl/2009/01/01/de-crisis-biedt-nieuwe-kansen/

Dengan peringatan 17 Agustus yang baru-baru ini kita rayakan bersama, mengingatkan saya tentang multidimensi krisis di tanah air. 65 tahun merdeka dari penjajahan fisik. Namun dari sisi kejiwaan dan nurani masih kelam. Banyak  yang masih mempunyai harapan, namun juga tak sedikit yang dilanda keputusasaan hebat melihat perkembangan peradaban ditanah air. Berita-berita ketidakadilan kedzoliman penguasa beserta titah-titahnya menjadi menu sehari-hari. Bukan hanya krisis biasa yang sedang melanda namun sebuah kegelapan dalam kegelapan.

Belajar dari pengalaman bangsa-bangsa lain bahwa mereka juga melalui proses-proses masa sulit untuk menemukan potensi besar yang mereka miliki untuk membangun kembali peradaban bangsanya. Belajar dari berita-berita kitab suci, bahwa Tuhan akan mengirimkan pertolongan ruh baru bila manusia telah mengalami kehancuran dan kehinaan yang luar biasa.  Belajar dari alam akan ada proses kreatif destruktif untuk memperoleh keseimbangan baru. Siklus-siklus ini pasti terus berjalan dan tak hanya terjadi dalam dunia flora dan fauna namun juga terjadi dalam peradaban kejiwaan manusia.

Siklus kejiwaan manusia hanya dua hal yaitu antara materialisme dan spritualisme, antara angkuh sesat dan berserah diri  di dalam struktur kerajaan Sang Raja Pencipta.

Mulai dari adam hingga saat ini, siklus inilah yang terus berjalan. Dan saat ini sepertinya kita sedang berada dalam titik kulminasi materialisme. Tak heran bila peperangan konflik dimana-mana, karena manusia sesungguhnya sedang berebut materi. Namun setelah ini akan ada proses pembersihan, pensucian, pemurnian kembali. Sampah dan riak-riak materialisme akan di daur ulang, disaring dan dimurnikan kembali.

Menarik untuk di cermati bahwa peradaban materialisme terkesima dengan  Indonesia. Logik karena mulai dari kolam susu hingga gunung emas berdiri megah. Logik bila pemilik hak kekayaan ini dibikin blo’on tak berdaya inferioritas. Sehingga mereka bisa merampok seenaknya. Sebuah model perampokan dahsyat akhir zaman yang tak kasat mata, namun kasat hati.

Menarik dicermati juga bahwa disana juga Tuhan menabur benih spritualisme. Benih cinta yang akan mengubur kerakusan dan kesemena-menaan manusia. Rasa kasih sayang kepada sesama dan alam semesta seperti yang diteladankan oleh Baginda Nabi 14 abad yang lalu.

Benih-benih persahabatan lintas suku,  dan “agama” mulai ngetrend di negeri ini. Materi menjadi alat penyambung kemanusiaan bukan sebaliknya. Manusia-manusia yang masih sedikit ini tak lagi mempermasalahkan perbedaan, namun fokus kepada kontribusi perdamaian dan kesejahteraan bagi sesama sebagai perwujudan cinta kepada Tuhan dan Nabi Muhammad SAW.