Lonceng kematian partai politik

Saya meyakini bahwa memahami sejarah bangsa menjadi bagian bukti kecintaan kepada tanah air. Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca biografi Bung Karno yang ditulis oleh Cindy Adam. Saya merasakan dan mayakini bahwa pemahaman saya semakin baik bagaimana sejarah perjuangan kemerdekaan yang dipimpin oleh Bung Karno dkk benar-benar penuh pahit dan getir. Belanda benar-benar sekuat tenaga ingin mempertahankan kekuasaannya di Indonesia. Hal ini tidak lain karena selama belanda berada Indonesia telah berhasil mendirikan perusahaan-perusahaan raksasa (VOC) yang telah memberikan keuntungan berlipat ganda. Tidak bisa dipungkiri bahwa kaya rayanya belanda telah ditopang oleh perdagangan di verre oost.

 

Saya memahami betul bahwa abad 16 negeri-negeri eropa berlomba-lomba mencapai negeri-negeri timur jauh (asia tenggara) untuk melakukan perdagangan. Terutama rempah-rempah pada saat itu. Ekonomi (kekayaan harta benda) menjadi daya tarik setiap manusia untuk melakukan perjalanan yang sulit dan jauh sekalipun. Kedatangan bangsa-bangsa eropa tentu disambut baik oleh pedagang-pedagang nusantara. Namun dengan berjalannya waktu dan didukung oleh ilmu pengetahuan dibarat yang satu langkah lebih maju, akhirnya perdagangan di nusantara dikuasai oleh belanda. Sultan-sultan dan raja-raja nusantara satu persatu takluk kepada belanda. Bisa juga karena kecintaan mereka kepada harta dibanding membela kepentingan rakyatnya. Namun bisa juga takluk karena peralatan perang yang tidak seimbang.

 

Perlawanan terhadap ketidakadilan belanda sesungguhnya tak pernah kehilangan ruh. Kita mengenal tokoh sepeti Cut Nyak Din, Pangeran diponegoro, Imam Bonjol dan masih banyak lagi. Dan puncaknya adalah perlawanan oleh Bung Karno dkk.

 

Pada saat itu perlawanan rakyat Indonesia mendapatkan momentum yang baik yaitu meletusnya perang dunia kedua. Belanda dan sekutunya tunduk kepada aliansi jepang jerman dan itali. Belanda dengan terpaksa dan sangat menyakitkan harus hengkang dan lari terbirit-birit dikejar tentara jepang.

 

Saya bukan bermaksud membangun kebencian, namun lebih kepada memahami sejarah perjalanan sebuah bangsa dan mengambil hikmah untuk membangun Indonesia kearah yang lebih baik. NKRI memang dideklarasikan pada tahun 1945. Tapi sesungguhnya bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang baru. ia telah mengenyam pahit getirnya pengalaman sejarah yang muncul dan tenggelam. Dari Rahim Nusantara telah lahir kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit,  Sriwijaya dan tentu ratusan dan bahkan ribuan jenis kerajaan juga pernah lahir ditanah zamrud khatulistiwa ini. Dan bahkan jauh sebelum masehi telah ada kerajaan yang begitu besar dan kuat.

 

Bentuk peta Indonesia yang menyerupai perahu bukanlah sebuah kebetulan. Perahu nusantara ini adalah bekas perahunya Nabi Nuh A.S yang diselamatkan itu. Paling tidak ini keyakinanku. Dan anda boleh tidak meyakininya.

 

Seperti halnya bangsa-bangsa dipermukaan bumi lainnya peradaban nusantara juga timbul tenggelam. Dari kerajaan yang baik menjadi kerajaan yang buruk. Dari pemerintahan yang buruk menjadi pemerintahan yang baik dan seterusnya masing-masing mempunyai episode. Inilah siklus peradaban manusia. Cukup lama eropa amerika menguasai ilmu pengetahuan dan dunia. Kini saatnya dalam waktu yang tak lama lagi  asia afrika akan memimpin. Krisis ekonomi yang terus mendera amerika eropa adalah tanda besar bahwa peralihan atau perubahan besar benar-benar sedang berlangsung.

 

Tidak ada bangsa yang lebih unggul dari bangsa yang lain kecuali dalam hal kebaikan. Dengan Ilmu pengetahuan manusia akan menjadi unggul bilamana digunakan untuk menciptakan kesejahteraan seluruh umat manusia. Namun bila sebaliknya untuk membinasakan umat manusia seperti yang terjadi saat ini, maka bukanlah sebuah keunggulan. Namun kehinaan yang hanya mendatangkan kebinasaan.

 

Kembali ke tanah air. Bung Karno telah membawa Rakyat Indonesia kepada fase baru. Fase satu langkah lebih maju. Yaitu fase untuk menentukan nasib sendiri. Kemana negeri ini akan dibawa.

 

Namun sayang, rupanya belum tercipta upaya regenerasi yang baik. Sehingga setelah Bung Karno lengser, Soeharto dkk berhasil membengkokkan tujuan pendirian bangsa ini. Belanda memang sudah tidak ada. Namun soeharto melestarikan cara-cara diktator ala belanda dengan senantiasa membungkam suara rakyat sebagaimana belanda membungkam suara sukarno dan seluruh Rakyat Indonesia.

 

Soeharto tidak membawa langkah mundur, namun hanya menahan kran langkah maju Indonesia Raya. Pecahnya gelombang reformasi 1998, membuka kembali kran suara tuntutan keadilan rakyat. Gusdur dkk sempat memimpin meluruskan kembali cita-cita rakyat. Namun sayang dengan sikap Gusdur yang cukup radikal, membuat banyak orang geram dan menimbulkan keadaan politik yang labil. Dalam situasi labil tersebut muncul sosok domba-domba yang menyamar srigala genit. Saya bilang domba bak srigala genit, karena sesungguhnya mereka ini bukanlah kumpulan srigala yang gagah, ganas dan perkasa. Namun hanya gerombolan domba-domba tersesat yang bermimpi menjadi srigala. Kumpulan manusia-manusia jahat, namun tidak mempunyai kecerdasan yang mumpuni. Sehingga setiap gerak tipu dayanya bisa dibaca dengan gamblang. Dan menjadi bahan tertawaan banyak orang.

 

Setelah Gusdur dkk lengser, dua kali Rakyat Indonesia memberi kesempatan kepada domba-domba tersesat ini untuk memimpin. Namun yang ketiga kalinya tentu tidak akan main-main. Pemilihan umum 2014 benar-benar akan menjadi momentum bagi seluruh Rakyat Indonesia untuk melahirkan kepemimpinan yang akan meluruskan kembali cita-cita Bangsa Indonesia. Kepemimpinan yang sejati, bukan palsu.

 

Runtuhnya  kekuasaan partai politik pada pilkada dki 2012 adalah pertanda lonceng kematian partai politik pada pemilu 2014 sudah berbunyi. Dan Rakyat Indonesia akan membuktikan itu.

 

 

 

22.07.12. syafiih kamil

 

Iklan

Jakarta berkumis

BERKUMIS: berantakan, kumuh dan miskin. Begitulah ejekan dan sekaligus bentuk perlawanan Rakyat Jakarta terhadap kepemimpinan di Jakarta yang tidak menunjukkan tanda-tanda kemajuan. Dan malah sebaliknya semakin berantakan (macet, banjir), kumuh  dan miskin.

 

Kalau saya tidak boleh menerjemahkan idiom ini sebagai ejekan, bisa juga diterjemahkan sebagai pesan atau kritikan yang juga ditujukan kepada calon pimpinan jakarta yang akan terpilih pada tanggal 11 juli 2012 mendatang. Pilkada jakarta 2012 adalah momentum bagi Rakyat Jakarta untuk melahirkan kepemimpinan yang benar-benar serius ingin membenahi jakarta secara komprehensif.

 

Saya tidak begitu mengikuti dengan serius tahapan-tahapan pilkada jakarta. Namun saya sempat menyaksikan debat cagub pada hari ahad tanggal 24 juni 2012 di salah satu tv swasta nasional. Saya juga baru tahu pada saat itu bahwa ketua kpu jakarta adalah seorang anak muda dan seorang perempuan. Saya senang dengan hal ini. Menandakan bahwa anak muda dan perempuan semakin mendapatkan tempat yang lebih luas untuk  berpartisipasi lebih besar dalam ikut membangun demokrasi yang bermartabat.

 

Saya menangkap kesan bahwa demokrasi berjalan semakin baik. Sebagai warga jakarta dan warga Indonesia saya cukup puas menyaksikan debat publik cagub pilkada jakarta 2012.  Mungkin lebih tepatnya bukan debat, namun lebih kepada uji kompetensi. KPU sebagai wasit memang sudah selayaknya berdiri diatas semua kandidat termasuk diatas imcumbent. Dan benar-benar mengkondisikan lapangan tanding yang rata atau adil.

 

3 panelis yang cukup kritis, tajam serta objektif menandakan bahwa kpu benar-benar berupaya untuk menjadi wasit yang baik serta membantu masyarakat melahirkan kepemimpinan yang benar-benar mempunyai kompetensi yang mumpuni. Tidak hanya pandai beretorika namun juga mampu dan serius serta sungguh-sungguh melaksanakan janji atau ucapannya.

 

 

Jakarta dusun dari desa Indonesia

 

Bagi saya jakarta adalah sebuah dusun dari desa yang bernama Indonesia.

Dengan perkembangan tekonologi informasi yang begitu masif, menghilangkan batas-batas provinsi atau daerah. Apa yang terjadi saat ini di jakarta dalam hitungan detik pula tersebar ke seluruh penjuru. Kehilangan batas-batas inilah yang menyebabkan dan memungkinkan warga di suatu dusun bisa menjadi kepala dusun ditempat lain. Warga di satu daerah bisa menjadi pemimpin di daerah lain.

 

Kalau saat ini terjadi dalam satu negara, maka kedepan juga memungkinkan bahwa orang Indonesia bisa menjadi presiden di negeri-negeri asean lainnya dan tentu sebaliknya.

Bahwa masyarakat dunia akan menjadi satu bukanlah isapan jempol. Hal ini akan terjadi ketika manusia dimuka bumi sudah tidak lagi menganggap penting suku, agama, ras dan golongannya, namun lebih melihat kepada moral akhlaq sebagai makhluq yang satu. Sesuai tujuan penciptaan.

 

 

Bukan hanya macet dan banjir

 

Sebagai kota megapolitan multi budaya, jakarta sebanding dengan kota-kota besar dunia lainnya. Semua suku, agama, ras dan golongan berkumpul di Jakarta. Bukan hanya ras dalam nusantara saja, namun juga ras dari berbagai suku bangsa di dunia. Pendek kata jakarta adalah peradaban yang begitu kompleks.

 

Multikultural ini bukanlah kue baru. Bahkan ini adalah fitrah. Tuhan dengan sengaja menciptakan manusia berlainan satu sama lain. Bahkan keragaman ini sekaligus menjadi ujian terbesar bagi manusia. Yaitu ujian akhlaq untuk ber-toleransi. Berbuat baik kepada sesama golongan atau kelompok adalah biasa, namun ketika kebaikan itu merata kepada semua golongan, ini baru akhlaq yang luar biasa.

 

Menurut ahli sejarah Aggi Tjetje (keturunan Tiongkok),  ketika Nabi Muhammad SAW memegang kendali pemerintahan di Jazirah Arab pernah mengirim 3 pucuk surat.  Pertama ke kota Roma, kedua ke Konstantinopel dan ke Tiongkok. Isi surat tersebut sama yaitu  permohonan izin untuk menyebarkan islam. Romawi menolak, Namun Raja Tiongkok pada waktu itu menyambut hangat tawaran hubungan bilateral tersebut.

 

Setelah Nabi Muhammad SAW mendapatkan laporan bahwa Tiongkok memberikan izin dan bahkan menyambut hangat utusannya, pada saat itulah beliau memberikan statement “belajarlah kalian walau sampai ke negeri Tiongkok”.

 

Keterbukaan Tiongkok, keterbukaan Madinah kepada dunia luar di masa lalu harus menjadi spirit pembangunan Jakarta.

 

Permasalahan jakarta bukanlah hanya permasalahan macet, banjir, kumuh dan miskin. Ini hanya getaran. Akibat bukan sebab. Harus dicari benar-benar dimana sumber penyebab getaran tersebut. Blueprint tentang penanganan banjir, macet, kumuh dan miskin dan lain sebagainya sudah ratusan jumlahnya. Namun masalahnya dimana?

 

 

Belajar ke masa lalu

 

Kalau dimasa lalu mungkin kita bisa belajar dari Bung Karno dalam membebaskan Indonesia dari cengkaraman voc.  VOC adalah simbol kesewenang-wenangan pemilik modal (kapitalis) di masa silam. Pada waktu itu voc begitu kuat dan sebagian besar Sultan pimpinan daerah berada dalam ketiak voc. Sesuatu yang tidak mungkin untuk mengusir voc dari Indonesia bila menggunakan logika sederhana pada waktu itu. Namun Bung Karno dkk ternyata berhasil melakukan itu dan bahkan membikin Belanda terbelalak pada saat itu. Sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.

 

Ketulusan memperjuangkan hak-hak asasi manusia telah melahirkan kecerdasan dan keberanian luar biasa kepada diri Bung Karno dkk. Tidak ada kepentingan apa-apa kecuali kembalinya kemerdekaan bagi Rakyat Indonesia.

 

Kompleksitas masalah jakarta yang melebihi klasik dan kronisnya sistem voc membutuhkan kepemimpinan yang bukan hanya bersih, namun cerdas serta berani mengeksekusi keputusan-keputusan yang eksklusif dan berisiko tinggi. Harus berani melawan tekanan birokrasi nasional dan juga cukong-cukong jahat.

 

Diatas semua golongan

 

Jakarta bukan hanya membutuhkan penbenahan fisik, namun lebih penting dan mendasar adalah keteladanan moral akhlaq. Akhlaq adalah perilaku pengabdian makhluq kepada Khaliq. Makhluq tidak boleh berperlaku Khaliq, lancang menghakimi kelompok atau golongan lain.

 

Di negeri kaya seperti Belanda misalnya, pembagunan fisik bisa dibilang sempurna. Tidak ada banjir dan lalu lintas tertata dengan baik. Tidak ada ruang kumuh dan kemiskinan. Namun apakah lantas itu semua memberikan jaminan kesejahteraan? Kalau pemenuhan kebutuhan dasar biologis tentu melimpah, namun sama sekali tidak ada jaminan terpenuhinya kesejahteraan batin dalam arti yang sebenar-benarnya. Saya tidak bilang tidak perlu kaya raya. Namun lagi-lagi ini membuktikan bahwa materi bukanlah segalanya. Walaupun retorika ini banyak digunakan oleh orang-orang yang tidak mampu dan putus asa dalam meraih mimpi bisnis atau usahanya untuk menjadi kaya.

 

Terus kemana pembangunan jakarta harus diarahkan? Tentu masalah macet, banjir kumuh dan kemiskinan wajib menjadi prioritas. Untuk mengatasi ini tentu bukanlah sederhana. Namun ketika kepentingan peribadi dan golongan disingkirkan, maka akan melahirkan ketulusan dan keberanian membikin gebrakan. Sekalipun harus berhadapan dengan penguasa diatasnya (baca: penguasa nasional) dan mafia.

 

Namun tentu tidak berhenti disitu. Pembanguna Jakarta mesti melihat manusia secara holistik. Artinya dimensi nilai-nilai kemanusiaan seperti gotong royong, 3A (asah asih asuh) adalah suatu keniscayaan. Paguyuban-paguyuban persaudaraan antar golongan perlu distimulasi lebih serius lagi. Sehingga akan melahirkan rasa saling percaya dan kasih sayang.

 

Filsafat mens sana in corpore sano haruslah dirubah menjadi corpore sano in mens sana. Bukan dalam kecukupan materi ada kesejahteraan, namun dalam kesejahteraan itu sendiri ada kecukupan materi. Dan itu bersumber statement Tuhan.

 

Perubahan filsafat ini akan menjadikan Jakarta tetap berkumis. Bukan berantakan, kumuh dan miskin. Akan tetapi:  Bersih, taat Hukum dan Agamis. Bismillah.

 

(28.06.2012)

 

Pilkada pamekasan

Tak lama lagi pemekasan akan menggelar pemilihan m1 m2, masing-masing kelompok sudah membikin ancang-ancang baik dg samar-samar sampai terang-terangan. Semua sudah mempersiapkan strateginya masing-masing dengan teorinya masing-masing, bahkan tak mustahil menggunakan tim ahli pemenangan pilgub dan bahkan meng-copy paste strategi pemenangan pilpres demi suksesnya rencana besar masing-masing.

Dana milyaran rupiah sudah disiapkan untuk mempermulus prosesi kelanggengan tahta, dan yang tak kalah pentingnya hampir semua pondok pesantren telah latah dan ikutan membantu suksesnya pesta demokrasi tersebut. Alquran dan hadist telah terbukti gagal bagi mereka untuk menggiring kemajuan pondok pesantren. Dan saya kira penodok psantren dalam waktu yang tak lama lagi akan meninggalkan kitab-kitab kuningnya juga dan segera menjadi peondok pesantren modern demi belajar demokrasi sehingga bisa melanggengkan prosesi pesta demokrasi dengan baik, sesuai syahwatnya masing-masing.

Alquran sudah ketinggalan zaman, karena selama berpuluh-puluh tahun belajar alquran sama sekali tak mengahasilkan apa-apa dari segi materi. Keadaan pondok pesantren tetap kumuh dan lulusannya pun tak bisa bersaing dengan lulusan institusi pendidikan modern. Baru sejak ikutan panggung politik ada perubahan yang signifikan baik dari segi bagunan fisik maupun jumlah siswa, karena reward dari penguasa cukup signifikan pula sabagai bentuk terima kasih. Sepertinya Tuhan tak punya kemampuan apa-apa lagi bagi pesantren sehingga mereka merasa perlu berselingkuh dengan selain Tuhan alias penguasa/pemerintah.

Inilah sebetulnya saat yang ditunggu-tunggu oleh kaum kapitalis ketika pondok pesantren telah tergiur ikutan pesta demokrasi, bahkan mereka telah ikut terlibat langsung dalam pesta pemilihan pemimpin. Semua berbondong-bondong ikut berbeperan aktif dan bahkan tak segan-segan menjadi tim sukses masing-masing.

Dengan adanya lampu hijau dari pondok pesantren ini, maka pembangunan Madura menunjukkan tanda-tanda yang jelas, lihat pembangunan suramadu yang cukup prestisius telah megah kokoh membentang di selat Madura, pelabuhan besar juga sedang dibangun di pantai utara pulau Madura. PASTI PASTI PASTI ada agenda besar untuk membangun Madura (baca: penjajahan ekonomi), seperti halnya pembangunan papua lewat Freeport, NTT dg Newmont, dan masih banyak lagi contohnya dimana masyarakat akar rumput benar-benar merasakan efeknya dari pembangunan proyek-proyek tersebut.

Akankah Madura akan lantang melawan pembangunan prestisius dipulau garam ini? Apa gerangan agenda besar penguasa NKRI di Madura ini? Saya masih ingat ketika habibi sebagai utusan soeharto waktu itu langsung turun gunung ke Madura demi meyakinkan Madura akan pentingnya industrialisasi dan bahkan kabarnya akan disetting menjadi batam II. Namun rencana itu ditolak mentah-mentah entah karena alasan apa.

Kini rencana ekploitasi kekayaan alam Madura berada dalam babak baru dengan sinyal yang jelas pembagunan suramadu yang terbentang kokoh. Sinyal ini semakin menambah kecurigaan bahwa Madura memang banyak menyimpan kekayaan alam, dimana hanya sedikit orang yang mengetahui hal ini. Namun sesungguhnya kaum kapitalis masih getar getir juga dengan rakyat Madura yang terkenal “pengko”, walaupun sebagian besar pimpinan pondok pesantren sudah berada dalam ketiak para pemilik modal namun tidak semua rakyat Madura taqlid buta pada kiai, bahkan ada semacam gerakan pembaruan untuk kembali menggunakan akal sehat masing-masing, sehingga saya sendiri tak hawatir penjajajahan ala Freeport dkk tak akan terjadi di tanah kelaihiranku ini.

Kalaupun kaum kapitalis memaksakan kehendaknya dengan memperdaya bupati-bupati Madura (baca: pion-pion pemilik modal) untuk melakukan penetrasi kepada masyarakat saya kira saat ini bukanlah zaman soeharto lagi. Masyarakat Madura yang relatif tak mengenyam pendidikan formal, namun masih melek hatinya (odhi’ atena).

Inilah sesungguhnya modal utama perjuangan itu yaitu ketika jiwa telah melewati episode kegelapan (baca: hasad, hasut, iri dengki dkk) menuju jiwa yang hidup. Sebuah masyarakat dengan tingkat pendidikan yang tinggi sama sekali tak ada jaminan terlepas dari kejahiliyahan, bahkan dengan tingkat pendidikan formal yang tinggi itu bisa menjadi puncak kejahiliyahan itu sendiri. Jahiliyah tidak hanya berarti buta huruf, buta panca indera, namun yang paling berbahaya adalah buta hati alias kematian jiwa. Antara manusia berpendidikan tinggi dibanding manusia berpendidikan seadanya namun sama-sama buta hati, maka manusia “berpendidikan” lebih dangerous dampaknya, apalagi pejabat publik dan para kapitalis, ia akan lebih berbahaya dari buto sekalipun.

Analisis ini tak bermaksud membangun kebencian kepada sosok pribadi manusia namun lebih kepada identifikasi sifat-sifat iblis yang bisa melekat pada jiwa ini. Karena perjuangan berat sesungguhnya bukan peperangan terbuka melawan musuh secara fisik, namun melawan nafsu masing-masing. Dengan kesadaran penyucian jiwa, maka praktek-praktek jaihiliyah penindasan, pembohongan konstituen dan rakyat akan lenyap dengan sendirinya.

Selamat berjuang melawan nafsu syahwat dan raih kembali kesucian jiwa itu, niscaya kepemimpinan dajjal ini akan berakhir dengan sendirinya.Alfatihah.

syafiih kamil

2014 Pertarungan saudagar?

Menurut hitung-hitungan sederhana, Golkar cukup diatas angin, dan ini juga diperkuat oleh beberapa survey baru-baru ini, walaupun juga diragukan ke-valid-annya. Namun masyarakat masih trauma dengan Golkar apalagi dengan ikon Ical yang diragukan akan memenuhi harapan banyak orang. Ke-frustasi-an akan semakin memuncak bila model kepemimpinan saat ini (sby) ber-estafet ke golkar (Ical), apalagi ke PDIP (Mega), kecuali Tuhan berkenan memberika hidayah kepada “Golkar” atau “PDIP”.

Namun harapannya besar bahwa akan ada pemutusan mata rantai kepemimpinan jahiliyah ini. Optimisme untuk terus belajar tetap ada, tak mungkin rakyat (termasuk kompasianer) berpangku tangan membiarkan kebodohan ini, sehingga nasib Republik ini secara terus menerus akan jatuh kembali ke tangan-tangan kotor dan berdarah. Butuh keseriusan belajar membedakan antara warna-warna dalam kehidupan antara yang merah kuning hijau dan seterusnya. Karena sesungguhnya tipu daya gentanyangan setiap saat, dan siap mencaplok kepala-kepala yang jiwanya kosong.

Empat kali Indonesia melaksanakan suksesi kepemimpinan (ada pendapat bahwa Mega dan Habibi gak dihitung karena cuma melanjutkan), namun tak menampakkan tanda-tanda kearah perbaikan yang signifikan. Presiden pertama dari tehnokrat, kemudian disusul tentara, kyai dan tentara lagi, namun tetap tiada hasil yang bisa dibanggakan. Banyak yang berharap terhadap Gus Dur, namun ia dijegal oleh temen seperjuangan sendiri yaitu Amin rais dan Mega. Gus dur cukup menyumbangkan egaliterisme dalam transisi otoritarian ke demokrasi.

Kemudian menjadi penasaran sekaligus juga kekhwatiran oleh siapa Indonesia kedepan akan di nahkodai. Sby yang tentara ternyata menyisakan kekecewaan mendalam bagi masyarakat. Estafet selanjutnya entah dari mana, mungkin bisa jadi dari background entrepreneur. Mengapa?

Ingat profesi entrepreneur menarik untuk dicermati, saya teringat profesi Nabi Muhammad SAW yang juga seorang entrepreneur sejati. Adakah Tuhan kebetulan memilih dari background saudagar?

Saudagar berasal dari sanskerta, sau= seribu, dagar=akal. Ada daya fikir eskalatif dan kreatif. Ada tempaan tantangan berlapis yang membuat kepribadiannya matang. Tempaan itu membuat ia mamahami rumus, struktur dan sendi kehidupan dengan baik, sehingga lihai memainkan papan catur untuk memenangkan sebuah persaingan.

Tak terbantahkan bahwa pemilik modal adalah pemegang kendali dunia saat ini termasuk di Indonesia. Banyak yang menduga bahwa kapitalis terkuat saat ini dari bangsa yahudi kemudia disusul arab. Kita tahu sejak zaman dahulu bahwa yahudi begitu cekatan dalam berdagang. Dizaman materialisme sudah menjadi keniscayaan bahwa materi memegang kendali. Siapa yang memiliki materi berlebih, maka ia yang akan memainkan papan catur tsb. Baik mulai dari tingkat desa, kabupaten, provinsi, sampai tingkat nasional dan bahkan dunia para kapitalislah yang memegang kendali.

Saudagar yang saya maksud tentunya yang mempunyai track record yang mulia. Kenyataan saat ini tidak bisa  dipungkiri bahwa dunia usaha adalah dunia gelap dan bahkan berdarah-darah. Kita saksikan bersama bagaimana hegemoni barat memporak-porandakan tatanan masyarakat dunia dengan perang, karena motivasi minyak dan tambang-tambang lainnya. Hal ini tentu kita saksikan bagaimana persaingan bisnis tidak sehat menyelimuti negeri ini. Siapa kuat ia dapat, persis bak hukum rimba. Kehadiran pemerintah sebagai penyelenggara Negara juga selalu berfihak kepada pemilik modal, karena ada kepentingan untuk kelangsungan nasib kekuasaan dimana keyakinan filsafatnya bahwa harus ditunjang oleh modal yang cukup untuk melanggengkan tahtanya. Akibatnya rakyat lemah tak bisa berkutik apa-apa. Pemandangan ini begitu sangat memuakkan, semakin detil memahami segala bentuk penindasan, semakin tinggi adrenalin dalam tubuh.

Bicara pengusaha Indonesia tentu nama Bakrie merupakan bagian dari sederetan nama-nama pengusaha sukses, namun banyak orang meragukan track recordnya. Kemungkinan maju sebagai capres, Ical mempunyai cukup peluang karena ia juga ketua umum partai Golkar, namun perjalana ke RI 1, saya yakin tak akan mulus karena tak sedikit masyarakat yang begitu sinis dengan ikon Ical.

Dengan demikian mesti ada sosok alternatif. Saat ini semua mata memandang sosok Dahlan Iskan, menteri BUMN yang baru dilantik. Sebagai seorang pengusaha saya yakin ia tak kalah dari Ical, dan bahkan Dahlan banyak menorehkan tinta-tinta kebaikan dalam benak masyarakat. Kecakapan sang DI saya kira akan teruji dan terlihat setelah ia 1 tahun menakhkodai BUMN. Akankah ia juga berhasil membikin gebrakan besar seperti di PLN? Masyarakat semua menantikan. Bila berhasil maka secera otomatis popularitas dia akan semain meroket. Saat ini ia tak bediri dipartai manapun, namun tak menutup kemungkinan rakyat secara aklamasi mengusung DI sebagai capres utama dalam pemilu 2014, yang mau tidak mau parpol juga mesti ikut arus masif masyarakat.

Akankan DI vs Ical akan benar terjadi di 2014? Bila demikian saya yakin DI akan memenangkan pentandingan secara mutlak apalagi apabila ia didapuk dengan Mahfud MD, sebagai partner ahli hukum.

Salam kebangkitan INDONESIA RAYA.

Tak ada lawan, yang ada kawan sejati

Kita sering mendengar ungkapan “ tak kawan dan lawan sejati”, terutama dalam dunia politik kalimat ini telah menjadi kalimat suci yang “wajib” diamalkan. Kalimat ini tentu tak keluar serta merta jatuh dari langit. Tentu ini lahir dari  fakta empiris. Manusia bak srigala bagi manusia lainnya dan ini didukung oleh teori (baca: filsafat) Darwin bahwa manusia adalah makhluk materialisme, satu sama lain ada persaingan/pertarungan untuk mempertahankan kehidupan masing-masing bak hutan belantara.

Pemandangan ini tentu bisa dibuktikan dalam kehidupan kita sehari-hari, misalnya dikantor ada budaya saling sikut. Yang paling kontras ketika kita masuk kedalam dunia usaha lebih-lebih politik. Masing-masing mengeluarkan seluruh potensinya untuk memenangkan persaingan dengan cara tak beradab. Filsafat materialisme telah merasuki jiwa manusia. Perlombaan untuk berbuat kebaikan (fastabikul khoirat) berubah menjadi pertarungan syahwat materi. Tipu daya adalah senjata untuk memenangkan persaingan tersebut. Dalam politik, ilmu tipu daya dianggap sebuah keniscayaan, karena beranggapan pertarungan dalam dunia politik ibarat “perang”. Dalam situasi perang tipu daya adalah hal wajar untuk memenangkannya. Sebuah cara fikir linier yang membahayakan banyak orang.

Kita menyaksikan perlombaan tipu daya itu semakin terang benderang. Baik didalam negeri maupun dunia internasional. Jatuhnya pemimpin-pemimpin arab termasuk pemimpin libya yang harus jatuh dengan cara sangat mengenaskan. Jatuhnya pemimpin-pemimpin dictator arab tsb sesungguhnya bukanlah jaminan akan adanya kehidupan berbangsa dan bernegara lebih baik, karena sesungguhnya bangsa-bangsa besar khususnya barat mempunyai agenda tersembunyi untuk menguasai kekayaannya, persis seperti apa yang terjadi di tanah air.

Pemandangan ini terus berjalan hingga saat ini, namun semakin banyak manusia yang memahami dan sadar begitu buruknya karakter hipokrit/munafik ini.

Apakah memang manusia diciptakan untuk saling membantai? Saya kira ini pilihan. Karena sesungguhnya ketika Darwin membikin teori yang kemudian menjadi filsafat banyak orang, kemungkinan besar sahabat-sahabat dia adalah petarung-petarung dalam politik maupun bisnis, sehingga wajar ia mengeluarkan hipotesis dan akhirnya menjadi teori dan filsafat banyak orang bahwa manusia adalah lawan satu sama lain.

Seandainya pergaulan Darwin seimbang berjumpa dengan manusia-manusia baik, saya kira Darwin akan mengubah teorinya tersebut.

Sejak Nabi Adam AS sudah ada pertarungan hidup. Sebetulnya kurang pas dinamakan pertarungan hidup, karena sesungguhnya Habil sama sekali tak menempatkan Qabil sebagai lawan. Namun Qabil-lah dengan angkara murkanya dan sombong memaksakan kehendak untuk tetap menikah dengan saudaranya sendiri dimana Tuhan telah menetapkan bahwa saudara Qabil adalah haknya Habil. Dalam hal ini Qabil pada hakikatnya menentang Tuhan bukan Habil. Habil adalah sosok yang pasrah dan tunduk kepada ketentuan Tuhannya. Sama halya dengan orang-orang yang baik dan tulus, mereka tak menempatkan manusia-manusia “jahat” sebagai lawannya. Mereka senantiasa mencintai mereka sampai Tuhan memberikan keputusan diantara mereka.

Dalam kontek perpolitikan Indonesia sesungguhnya bukan tak ada orang baik di bumi pertiwi ini. Namun mereka bersabar bak Habil.  Tiap hari ditipu dan didzolimi hak-haknya oleh Qabil, namun respon habil tetap tegar, bekerja keras menyebarkan kebaikan hingga Tuhan memberikan keputusan kepada mereka berdua. Tuhan akan memberikan keputusan terbaik bagi pemimpin dan rakyat Indonesia. Bagi manusia Indonesia sejati tak ada lawan, yang ada hanyalah kawan sejati yaitu Tuhan semesta Alam.

2014 udah dekat….apa yang bisa kita lakukan?

Pemerintahan sby 2,5 tahun lagi akan berakhir. Parpol telah siap-siap dengan strateginya masing-masing. Dari sabang sampai merauke saya kira sudah cukup muak melihat perilaku partai politik yang hanya  mengeruk keuntungan bagi diri dan kelompoknya. Berteriak-teriak rasanya sudah cukup, karena sampai saat ini tak ada yang mendengarkan. Walaupun saya tetap curiga bahwa diam-diam rasanya Tuhan juga gak tega membiarkan rintihan jutaan rakyat Indonesia tersebut.

Reformasi sudah 13 tahun jalan, namun tak menunjukkan tanda-tanda perbaikan signifikan, bahkan kelihatan tambah mengerikan karena pemegang kekuasaan semakin terang-terangan membohongi rakyat, sebuah pemandangan yang sangat memuakkan. Namun syukur Alhamdulillah ditengah gelap gulita ini, Tuhan mengirimkan satu dua orang yang bisa sedikit mengurangi “putus harapan” rakyat. Keberanian dan kejujuran ala ketua MK, dan keberhasilan Pak Dahlan meminpin PLN bisa menjadi obat keputusasaan banyak orang. Ada juga sosok lain yang cukup berani walau belum sepenuhnya teruji.  Saya yakin banyak contoh-contoh keberanian menegakkan kebenaran namun tak terekpose media.

Diluar lingkaran kekuasaan sesungguhnya juga cukup banyak sosok hebat dan sangat mencintai negeri ini begitu tulusnya. Saya ambil contoh sosok Muhammad Ainun Nadjib. Perjuangan beliau jarang terekspose media, padahal akselerasinya untuk mengubah paradigma masyarakat bisa dibilang luar biasa dahsyat. Beliau berkeliling menemani masyarakat untuk berbagi ilmu nur pencerahan. Dan bahkan bila ada masalah-masalah besar dalam masyarakat beliau turun gunung menemani mereka. Banyak contohnya dan saya kira temen-temen kompasiana mengetahui hal tsb.

Sepertinya memang kita mesti mempunyai keberanian untuk mendapuk orang-orang yang mempunyai integritas tersebut untuk menjadi lokomotif Indonesia baru. Mereka adalah orang-orang tawadhu dan tak mungkin meminta jabatan atau kekuasaan apapun kecuali kita seluruh rakyat yang ingin perubahan membaiatnya untuk menjadi pemimpin. Pertolongan Tuhan tak akan jatuh dari langit, namun mesti ada usaha sungguh-sungguh dari segenap rakyat Indonesia paling tidak yang yakin akan adanya perubahan yang lebih baik.

Saya kira tak ada waktu untuk berpangku tangan, kita mesti benar-benar mempersiapkan dengan sungguh-sungguh lahirnya Indonesia baru.  Bila ada ide-ide segar monggo kita rembug bareng-bareng. Saya berharap dalam waktu yang tak lama lagi akan ada kongres rakyat Indonesia yang benar-benar lahir dari bawah , lahir dari sekumpulan oranf yang tulus bekerja untuk sebuah perubahan yang lebih baik.

Ingat Pak Dahlan, ingat Nabi Yusuf….. sinyal penyelamatan dari Tuhan

Keputusasaan manusia Indonesia bisa dibilang sudah memuncak. Berkali-kali memilih pemimpin namun lagi-lagi dihianati , yang ada hanya tipu daya. Memang sulit membuktikannya, namun se-abrek permasalahan besar yang tak pernah tuntas ujung pangkalnya cukup menjadi sinyal terang adanya kebohongan yang didesain oleh penguasa. Survey membuktikan baru-baru ini bahwa kepercayaan masyarakat terhadap penguasa RI saat ini semakin menipis dan cendrung hilang. Kebohongan atau tipu daya semakin jelas dibaca bukan hanya oleh kelompok manusia “terdidik” namun masyarakat dikampung-kampung sudah merata bisa merasakan bau tak sedap itu.

Keadaan ini menuai kegelisahan jiwa sby dan ia meresponnya dengan resuffle kabinet. Tentu banyak analisis mengapa sby melakukan hal tsb. Saya termasuk yang meyakini bahwa aksi sby ini salah satunya adalah untuk merespon kegalauan masyarakat dan ia sadar bahwa cukup “NGERI” bila ia nantinya harus dihujat bak soeharto, karena 3 tahun lagi ia akan menjadi manusia biasa lagi. sby ingin sekali meninggalkan bau harum walau tak semerbak, yang akan menjadi penetralisir bau bangkai yang berceceran dimana-mana. Karena saat ini bangkai-bangkai itu udah tercium apalagi nanti setelah ia lengser.

Satu hal yang dia tak boleh main-main adalah pengurusan lumbung nasional, walau dalam hal ini saya tak bilang bahwa aspek lain tak penting. Pengelolaan lumbung nasional (BUMN) secara benar akan mendatangkan berkah luar biasa. Dan Alhamdulillah ia cukup cerdik dan bisa jadi ia mendapat ilham dari Tuhan dengan memilih Pak Dahlan untuk mengurusi BUMN yang sudah membusuk. Dengan kehadiran pak Dahlan dalam kabinet menurut penerawangan saya bahwa akan menjadi salah satu sumber bau harum pemerintahan sby setelah ia nanti lengser.

Mendengar pak Dahlan diangkat menjadi menteri BUMN, saya spontan teringat peran Nabi Yusuf ketika mendampingi raja mesir waktu itu untuk mengurusi katahanan lumbung nasional, berhubung Mesir akan menghadapi masa paceklik panjang (krisis ekonomi), maka dari itu harus mempersiapkan lumbung negara yang memadai, seperti halnya dunia saat ini terus menghadapai krisis ekonomi global yang juga bisa berdampak bagi Indonesia. Hal ini tentu bisa dicegah salah satunya dengan pengelolaan BUMN dengan baik. Tugas ini sangat berat berhubung kultur dalam BUMN sudah sedemikian rusaknya. Maka dari itu butuh orang tidak hanya cakap dan pintar namun keberanian untuk mengubah kultur yang membusuk. Bukan hanya kepandaian dalam korporasi namun diatas itu butuh sosok yang mempunyai integritas yang benar-benar mengabdi kepada rakyat (Tuhan) atau manunggaling kawulogusti. Dan sepertinya pak Dahlan mempunyai kesaktian itu untuk membenahi BUMN yang telah menjadi sarang srigala tsb. BUMN adalah aset Negara yang luar biasa dahsyat.

Masuknya orang yang berfihak kepada kebenaran satu persatu dalam jajaran penguasa ini, menandakan bahwa Tuhan akan menyelamatkan Indonesia dan bukan sebaliknya. Dan bisa jadi 2014 tak akan ada pemilu lagi namun Tuhan akan mengambil alih sepenuhnya kekuasaan di Indonesia dan bumi pada umumnya dengan menggantikan kepemimpinan saat ini yang dipenuhi dengan tipu daya (dajjal), dan harapannya tentu tanpa huru hara yang menakutkan.
Alfatihah.